Apa Salahku

Apa Salahku
Bagian 2. POV INDAH


__ADS_3

"Bun, hari ini Ayah tidak pulang ya? Ada urusan luar daerah, tolong siapin baju ayah seperti biasa."


"Lagi?"


"Iya bun, cuma sehari aja. Lusa ayah pulang agak sore, Ayah lagi mengurus sebuah proyek."


"Sebulanan ini ayah sudah 3 kali ke luar daerah, proyek apa sih yah?" kucoba merajuk dan meminta penjelasan


"Kuceritakan pun bunda nggak akan ngerti, nanti bunda bagian terima duitnya aja," kedipnya.


Bukannya tak percaya kepadanya, tapi selama pernikahan yang telah berumur kurang lebih 10 tahun baru sebulan terakhir ini Mas Raka menginap di luar daerah tanpa kami anak istrinya dan bahkan sudah 3 kali. Sebelum-sebelumnya kalaupun kondisi dalam keadaan mendesak Mas Raka pasti memboyong kami.


Meski dengan perasaan berat, kusiapkan perlengkapan Mas Raka seperti biasa. Baju kaos dan jeans masing-masing satu, setelan kemeja untuk jaga-jaga jika ingin bertemu klien, alat sholat, peralatan mandi satu set lengkap dengan alat cukurnya. Terserah ingin dipakai atau tidak. Obat-obatan standard tak luput kumasukkan ke dalam koper mungil itu sebelum mengancingkannya dengan rapi.


Entah dari mana datangnya perasaan aneh ini, perasaan tidak enak menyerang dan aku bahkan tidak bisa menjabarkannya dengan pasti.


"Bun, ayah udah mau jalan."


Kudengar teriakan Mas Raka, segera kutinggalkan cucian piring yang tersisa sedikit lagi. Kubasuh tangan yang penuh sabun dan kutemui imamku itu dan menyerahkan koper.


Kucium tangannya dengan khidmat dan kuantarkan ke pagar, mengamati kepergiannya masih dengan perasaan aneh. Kupaksakan senyum di wajahku, semoga suamiku baik-baik saja.


"Ya Allah, lindungi suamiku dalam perjalanannya. Berilah kesehatan padanya dan bimbing dalam setiap langkahnya," bisikku.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Bunda, kepalaku sakit," rengek putra sulungku.


Bayu masih terjaga, kuambil alat termometer dan kujepit diantara ketiaknya, 39 derajat celcius.


Sekali lagi kucoba hubungi kontak Mas Raka, masih belum tersambung. Aku diserang kepanikan tapi mencoba terlihat tenang. Putraku demam tinggi dan sejak sore aku tak bisa menghubungi Mas Raka.


"Sabar ya sayang, minum obatnya dulu biar kak Bayu sembuh," bujukku sambil mengusap kepala putraku dengan lembut.


Pelan-pelan kuangkat kepalanya dan meminumkan tablet penurun panas.


"Kakak, tidur ya? Besok begitu bangun pasti panasnya sudah turun."


"Ayah kemana bunda? Kenapa Ayah tidak pulang?" rengeknya


"Ayah kerja nak, biar Ayah bisa punya banyak uang dan beliin kakak mainan. Tidur ya sayang?"


Kepalanya mengangguk dan memejamkan mata, kuraba kening putraku, demamnya belum juga turun.


Kurebahkan tubuh, kucoba memejamkan mata walau tetap terjaga. Entah karena anak sakit atau karena ponsel Mas Raka tidak bisa kuhubungi, aku tersiksa dengan perasaan ini. Perasaan yang tak biasa, was-was, cemas dan gelisah bercampur jadi satu yang tak kumengerti maknanya.


Pukul 02.00 Wita, ingin kutunaikan tahajjud untuk mengusir gelisah tapi tak sedikitpun mata ini pernah terpejam, aku berzikir dan akhirnya mengantarkanku dalam tidur lelap.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Suara azan membangungkanku, kuraba kening Bayu demamnya sudah turun. Syukurlah sepertinya obatnya bekerja, tak perlu kubawa ke dokter.


Kulirik ponselku tak satupun notifikasi pesan atau panggilan yang muncul.


Dengan kepala masih pening karena kurang tidur aku bergegas mengambil wudhu, ingin kuadukan kegelisahanku dalam doa.


Benar adanya bahwa sebaik-baik tempat mengadu adalah Sang Pencipta, kututup sholatku dengan doa semoga Mas Raka baik-baik saja dimanapun dia berada dan segera menghubungiku.


Baru saja kulipat mukena ketika gawaiku bergetar dan terdengar notifikasi whatsapp, dengan cepat kugapai benda pipih itu dan aku membuka pesan yang baru masuk, dari Mas Raka.


[Bunda, maaf baru ngasih kabar. Hp ayah lupa dicharger dan ayah pulang dari ketemu klien agak malam, pulang ke hotel langsung tertidur]


Baru saja ingin kubalas pesan itu ketika pesan kedua muncul.


[Bunda sudah sholat?]


