
Saat arif terbangun, ia tiba-tiba terperanjak panik, ia terkesiap karena tak menemukan keberadaan istri nya itu di dalam ruang perawatan nya, bahkan tempat tidur istri nya itu terlihat kosong
“rara sayang, kau di mana?” arif memaksakan diri nya untuk bangun, meskipun bahu dan punggungnya terasa sakit dan ngilu, namun apalah daya, badan nya terasa lemas tak bertenaga membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, ya akibat pergerakan nekat nya beberapa jam yang lalu, membuat luka tembak nya kembali terbuka dan basah, bahkan tak sedikit darah yang merembes mengenai perban dan menembus baju pasien nya yang hampir saja membuat nya kembali terinfeksi. untung saja sang dokter bisa cepat mengatasi nya
Bahkan tadi sang dokter sempat mengancam arif
“kalau bapak tidak bisa diam, dan terus saja bergerak, saya akan memindahkan istri bapak ke
ruangan perawatan yang lain” ucap sang dokter kala itu, bagaimana tidak, biasa nya pasien yang baru sadar dari koma nya, kondisi syaraf-syaraf tubuh nya akan sangat lemas, bahkan biasa nya tidak bisa di gerakkan, jika tidak di bantu oleh seseorang, tapi beda dengan arif sang dokter di buat terperangah karena tingkah nya yang terlihat sangat sangat menyebalkan, bahkan sang dokter harus terpaksa memberikan suntikan obat tidur untuk arif, agar pasien nya itu bisa berhenti beraktivitas
Bukan apa nya, jika arif terlalu aktif dan terlalu sering bergerak akan berdampak pada kondisi tubuh nya dan saraf-saraf otot nya, di takutkan nanti akan menimbulkan efek samping untuk kesehatan pasien yang dapat berakibat fatal 2 kali lipat.
“rara” arif tak henti-henti nya berteriak mencari keberadaan istri nya
“arghhh, kenapa sakit sekali” tiba-tiba arif berteriak merasakan sakit yang menjalar di tubuh nya, bahkan wajah arif terlihat semakin pias
“astaga arif, kau kenapa” tiba-tiba radit datang, cepat-cepat ia menghampiri arif dan membantu sahabat nya yang terlihat igin mengganti posisi nya menjadi duduk
“kau ini kenapa sangat keras kepala sekali, bukan kah tadi dokter sudah mengatakan kalau kau itu tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu” radit begitu kesal melihat sahabat nya itu, membuat arif mendengus kesal, mendengar ocehan radit
“dari pada kau marah-marah, lebih baik kau bantu aku mencari keberadaan istri ku” ucap arif penuh dengan permohonan
Radit mengusap wajah nya kasar, lalu duduk di sofa yang terdapat di ruangan tersebut
“istrimu sedang pergi memeriksakan diri nya, kau tenang saja ada celsea yang menemani nya” ucap radit
“apa maksudmu, apa yang terjadi dengan istriku? kenapa bukan dokter yang kemari untuk memeriksa nya?” tanya arif penuh ke khawatiran
“istri mu sedang memeriksakan diri nya ke dokter kandungan,” ucap radit yang langsung membuat arif terdiam terkesiap mencerna kata-kata sahabat nya itu
“dokter kandungan?” tanya arif
“astaga apa kau belum tahu kalau istri mu sedang mengandung anak mu” ucap radit
“apa, is,istrriku mengandung, dia mengandung anakku” bulir bening tiba-tiba terlihat di pelupuk mata arif.
“ya dan usia kandungan nya saat ini kurang lebih sudah menginjak 8 minggu” ucap radit lagi
“tolong antarkan aku ke sana, aku ingin melihat istri ku, aku mohon” ucap arif, air matanya kini sudah tidak bisa ia bending lagi,
__ADS_1
“tidak bisa, kalau kau ingin bertemu istrimu tunggulah di sini, setidak nya pikirkan kondisi mu, apa kau yakin bisa menyusul istri mu dengan kondisi mu yang seperti itu, jika kau ingin menemani istri mu, buatlah diri mu kembali pulih, kau ingat kan pesan dokter tadi, jika kau semakin banyak bergerak, lukamu akan bertambah parah, otomatis kau akan semakin lama sembuh nya” terang radit memberikan penjelasan kepada arif, agar atasan sekaligus bos nya itu memikirkan kondisi nya
Dengan berat hati arif hanya menganggukkan kepala nya lemah sebagai tanda persetujuan
*****
Satu minggu kini sudah berlalu, kondisi arif juga sudah semakin membaik, dan sepertinya juga luka tembak nya sudah mulai mengering, apalagi mendengar kabar dari andi dan radit kalau kondisi perusahaan nya kini sudah kembali stabil dan normal, itu semua juga berkat bantuan pak Guntur yang sudah berhasil membujuk keponakan nya thalia untuk memberitahukan dimana ia menyimpan dokumen rahasia milik perusahaan nya.
