
"kenapa tidur di sini hem" ucap arif lembut, namun tak ada sahutan dari rara, melainkan hanya ada isak tangis yang di tangkap oleh telinga arif, membuat arif merasa cemas dan takut secara bersamaan, takut jika terjadi sesuatu kepada rara.
"rara kenapa? apa yang terjadi? apa kau sakit? kalau kau sakit, katakan padaku? tanya arif secara berturut-turut, namun tetap tidak ada sahutan dari rara, membuat arif dengan segera membalikkan badan rara menghadapnya dengan sedikit paksaan namun dengan hati-hati.
namun wajah rara terhalang oleh helaian rambut panjang yang membingkai wajah nya sehingga membuat arif tidak bisa melihat wajah istri nya secara langsung, dengan hati-hati arif menyelipkan helaian demi helaian rambut istri nya, di tangkup nya pipi istri nya dengan ke dua tangan nya dan di tatap nya lekat wajah istri yang selama ini ia sudah sia-siakan dan sakiti namun sudah banyak berkorban untuk nya, dan arif dapat melihat banyak luka dan derita tampak jelas tergambar di wajah istri nya itu
namun secepat mungkin rara melepas paksa tangkupan tangan arif dari wajah nya dan kembali membalikkan wajah nya membelakangi arif
"rara" panggil arif dengan nada putus asa dan mengusap wajah nya kasar
"tolong keluarlah, saya ingin istirahat, saya lelah" ucap rara, kembali menggunakan kata formal lagi
"kalau begitu ikutlah keluar, ayo kita pindah ke kamar ku" ucap arif
"tidak, lebih baik saya tetap di sini, karena sedari dulu tempat saya memang di sini, dan hanya pantas di sini" ucap rara tanpa beban
__ADS_1
"tidak, aku tidak akan pindah jika kau juga tidak ikut pindah dengan ku, dan kalau pun kau masih ingin di sini, aku juga akan tetap di sini" ucap arif tegas tak ingin di bantah
"terserah, tapi bukan salahku jika kau akan kembali sakit" ucap rara lalu dengan segera memjamkan mata nya erat-erat
dan malam itu untuk yang ke sekian kali nya mereka tidur di 1 ranjang yang sama, dengan posisi hampir tak berjarak
*****
sedikit pancaran sinar matahari mengganggu arif, sehingga membuat ia terbangun dari tidur nya, arif membuka kelopak mata nya secara perlahan, arif tersenyum bahagia, karna pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik istri nya yang saat ini tengah berbaring menghadap nya, namun masih di batasi oleh satu bantal guling.
setelah itu arif beranjak bangun karena ingin membuatkan sarapan untuk rara, karena ART yang arif pekerjakan di rumah nya sengaja ia liburkan, tentu saja alasan nya karna ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri nya
hanya nasi goreng dan telur dadar beserta roti yang di beri selai yang arif bisa buat untuk istri nya, dan tak terasa sudah 30 menit lebih arif habis kan waktunya untuk membuat sarapan untuk rara, namun rara belum juga menampakkan batang hidung nya, membuat arif berinisiatif membawa makanan kembali ke kamar kecil yang ia tempati semalam
arif iyang melihat istrinya yang masih terlihat tertidur lelap, rasa nya tak tega jika harus membangunkan istri nya, perlahan ia letakkan nampang berisi makanan yang ia bawa di atas meja kecil, lalu kembali ia ikut merebahkan diri nya di samping istri nya, dengan ragu-ragu arif menyingkirkan guling yang membatasi diri nya dengan istri nya, dan dengan berani tangan nya ia lingkarkan ke tubuh istri nya, kemudian ikut memejamkan mata nya sebelum ia meninggalkan ciuman lembut di pucuk kepala istri nya, tak perduli apa reaksi rara ketika ia terbangun, intinya saat ini arif hanya ingin mendekap tubuh istri nya dan hanya ingin selalu berada dekat dengan istri nya.
__ADS_1
.
.
.
jangan lupa terus support karya author ya teman-teman, berikan LIKE dan VOTE mu serta komentar-komentar postive kalian untuk author ya
__ADS_1
sebelum nya author pengen minta maaf karna jarang update, ini di karenakan ada pekerjaan yang benar-benar author tidak bisa tinggalkan dan emergency, sekali lagi author minta maaf ya teman-teman