Apa Salahku

Apa Salahku
Eps. 112


__ADS_3

“Radit sudah pergi” ucap arif setelah cukup lama diam terpaku


“ini semua gara-gara kamu, pasti radit akan berfikir macam-macam tentangku” rara yang kesal sedang


memukul-mukul lengan suaminya


“aduh, sakit sayang, kenapa memukulku?” arif mengadu kesakitan menahan tangan istrinya yang sedang


berusaha memukul-mukulnya lagi, “hentikan oke, aku minta maaf, lagi pula sudah terlanjur bukan” kini tubuh arif berangsur mendekap erat tubuh istri nya “sudah ya, aku minta maaf” ucapnya lembut mengelus-ngelus punggung istrinya untuk menenangkan nya.


“tapi aku malu, lagi pula kenapa juga harus membuka bajumu, radit juga salah, kenapa masuk tidak mengetuk pintu dulu” rara yang kesal melepas paksa pelukan suaminya lalu bersedekap membelakangi tubuh arif. “cepat pasang bajumu lagi” lanjutnya masih menggerutu kesal.


“tidak mau” tantang arif dengan tegasnya


“kenapa tidak mau” rara sudah terlihat putus asa membujuk suaminya, “eh, eh, kenapa mala di lepas


baju nya” bahkan arif kini sudah bertelanjang dada melepaskan semua penutup di bagian atas tubuhnya.


“aku tidak mau, lihatlah kemari dulu” arif berusaha membujuk dan memaksa istrinya untuk menghadap kearahnya “lihatlah dulu tubuhku ini, buka matamu sayang” rara yang enggan masih memejamkan erat matanya, saat suaminya itu sudah berhasil memaksa tubuhnya untuk berbalik ke arah nya.


“aku tidak mau melihatmu, sebelum kau memasang bajumu kembali” ucapnya sesekali rara mengintip melalui

__ADS_1


celah jari tangannya. “sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?”


“aku hanya ingin kau mengolesi salep ini di tubuhku, semalam kau mencakar ku sangat dalam, dan ini


lihat bekas gigitanmu” arif langsung mengarahkan telapak tangan istrinya untuk menyentuh bekas gigitan tepat di dadanya saat melihat rara yang masih enggan membuka matanya “ini sangat perih sekali, apa kau tega membiarkanku kesakitan karena bekas cakaran dan gigitanmu ini, setidaknya bertanggung jawablah, lihat ini bekas cakaran dan gigitanmu menyebar di bagian dada terutama di area punggungku” arif mendesis kesakitan


“i.ini kenapa bisa seperti ini, kenapa ada begitu banyak memar” ucap rara sembari memegang tubuh


suaminya yang terdapat memar di mana-mana


“ya ini karenamu” ucap arif “sudah jangan di bahas, tunggulah di sini dulu” ucap rara dengan wajah kini sudah bersemu merah, kemudian berlalu pergi untuk mengunci pintu ruangan suaminya itu, ia takut jika sewaktu-waktu ada karyawan yang tiba-tiba masuk seperti Radit tadi.


“kemarikan salepnya” setelah mengambil salep, kini rara menuntun suaminya untuk duduk di sofa ruangan nya, tentu, dengan senang hati arif akan melakukannya


“sudah” ucapnya masih sedikit malu, rara menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat kejadian semalam antara dirinya dengan arif.


“terimakasih sayangku” tanpa ragu arif langsung mendekap erat tubuh istrinya tidak menghiraukan salep yang baru saja menempel di tubuhnya, tentu saja hal itu membuat rara sontak memprotes dan sedikit murka, karena membuatnya harus kembali mengolesi tubuh suaminya dengan salep lagi.


"jangan peluk lagi, tunggu sampai salepnya mengering dulu" ancam rara saat melihat suaminya itu ingin kembali mendekapnya.


 

__ADS_1


*****


sekarang tepat pukul 15:00, sebelum pergi ke tempat tujuan, arif terlebih dulu mengajak istrinya itu ke salon, rara sebenarnya enggan tapi suaminya itu terus memaksa akhirnya ia menurut saja.


Rara sendiri merasa bingung, sebenarnya kemana suaminya ini akan membawanya pergi, karena sedari tadi arif hanya mengedikkan bahunya setiap kali dirinya bertanya


arif di buat semakin jatuh cinta tatkala melihat penampilan istrinya yang terlihat sangat anggun dan cantik, dengan rambut  capol dan di gulung tinggi, dan sedikit make up tipis di wajahnya , terlihat rara mengenakan Gaun selutut berwarna abu-abu pun dengan arif yang menggunakan setelan jaz yang senada. arif tak henti-hentinya mengulas seulas senyum di bibirnya apalagi istrinya itu juga terlihat membalas senyumnya.


"sayang jangan tersenyum terus, nanti aku bisa diabetes karenamu" kening rara berkerut dalam mendengar ucapan suaminya. lalu kemudian terkekeh saat menyadari maksud ucapan suaminya itu.


setelah melakukan pembayaran di kasir, arif mengajak istrinya untuk makan terlebih dahulu, ya karena memang rara merasa lapar, sepanjang perjalanan menuju retoran arif menggerutu kesal, saat menyadari beberapa pria dengan terang-terangan menatap haus ke arah istrinya itu,


"jangan kegenitan, kau sudah bersuami jadi jangan berani-berani melirik apalagi memperlihatkan senyummu itu terhadap pria lain" ucap arif kini dengan posesifnya ia merangkul dengan mesra pinggang istrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


hai teman-teman, jangan lupa terus Support Novel ini ya, dengan cara tekan tombol Like dan Votenya, jika berkenan kalian juga bisa tinggalkan kritik dan saran yang membangun


Happy Reading


__ADS_2