Apa Salahku

Apa Salahku
Eps. 81


__ADS_3

kelopak mata rara perlahan ia buka, dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah arif suami nya, cukup lama rara memperhatikan wajah tampan suami nya itu, entah mengapa rara merasa begitu nyaman berada dalam dekapan suami nya dan masih ingin berlama-lama dalam posisi tersebut. namun cepat-cepat rara melepaskan dekapan tangan arif dari tubuh nya karena menyadari dan teringat akan sesuatu takut jika dari semalam suami nya itu ternyata belum menyentuh makanan dan meminum obat yang di resepkan oleh dokter untuknya.


baru saja rara ingin beranjak berdiri dari posisi duduk nya, namun tak sengaja mata rara melihat meja kecil dimana di atas nya terdapat makanan yang di buat oleh arif tadi, rara menelan kuat-kuat saliva nya dan memandang dalam penuh arti suami nya.


"apa dia yang membuat sarapan nya, apa benar dia benar-benar sudah berubah? gumam rara pelan kemudian dengan segera rara  beranjak berdiri untuk membersihkan diri nya di kamar mandi setelah itu berniat untuk membuatkan arif sarapan, sebelum suami nya itu terbangun.


nyatanya sedari tadi arif tidaklah tertidur, ia hanya pura-pura tertidur saat merasakan istri nya itu menggeliat kecil di atas dekapan nya, arif terbangun  menunduk sedih dan menghela nafas nya dalam setelah istri nya itu berlalu pergi,


"seperti nya kau belum benar-benar mempercayai ku, tapi tidak apa,  aku akan terus menerus berusaha agar kau mau memaafkan semua kesalahan ku, bahkan meskipun nyawaku sendiri yang akan menjadi taruhan nya" batin arif.


sudah sekitar lebih dari 30 menit berlalu arif menunggu rara untuk membangunkan nya, dan saat suara decitan pintu terdengar oleh telinga nya cepat-cepat arif menutup mata nya.


"hhaaa, ternyata belum bangun juga" ucap rara membuang nafas nya, setelah meletakkan makanan yang sudah ia buat untuk suami nya dan beberapa obat yang arif harus minum.


"arif bangunlah, arif kau harus bangun, arif, kau harus makan dan meminum obat mu" ucap rara sedikit berteriak, namun arif masih tetap dalam posisi nya


"arif bangun, ini sudah jam 9" kali ini rara memberanikan diri untuk memegang bahu suami nya dan menggerak-gerakkan nya ke kanan dan kekiri, namun arif masih tetap dalam posisi nya, sekuat tenaga arif berusaha menahan tawa nya agar rara tidak curiga, namun nyatanya rara sudah mengetahui jika ia hanya pura-pura tertidur


"baiklah jjika tidak ingin bangun, tidak usah, terserah, lebih baik aku pergi saja dari sini" ucap rara, membuat arif segera membuka mata nya dan  bangun dengan tergesa-gesa, takut jika istri nya itu akan benar-benar pergi


"tunggu, kau mau ke mana? tanya arif


"aku harus pergi ke suatu tempat, karena ada suatu hal yang harus aku selesaikan sebelum aku pulang ke desa" ucap rara tanpa memandang suami nya


"kau tidak boleh pergi kemana-mana" ucap arif dengan tegas, membuat rara mengernyitkan kening nya dengan heran


"kenapa sekarang tidak boleh, sedangkan dulu, aku pergi kemana pun kau tidak perduli, bahkan tidak akan pernah perduli" ucap rara, membuat arif menundukkan kepala nya dalam-dalam, karena memang apa yang di katakan rara itu semua benar.


cukup lama mereka berdua terdiam, dan kini pandangan rara kembali beralih menatap suami nya yang sejak tadi masih tetap dalam posisi terdiam dan menunduk dalam, membuat rara merasa khawatir


"kau kenapa, kau tidak apa-apa kan? tanya rara setelah berhasil kembali memegang bahu suami nya


"aku tidak apa-apa" ucap arif, tak lupa mnyematkan seulas senyum penuh luka


"kalau begitu makanlah, setelah itu minum obat lalu beristirahatlah" ucap rara penuh perhatian, membuat arif menganggukkan kepala nya dan kembali menyematkan seulas senyum, namun kali ini senyum bahagia


******

__ADS_1


baru  saja rara ingin pergi, namun seseorang yang ingin ia temui ternyata sudah ada di hadapan nya


"maafkan saya, saya datang kemari karena atas perintah dari pak arif, ada berkas-berkas yang harus pak arif tanda tangani" ucap andi dengan hormat


"tidak apa-apa, karna kebetulan anda ada di sini, ini berkas-berkas yang sudah di revisi, dan untuk sementara jangan membebankan masalah pekerjaan dulu dengan pak arif, karena kondisi nya benar-benar belum stabil" ucap rara penuh ke khawatiran


"baik bu, saya ak" ucapan andi langsung terpotong karena tiba-tiba arif datang secara tiba-tiba


