
Entah mengapa semenjak kejadian di ruangan dokter kandungan itu,
hubungan arif dan rara menjadi semakin canggung, ya sudah 1 minggu, hal itu
membuat arif sedikit menjaga jarak dengan istri nya, tapi meskipun begitu arif
selalu perhatian dan selalu menanyakan keadaan istri nya itu lewat laura.
Laura saja sampai terheran-heran, kenapa kakak nya itu
selalu menanyakan keadaan istri nya lewat diri nya, kenapa tidak bertanya
langsung saja, tak jarang juga rara selalu menanyakan keberadaan suami nya itu
kepada laura
Ya arif selalu sengaja menyibukkan diri nya untuk bekerja di
kantor, karena ia tidak mau membuat istri nya itu merasa tidak nyaman dengan
kehadiran nya, bahkan setiap pagi ia selalu sengaja bangun dan berangkat
pagi-pagi untuk menghindari istri nya itu, bahkan untuk sarapan pagi saja hanya
terhitung beberapa kali saja itu pun ketika ada laura.
Tak hanya itu saja, bahkan arif selalu pulang larut malam
ketika istri nya itu sudah tidur terlelap, hal itu membuat rara menjadi memikirkan
stigma-stigma aneh tentang suami nya itu, namun berbeda dengan hari ini, arif
__ADS_1
sengaja pulang lebih cepat, karena merasa kondisi tubuh nya sedang tidak sehat.
Sedangkan rara yang melihat suami nya itu yang baru saja
tiba di ruang tamu, segera menghampiri nya berdiri di samping nya
“kau sudah pulang”? tanya rara tak lupa ia menyematkan seulas senyum di wajahnya
“hmm” balas arif dengan suara datar nya, lalu segera berlalu
melangkah meninggalkan istri nya
Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba arif berbalik dan
kembali di hampiri istri nya itu yang masih terlihat diam terpaku di tempat
nya, dengan tatapan penuh nanar ke arahnya.
Diraihnya tangan istri nya itu dengan lembut, lalu dituntun nya untuk mengikuti diri nya, ya
dan lelah, setiba nya di kamar arif langsung merebahkan diri nya di tempat tidur.
“tolong temani aku” ucap nya memelas saat merasakan rara yang hendak melepaskan genggaman tangan nya, namun karena tidak ada nya respon dari istri nya itu, arif segera menarik istri nya itu dengan sedikit paksaan lalu di peluk nya dengan erat.
“aku merindukan mu, benar-benar merindukan mu” ucap arif lirih dengan mata yang terlihat terpejam
“kau bilang merindukan ku, tapi akhir-akhir ini kau menghindari ku” ucap rara dengan raut wajah sedikit kesal, mendengar ucapan istri nya, sontak membuat mata arif segera terbuka
“aku tidak menghindari mu, hanya saja aku tak ingin membuat mu merasa terganggu dengan kehadiran ku” ucap arif membuka kelopak matanya menatap mata istri nya itu dengan tatapan dalam
“hee maksudmu?” tanya rara
__ADS_1
“akuuu….” Arif segera berlari sambil menutup mulut nya menggunakan tangan karena tiba-tiba ia merasakan perutnya sangat mual, bahkan ia kini sudah merasakan cairan yang sudah berada di tenggorokan nya, segera
arif menumpahkan semua cairan tersebut di atas wastafel.
“ariff, kau kenapa?” tanya rara yang kini sudah berada dibelakang suami nya itu, bahkan ia ikut membantu memijat-mijat tengkuk suami nya itu tanpa merasa jijik sama sekali,
"aku tidak apa-apa, sebaik nya keluar lah, aku akan membersihklan ini semua" ucap nya lemah, sembari menunjuk ke arah baju dan lantai yang terlihat ada muntahan nya.
"tidak, tidak, kau terlihat pucat sekali, biar aku saja yang membersihkan nya" ucap rara tidak mau di bantah
"tapii"
"sudah biar aku saja yang membersihkan nya, sekarang lepas baju dan celana mu" tangan rara kini sudah menarik kerah baju suami nya berniat ingin melepaskan kancing baju kemeja nya itu, namun gerakan tangan nya tiba-tiba berhenti saat melihat sebagian penampakan dada bidang milik suami nya itu, tanpa sadar rara menggeleng-gelengkan kepala nya, membuat arif terkekeh lemah melihat ekspresi wajah istri nya yang tiba-tiba menjadi panik dengan mata yang terlihat membola penuh.
"aku akan membuka nya sendiri" ucap arif yang ingin mengambil alih pengait kancing nya
"jangan, tidak usah, ehmm maksudku"tolak rara yang merasa bingung
"apa nya yang jangan?, aku hanya ingin membantumu melepaskan nya" ucap arif sedikit mengernyitkan alisnya heran,hal itu sontak membuat situasi di dalam kamar mandi tersebut menjadi canggung dan ambigu
"ya sudah kalau begitu" ucap rara yang kini sudah membelakangi tubuh suami nya,ia benar-benar merasa malu bercampur kasihan, malu karena kelakuan ambigu nya tadi, dan tidak tega melihat wajah suami nya itu yang terlihat begitu pucat, padahal kan niat nya ingin membantu suami nya itu di situasi yang kurang tepat.
"aku sudah melepaskan nya" ucap arif, mata rara terbelalak lebar melihat tubuh kekar milik suami nya itu yang kini bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer polos hitam memperlihatkan sedikit tonjolan di area inti nya, cepat-cepat rara mengalihkan pandangan nya.
"ya sudah segeralah beristirahat, biar ini aku yang membersihkan nya" rara berkata setenang mungkin, tak mau membuat suami nya itu berpikiran aneh tentang nya.
.
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa tekan tombol LIKE DAN VOTE kalian ya untuk author