[Sudah, kapan pulang? Bayu semalam badannya panas]

__ADS_1


[Hah? Bayu sakit?! Bunda tidak bawa ke dokter?]


[Cuma kuminumkan obat, bagaimana mau dibawa ke dokter sedangkan Ayah tidak disini. Belum lagi Tasya nggak ada yang jaga]


[Trus bagaimana keadaan Bayu sekarang? Ayah usahakan pulang cepat ya sayang]


[Udah agak mendingan, demamnya sudah turun. Nggak usah pulang cepat, Ayah selesaikan saja dulu urusan disana]


[baiklah sayang, kalau ada apa-apa cepat hubungi Ayah ya?]


Bagaimana mau kuhubungi? Kontaknya aja baru aktif. Balasku tapi cuma dalam hati, setidaknya aku tau bahwa suamiku baik-baik saja.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


[Ibu Indah, saya punya bukti perselingkuhan suami Ibu]


Kupandangi sms kaleng itu, kesebut sms kaleng karena nama pengirimnya tidak jelas. Kucubit pipi kanan, sakit! aku tidak sedang bermimpi.


Bisa saja si pengirim adalah orang iseng yang ingin mengganggu rumah tangga kami.


Masih kuingat 2 minggu lalu ketika Mas Raka pulang dari Watampone dengan sikap yang tak biasa, diciuminya Bayu dan Tanya seolah baru saja pulang dari perjalanan yang panjang padahal dia meninggalkan kami cuma sehari.


Terlebih kepadaku, semua perlakuannya tambah manis tambah perhatian dan aku menikmatinya, meskipun itu terasa aneh, seakan menyembunyikan sesuatu.


[Boleh kita bertemu?]


Terdorong oleh rasa penasaran kubalas sms kaleng itu.


[Tidak perlu bu, saya tidak ingin terlibat. Saya menyampaikan ini cuma karena kasihan kepada Ibu]


[Baiklah, beri saya bukti jika memang apa yang anda sampaikan itu betul]


[Saat ini mereka sedang berada di hotel Arya Duta, silahkan kesana sendiri jika Ibu tak percaya]


Nafasku tercekat, antara percaya dengan tidak. Mas Raka selingkuh? Itu salah satu hal yang paling mustahil yang bahkan membayangkannya pun tak pernah. Untuk mendapatkanku Mas Raka butuh perjuangan, dan dia tau betul bahwa dia adalah lelaki pertama dan terakhir dalam kehidupanku.


Kucoba menghubungi nomor yang tertera tapi tidak aktif.


Entah informasi itu benar atau tidak, aku harus memastikannya sendiri. Kutitipkan anak-anakku ke tetangga setelah menyogok mereka dengan sekantong cemilan dan es krim. Tak mudah karena mereka terbiasa kubawa ikut serta kemanapun aku pergi. Namun jika informasi itu benar adanya, kutak ingin anak-anakku tahu dan melihat dengan mata kepala mereka sendiri jika Ayahnya bersama wanita lain.


Kucoba menata nafas, sesak. Tuhan, tolong tenangkan aku, berita itu bahkan belum tentu kebenarannya tapi mengapa se-sesak ini rasanya. Kugunakan pakaian seadanya, gamis dan khimar warna senada. Kupesan taxi online, meskipun dengan perasaan gamang, sebenarnya apa yang ingin kubuktikan? Bisa saja orang itu mengerjaiku.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Setengah jam kemudian aku tiba hotel yang dimaksud, kemudian bingung sendiri harus melakukan apa.


Tapi dengan refleks langsung malangkahkan kaki masuk ke lobby hotel begitu seorang karyawan yang bertugas di pintu masuk membukakan pintu dengan ramah.


Mataku memidai seluruh sudut lobby, tidak ada sosok Mas Raka. Kulihat beberapa sofa berjejer disebuah ruangan dekat pintu kaca yang membatasi antara lobby dan kolam renang.


Kupilih salah satu sofa berwarna biru yang menghadap pintu keluar, dari posisi itu aku bisa melihat dengan jelas seluruh ruangan, termasuk pintu keluar dan lift yang terhubung dengan kamar-kamar hotel. Kalaupun benar Mas Raka ada disini, ini adalah satu-satunya jalan keluar yang akan dia lalui.


15 menit ... 30 menit ... Tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan suamiku.


Jujur, ingin kucek nama Mas Raka di bagian resepsionis hotel tapi malu.


Bagaimanapun seorang wanita dewasa yang mencari nama lelaki pada buku tamu pasti terlihat jelas sebagai istri yang mencari keberadaan suaminya. Ingin kutaruh dimana muka dan harga diriku.


Aku berdiri dari sofa, kuambil gawaiku sambil berjalan menuju pintu keluar dan kutelepon Mas Raka, tersambung.


[Ayah lagi dimana?]


[Ini lagi habis meeting, siap-siap pulang ke rumah]


Aku mengutuk diriku karena percaya dengan sms kaleng itu sehingga membuang-buang waktuku menginjakkan kaki ke hotel ini.


[Ada apa bun? Mau titip sesuatu?]

