Apa Salahku

Apa Salahku
Eps. 98


__ADS_3

Kilauan sinar matahari yang menembus tirai jendela sedikit mengusik ketenangan arif dari tidur nyaman nya, perlahan-lahan kelopak mata nya itu terbuka, ia terlihat menyematkan seulas senyum saat melihat seseorang yang


saat ini berada erat dalam dekapan nya, ia bahkan tak segan-segan, langsung menghujani wajah istri nya itu dengan banyaknya kecupan-kecupan kecil di wajah teduh milik rara nya itu.


Hal itu sontak membuat tubuh rara sedikit bergeliat kecil, namun tak urung membuat nya kembali tertidur lagi, hal itu mungkin karena pengaruh hormon kehamilan istri nya, pikir arif


sebenarnya Arif ingin membangunkan istri nya tapi melihat istri nya yang tertidur begitu pulas membuat nya  jadi tak tega membangunkan istri nya itu, pelan-pelan ia melepaskan dekapan tubuhnya dari tubuh istri nya, arif sendiri ingin berinisiatif mau membuatkan sarapan untuk rara,


cepat-cepat ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya itu lalu bergegas turun untuk membuatkan sarapan sederhana untuk istri nya itu, namun sebelum pergi ia kembali menghujani wajah istri nya itu dengan kecupan-kecupan lembut nya, tak lupa juga ia mengecup lembut dan lama perut istri nya yang sudah terlihat sedikit membuncit.


“baik-baik di perut mama mu ya nak” gumam nya kecil, terlihat mata arif sedikit berkaca-kaca,


namun secepat kilat ia usap menggunakan tangan nya


Ya saat ini arif sedang sibuk berkutat di dapur menyiapkan beberapa menu sarapan seperti nasi goreng seafood, telur dadar, roti gandum isi sandwich, dan juga susu ibu hamil tak lupa ia juga menyiapkan beberapa buah-buahan segar yang masih tersedia di dalam lemari pendingin, padahal tadi Bi inah sudah menawarkan diri  tapi arif tetap kekeh mau mebuatkan sarapan untuk istri nya itu


“biar arif saja bi, bibi bisa mengerjakan pekerjaan yang lain nya saja” ucap arif, tangan nya terlihat cukup cekatan


“tapi tuan, ini kan pekerjaan saya, saya tidak mau tuan kerepotan, jadi biarkan saya saja ya tua” ucap nya merasa tidak enak


“sudah, bibi tidak perlu merasa kerepotan, lagi pula ini mau arif sendiri, jadi arif mohon biarkan arif yang memasak untuk hari ini” ucap arif sambil mengaduk nasi goreng di atas wajan.


“kalau begitu saya permisi mau kebelakan dulu” ucap nya lalu


segera berlalu setelah arif menganggukkan kepala nya


Sementara itu di dekat pintu dapur, rara yang baru saja tiba, kini tatapan nya berfokus mengarah ke arah suami nya yang terlihat serius sedang berkutat di dapur, rara bahkan tidak menyangka kalau suami nya itu bisa


memasak, ia terus memperhatikan suami nya tanpa berkedip


“wahh, bahkan di dapur dia terlihat begitu tampan” gumam nya pelan, sambil bersedekap dan bersandar pada daun pintu,

__ADS_1


saat arif terlihat tengah sibuk mengocok telur, tiba-tiba rara melangkah berjalan dan mendekap dari belakang tubuh suami nya, tanpa aba-aba ia langsung memasangkan apron dan langsung mengikat kan tali di belakang leher suami nya yang memang belum sempat di gunakan oleh arif, hal itu sontak membuat arif kaget terkesiap dan tiba-tiba membalikkan badan nya menghadap istri nya.


jarak keduanya begitu dekat, ya meskipun hubungan mereka berdua sudah membaik namun, perasaan canggung masih melanda kedua nya, apalagi mereka berdua terlihat begitu gugup, bahkan terlihat begitu kaku, namun dengan sigap arif langsung mengubah ekspresi keterkejutan nya, ia bahkan tak sungkang-sungkang langsung melingkarkan ke dua tangan nya di pinggang istri nya itu,dan memeluk istri nya sangat erat sehingga jarak kedua nya semakin dekat


rara menelan kuat-kuat saliva nya, saat wajah ke duanya hanya berjarak sekitar 5 cm, bahkan jantung rara berdekup 3 kali cepat saat merasakan nafas suami nya itu mengenai wajah nya,


“maafkan aku, aku tidak bermaksud mengganggumu, hanya saja  aku ingin memasangkan apron ini untuk mu” ucap nya begitu gugup sembari berusaha ingin melepaskan diri dari posisi nya saat ini, tapi arif bahkan tidak ingin melepaskan dekapan nya itu.


