
Arif begitu frustrasi ia bingung dimana ia harus mencari keberadaan istribnya, sampai ia memutuskan untuk pulang karena ingin mengecek sesuatu
Sesampainya di rumah, arif tergesa-gesa ke ruangan kerjanya untuk mengecek CCTV di laptop nya, ia berharap semoga ada petunjuk dari CCTV tersebut.
Sebelum pergi dari rumahnya, terlihat rara sempat berbincang dam bercengkrama dengan pelayan yang ada di rumahnya, segera ia mencari handponnya untuk menelpon pelayan tersebut untuk menanyakan ke mana istri nya itu pergi, karena sebelum mengantar orang tuanya ke bandara, pelayan tersebut meminta izin kepada arif untuk pergi keluar sebentar setelah semua pekerjaan nya selesai
“halo, bibi, maaf mengganggu waktumu, apa bibi tahu ke mana istri ku pergi?
“maaf tuan, tadi nyonya meminta izin pergi keluar sebentar, nyonya bilang ada yang harus nyonya urus di kantor”
Setelah berterimakasih kepada pelayan tersebut, arif langsung memutuskan sambungan telpon nya, dan segera melajukan mobil nya dengan kencang ke arah kantor.
Tubuh arif seketika bergetar, bersamaan dengan itu ia menjatuhkan surat di tangan nya, ya, surat pengunduran diri dari istrinya, yang ia dapat dari andi salah satu tangan kanan nya.
***
Sudah seminggu arif melewati hari-hari nya tanpa istri nya, ia tidak tahu di mana lagi ia harus mencari istri nya, hidup nya terasa hampa dan juga hambar, selama seminggu ini, ia juga lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk melamun, merenungi semua kesalahan nya terhadap istri nya itu,sampai-sampai melupakan kesehatan nya,bahkan jarang juga arif tak makan karena terus-menerus memikirkan keadaan istri nya di luar sana.
teman-teman arif pun tak tinggal diam, mereka semua turut membantu mencari rara, karena bagaimana pun, mereka juga menjadi penyebab akan kepergian rara.
berulangkali arif mencoba menghubungi nomor ponsel istri nya, namun lagi-lagi hanya suara operator yg ia dengar, ia ingin menelpon keluarga istri nya tapi ia tidak tahu satu pun nomor ponsel keluarga istri nya itu, ia benar-benar bodoh, pikir nya
"shit" umpatnya, arif mengusap kepalanya dengan frustasi
__ADS_1
baru saja arif ingin bergegas pergi dari kursi pijakan nya, namun niat nya ia urungkan tatkala merasakan getar ponsel dari saku celananya,
tertera nama ibu nya di layar ponselnya tersebut, sebelum menjawab telphone dari orang tuanya, arif menghela nafas nya berat
*"halo nak, bagaimana kabar mu di sana? *
"kabar arif baik, bagaimana dengan ibu?
"kabar ibu juga baik, oh ia nak, bagaimana keadaan istrimu, kenapa nomor ponsel nya sulit sekali di hubungi, istrimu baik-baik sajakan? suara nya terdengar cemas
lama arif terdiam, arif tak punya pilihan, kecuali menceritakan semua nya, menceritakan kepergian istri nya dan hal itu sontak membuat sang ibu tak tenang.
*"ibu tidak mau tahu, kamu harus segera menemukan istrimu, seandainya sikapmu dari dulu baik terhadap istrimu, pasti istrimu tidak akan pergi," *ucap sang ibu terdengar marah, setelah itu langsung memutuskan sambungan telphone nya.
arif terlihat begitu frustasi, ia benar-benar kacau, jiwanya terguncang akan kepergian istri nya yang tak tau kemana, di tambah lagi masalah ibu nya yang sepertinya sangat marah dan kecewa atas sikap nya, ia meninju-ninju tembok yg ada di ruagan tersebut untuk meluapkan emosinya, hingga tangan nya terlihat berdarah, namun ia tak perduli, ia terus menerus meninju tembok tersebut, bahkan tak memperdulikan rasa sakit yang ia rasakan
"apa yang kau lakukan, jangan bertindak bodoh seperti ini" teriak radit yang terlihat baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, ia langsung menghentikan aksi gila sahabat sekaligus atasan nya itu yang dapat menyakiti dirinya sendiri.
"lepaskan aku brengsek, aku pantas mendapatkannya, tidak, bahkan luka ini tak sebanding dengan yang aku torehkan ke rara, jadi jangan halangi aku" bentak arif, ia masih saja berusaha meninju tembok yang terhalang oleh tubuh radit
"hentikan, dasar bodoh, kau pikir dengan menyakiti dirimu sendiri, akan mengembalikan rara" bentak radit emosi, ia memegang ke dua lengan sahabatnya itu berusaha menyadarkannya dengan mengguncang kuat lengan arif.
"lalu apa yang harus aku lakukan, aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi,,,," arif tak melanjutkan ucapannya, melainkan suara isak tangis yang di tangkap oleh radit, di iringi dengan tubuh arif yang mulai luruh terjerembah kelantai, terlihat arif menyandarkan dan menundukkan kepalanya di tembok,
__ADS_1
baru kali ini radit melihat sisi rapuh dari arif, penampilan arif seminggu ini benar-benar begitu kacau apalagi hari ini, terlihat bercak dara bercecer di pakaian nya, dan juga tubuh dan wajahnya, radit menghela napasnya berat l alu menepuk pelan bahu arif
"apa kau sudah mencoba mencari rara di kampung halaman nya" tanya radit
pertanyaan dari radit, seketika menyadarkan arif, dan langsung menatap kearah radit
"kau benar, aku belum mencari rara di kampung halamannya, aku harus kesana" ucap arif dengan penuh harapan
"kau tidak boleh pergi dengan kondisimu yang seperti ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi, setidaknya pulihkan kondisimu terlebih dahuli" ucapan radit seketika menghentikan niat arif.
"yang harus kau lakukan sekarang adalah pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kan kondisimu dan mengobati lukamu, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit sekarang juga, dan aku juga tak menerima penolakan hari ini, jadi kau harus mengikuti perkataan ku" ucap radit lagi lalu bergegas mengajak dan memaksa arif ke rumah sakit, meskipun berulang kali arif menolak nya, namun radit tetap saja kekeh memaksa sahabat nya itu
rasanya percuma arif membantah ucapan sahabat nya yg cukup keras kepala itu, karna ia memang merasakan tubuh nya sedikit limbung dan tidak baik-baik saja, jadi terpaksa ia menuruti perkataan radit untuk memeriksakan dirinya ke dokter, meskipun hatinya menolak.
***
Pagi ini lagi-lagi, arif hanya bisa menghela napasnya berat, ia memutuskan akan pergi langsung ke kampung halaman istrinya untuk mencari keberadaan istri nya tersebut, ya meskipun kondisi nya masih belum sembuh total, terutama rasa sakit yang menjalar di area punggung dan buku-buku tangan nya yang terlihat terbungkus oleh perban setelah memeriksakan dirinya ke dokter dan di suruh beristitrahat selama 3 hari kemarin, namun tetap saja arif tak mengindahkan nasihat sang dokter, arif tetap kekeh pergi hari ini tanpa sepengetahuan teman-teman nya, yang arif pikikan, arif harus segera menemukan keberadaan istrinya itu, ya dan semoga saja istri nya itu berada di sana, harap nya.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa terus dukun novel ini ya teman-teman dengan cara tekan tombol LIKE dan VOTE nya ya 😇
maafkan author juga yang baru bisa update sekarang, he he he