__ADS_1


[Gpp yah, cuma mau ngecek keberadaan ayah. Ya udah, hati-hati di jalan ya Ayah?]


[Oke bun, ayah jalan dulu ya?]


Kusimpan ponsel di tasku, kemudian kupercepat langkah kaki tepat saat pintu lift terbuka dan sepasang lelaki dan wanita berjalan bergandengan tangan kekuar dari lift. Lelaki yang sangat kukenali. Mas Raka, Suamiku.


Seketika langkahku terpaku, mata kami bertemu, Mas Raka segera menepis tangan wanita itu, wanita yang kukenal selama ini sebagai rekan bisnis suamiku.


"Bun, ke-- kenapa disini?" Tanyanya tergagap.


"Kita bicara di rumah," sahutku dingin, aku tak ingin ribut di tempat umum.


Menahan sesak kupercepat langkah kaki dan Mas Raka menjejeri langkahku, meninggalkan wanita tadi menggandengnya yang juga tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


Tega, mereka sungguh tega. Aku bahkan mengenal baik wanita itu, Sari Salsabila seorang akuntan yang selama ini menjadi rekan bisnis suamiku. Hah! Rekan bisnis apa yang bermain gila dengan koleganya, seorang pria beristri.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


โ€œBunda, tolong kasi kesempatan ayah ingin jelaskan yang sebenarnya. Bunda salah paham.โ€


โ€œSalah paham gimana maksudnya? Kulihat jelas kalian berjalan bergandengan tangan,โ€ sahutku menahan emosi.


โ€œBunda salah paham. Ayah ke hotel itu tidak berdua, kami sedang meeting diasana.โ€


Kudengar nada putus asa dari mulut suamiku.


โ€œAyah, aku tak sebodoh itu untuk percaya kata-katamu, Kulihat dengan mata kepalaku sendiri kalian berjalan keluar sambil bergandengan tangan.โ€


โ€œTidak seperti yang bunda bayangkan. Tolong percaya Bun, cuma bunda satu-satunyaโ€”โ€œ


Kuangkat tanganku memotong pembicaraannya.


โ€œSaat ini aku tidak butuh penjelasan, tolong untuk sementara Ayah tidur di kamar tamu, aku cuma ingin menenangkan diri.โ€ Sahutku pelan, tapi cukup tegas untuk membuat Mas Raka meninggalkan kamar kami menuju ruang tv.


Untung anak-anakku tidur lebih awal, mereka tak perlu melihat bunda yang mereka sayangi menangis sesenggukan. Kupeluk tubuh anak-anakku, saat ini hanya mereka yang kupunya. Besok akan kucoba menemui wanita itu, wanita yang masuk dalam kehidupan suamiku. Aku harus memastikan sesuatu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Tanpa sepengetahuan suamiku kutemui wanita itu, sengaja kupilih restoran cepat saji yang tersedia arena bermain anak agar bisa kubawa serta anak-anakku.


Seperti tertangkap basah, dia mengakui perselingkuhan mereka. Tak tahu malu! Rutukku, tentu saja cuma dalam hati. Aku bukan tipikal wanita yang suka bertengkar memperebutkan lelaki, meskipun lelaki itu adalah suamiku sendiri. Tak pantas bagiku, meskipun aku bahkan tak punya pekerjaan ataupun pegangan hidup, aku siap meninggalkan suamiku dan tentu saja membawa anak-anakku.


โ€œJadi sekarang maumu apa?"


โ€œMba Indah sendiri maunya apa?โ€ lancang, malah balik bertanya.


โ€œMenjauh dari kehidupan suamiku.โ€


โ€œTidak bisa, aku mencintai Mas Raka.โ€ What???!


โ€œKamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?โ€ ucapku terperangah, speechless dengan keberaniannya.


โ€œKepalang basah Mbak, Mbak pikir aku menjalani jadi wanita kedua dengan sengaja? Selama ini aku bersedia jadi simpanan Mas Raka dengan sadar, aku mencintainya meskipun tau kalau dihatinya lebih besar untuk Mbak Indah tapi aku tak perduli, akan kubuat agar dia juga memberiku cinta yang sama."


Kukepalkan tanganku hingga kurasakan telapak ini sakit tertancap kuku jariku sendiri. Ingin kutampar perempuan lancang itu, tapi tetap berusaha bersikap tenang. Aku harus bisa mengendalikan diri.


Sesaat kami terdiam, wanita ini gila, lebih gila dari bayanganku. Percuma bicara dengannya.


โ€œBaiklah, akan kusuruh Mas Raka memilih. Jika Mas Raka memilihmu aku akan meninggalkan kehidupan kalian dengan anak-anakku,โ€


โ€œOkey," ucapnya dengan percaya diri, ingin rasanya kusiramkan cairan pekat kopi ke wajahnya yang pongah itu.


Entah kemana perasaan sedih ini menguap dan berganti dengan amarah, tidak akan kumaafkan. Kalaupun suamiku memilihku, tidak akan semudah itu kembali kepada kami.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2