Entah bagaiamana kabar wanita ular dan ayah nya itu, arif tak mau memikrkan nya, karena pak Guntur sendiri lah yang meminta nya untuk tidak memikirkan nya lagi, karena mereka sudah berada di tempat yang semesti nya, dan arif sudah tidak khawatir lagi akan hal itu, ya karena arif dan rara sudah mempercayajkan semuanya kepada pak guntur Sekarang focus arif hanya ingin tertuju kepada istri nya saja
Dan bertepatan juga dengan hari ini, untung nya dokter sudah
mengizinkan diri nya dan juga istri nya pulang, arif benar-benar merasa jengah
selama ia berada di rumah sakit, bagaimana tidak ia jengah karena banyak pihak
yang membatasi pergerakan nya, sehingga ia hanya bisa menatap istri nya itu
tanpa bisa mendekap nya, ya meskipun masih berada di satu ruangan yang sama,
padahal arif berharap agar bisa satu ranjang dengan istri nya, tapi dokter
beristirahat total, dan sama sekali tidak boleh terlalu banyak bergerak. Alhasil
membuat mereka berdua jadi jarang berkomunikasi, terlepas dari itu rara juga
sedikit merasa canggung dengan suami nya, antah apa penyebab nya, ia juga hanya
berbicara seperlu nya dengan suami nya, begitu pun dengan arif, beberapa hari
ini ia menjadi pribadi yang pendiam, dan tak banyak bicara
“kalian bersiap-siaplah dulu, sementara aku akan mengurus administrasi kalian” tak lupa radit menyematkan seulas senyum lalu segera berlalu untuk mengurus semua biaya administrasi arif dan rara,
sementara kini hanya tinggal mereka berdua lah yang ada di
dalam ruangan, tidak ada percakapan di antara ke duanya, arif tidak ingin
memulai percakapan karena ia menunggu agar rara sendiri lah yang berbicara
__ADS_1
jujur terhadap nya, membuat suasana di dalam ruangan tersebut semakin dingin,
entah mengapa rara merasa sikap suami nya kini kembali berubah menjadi dingin
seperti dulu
“sini biar ku bantu” ucap rara memberanikan diri saat melihat suami nya itu terlihat kesulitan mengancingkan baju kemeja nya
“tidak perlu, aku bisa melakukan nya sendiri, lagi pula hanya tinggal 3 kancing lagi” arif berucap tanpa mau menatap ke arah istri nya, hal itu membuat hati rara merasa sakit dan takut, takut jika arif akan kembali
memperlakukan nya seperti dulu
Tapi dengan cepat rara menepis prasangka buruk nya tersebut.
“mmm kalau begitu biar aku bantu membereskan barang mu yang lain” baru saja rara ingin mengambil barang-barang suami nya itu, namun dengan cepat arif mencekal tangan rara
“tidak perlu, sebaik nya kau duduklah, tunggu sampai radit kembali” ucap arif terkesan dingin, hal itu sontak membuat rara langsung diam terpaku
Rara lebih baik memilih diam, karena ia tak mau membuat masalah dengan suami nya itu, hingga radit tiba, sama sekali tidak ada percakapan di antara kedua nya.
“semuanya sudah beres, kalau begitu ayo aku antarkan kalian pulang” radit mengambil 2 tas paperbag yang berisikan barang-barang arif dan rara lalu menentengnya, sementara arif tiba-tiba ia menggenggam erat tangan istri nya, dan mengajak nya berlalu untuk pulang.di antarkan oleh radit.
.
.
.
jangan lupa tekan tombol
LIKE
dan
VOTE nya ya
atau kalian mau beri author sedikit hadiah, hehehe seikhlasnya saja
__ADS_1