"ehmm, mmm, arif tolong lepaskan aku" ucap nya memelas


"kalau kau tidak melepaskan ku jantungku akan meledak saat ini juga" ucap nya begitu tegang,hal itu sontak membuat arif tertawa keras melihat ekspresi menggemaskan dari istri nya itu.


"apa kau butuh sesuatu?" tanya arif, namun hanya di jawab beberapa gelengan oleh rara


"bisa tolong lepaskan aku" pinta rara


"hmm, tapi ada syarat nya jika kau mau aku melepaskan mu" tawar arif semakin mempererat dekapan nya


"kiss me" pinta arif, hal itu sontak membuat mata rara terbelalak lebar


"tidak, aku tidak mau" tolak rara


"baiklah kalau kau tidak mau biar aku saja" ucap nya dan tanpa aba-aba arif langsung menempelkan bibir nya di kening istri nya itu, namun tak berselang lama langsung menghujani wajah istri nya itu dengan kecupan bertubi-tubi, membuat rara semakin sulit bernafas


"astaga, aku tidak melihat nya, aku tidak melihat nya" ucap seseorang yang baru saja tiba, hal itu sontak membuat arif dan rara terpekik kaget dan langsung menghentikan aktivtas mereka


arif hanya berdecak kesal melihat laura dan lagi-lagi celsea yang memergoki mereka


"astaga kalian ini, jika ingin melakukan nya jangan di tempat terbuka seperti ini, apa lagi ini dapur" ucap celsea penuh kekesalan


"kalian, ada apa kemari sepagi ini? jawab arif santai, arif langsung memanggil Bibi untuk menyelesakan masakannya dan langsung menggandeng mesra tangan istrinya itu keruang tamu,

__ADS_1


rasa nya rara ingin bersembunyi saat itu juga, tapi arif malah menahan nya, ia benar-benar malu karena sudah 2 kali mereka di pergoki seperti ini


***


"ihh kakak aku yang mengajak kak celsea ke mari sepagi ini, jadi berhenti marah-marah oke, lagi pula aku ke mari hanya ingin bertemu dengan kakak ipar ku" ucap laura, yang kini sudah berduduk persis di samping rara sambil menggelayut manja di lengan rara


rara begitu terkesiap melihat sikap laura, rara jadi merasa bersalah terhadap adik sepupu suami nya itu, setelah keselahpahaman yang membuat nya dan arif bertengkar semalam


"kakak maaf soal kemarin ya, laura benar-benar tidak bermaksud membuat kakak marah, sumpah" ucap laura yang kini semakin membuat rara semakin merasa bersalah


"tidak itu bukan salah laura, justru kakak yang harus nya minta maaf" ucap rara


"sudah,sudah, laura berhenti menempel-nempel dengan istri kakak" ucap arif yang kini mulai jengah, karena sedari tadi ia di abaikan


"dasar pelit, bahkan kami belum berkenalan, kak arif sudah marah, dasar posesif" hal itu sontak membuat rara dan celsea terpekik geli, namun tak menghentikan perdebatan antara arif dan laura,


untung saja ada Bi ina yang memberitahukan kalau sarapan nya sudah siap,


"kak rara mau apa, biar laura yang ambilkan" tawar laura yang saat ini sudah mengambil alih tempat duduk arif di meja makan,


"tidak perlu biar kakak saja, lagi pula istri kakak ini tidak akan makan jika bukan kakak yang menyuapi nya" ucap arif yang kini sudah berdiri di samping istri nya


"ia kan sayang" ucap nya dengan penuh tekanan


.


.


.


jangan lupa terus dukun Novel ini ya teman-teman

__ADS_1


__ADS_2