"andi kau sudah datang" ucap arif, yang hanya di balas gerakan membungkuk oleh andi


"selamat siang, ini semua berkas-berkas yang bapak minta" ucap andi lalu menyerahkan berkas-berkas yang di bawah nya dan juga berkas yang di berikan oleh rara


"baiklah, kalau begitu ayo keruangan ku terlebih dahulu" ucap arif


"kau masih belum sembuh betul, tidak bisakah berisirahat untuk sementara waktu" ucap rara tiba-tiba, membuat arif menyematkan seulas senyum simpul, lalu mengelus lembut rambut rara


"hei, apakah kau sekhawatir itu terhadap ku, aku janji setelah ini semua beres aku akan langsung beristirahat" ucap arif lembut, membuat rara hanya mendengus kesal


"oh iya, bukankah tadi kau bilang ingin pergi ke suatu tempat, kalau kau tidak keberatan aku akan mengantarmu setelah aku menyelesaikan pekerjaan ku ini" ucap arif lagi


"aaakku tidak jadi pergi, temanku tiba-tiba mengirimi ku pesan lalu membatalkan pertemuan hari ini" ucap rara


"ayo andi" ajak arif, lalu segera bergegas melangkahkan kaki nya, menuju ruang kerja nya di ikuti andi di belakan nya.


.


andi hanya duduk berdiam diri berhadapan dengan arif, menyaksikan arif mengamati semua berkas-berkas yang di periksa nya


"apa ada yang ingin kamu katakan" ucap arif, setelah cukup lama berkutat dengan laptop dan beberapa berkas


"maafkan saya pak, saya begitu lancang tidak meminta persetujuan pak arif terlebih dahulu" tutur andi, menundukkan kepala nya diam


arif hanya menghela nafas nya, meminta andi menjelaskan semua yang terjadi selama arif sakit, membuat andi dengan terpaksa menjelaskan bagaimana upaya rara untuk menormalkan kembali perusahaan arif dan juga tentang pertemuan nya hari ini dengan rara yang batal


"sekali lagi saya minta maaf pak, tapi tolong jangan beri tahu ibu rara jika saya yang memberi tahu bapak, karena ibu rara benar-benar tidak ingin siapa pun tahu kecuali saya" ucap andi membuat arif hanya menganggukkan kepala nya


"baiklah, kalau begitu kau boleh pulang, dan juga terimakasih kerena kau juga sudah banyak  berkorban untuk perusahaan" ucap arif menepuk pelan bahu andi

__ADS_1


"kalau begitu saya permisi" ucap andi kemudian segera berlalu pergi


*****


baru saja arif ingin membereskan semua dokumen-dokumen di ruangan nya, tiba-tiba terdengar suara decitan pintu yang terbuka


"ini sudah 3 jam lebih, tapi  masih berada di sini, apa kau ingin kembali sakit?" ucap rara sedikit emosi


"ehm, ini aku baru saja ingin member" ucapan arif terpotong oleh perkataan rara


"aku tidak ingin kau kembali sakit, karena kalau kau sakit, aku yang akan kau repot kan lagi" ucap rara ketus, kemudian membantu arif membereskan semua dokumen-dokumen dan beberapa buku yang berserakah di meja kerja arif.


"biar aku yang membereskan nya, sebaik nya kau pergilah beristirahat" perintah rara, namun arif masih setia berdiam diri menunggu istri nya.


arif hanya menatap rara dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, saat rara berusaha meletakkan buku-buku di tangan nya ke dalam rak buku , tak sengaja ia menyenggol rak buku itu dengan keras sehingga menyebabkan buku-buku tebal di atas nya yang jauh lebih tinggi  jatuh menimpah nya. tapi untunglah arif dengan sigap melihat kejadian itu dan dengan segera  melindungi rara dengan menyembunyikan kepala rara sehingga punggung arif lah yang dijadikan tameng untuk melindungi istrinya, ada sekitar 6 buku  tebal yang jatuh menimpah kepala dan juga punggung arif, naumun arif tak memperdulikan tentang kondisi nya, yang arif pikirkan adalah kondisi istri nya, arif benar-benar takut jika terjadi apa-apa dengan istri nya


"kau tidak apa-apakan" tanya arif penuh ke kekhawatiran, rara hanya menggeleng-gelengkan kepala nya sock dengan kejadian yang baru saja terjadi


"kakkkau sendiri?" tanya rara terbata-bata tanpa sadar menangkup ke dua pipi arif suami nya, yang terlihat sedikit meringis karna kesakitan, namun sekuat tenaga arif menahan nya, karna tak mau membuat rara jadi merasa bersalah dan khawatir terhadap nya.


"tidak aku tidak apa-apa, sebaik nya kita kembali ke kamar saja" ucap arif menggenggam tangan istri nya erat-erat, lalu bergegas pergi dari ruang kerja nya.


.


 


 


 


 


 


 


jangan lupa terus support karya author ya teman-teman, berikan LIKE dan VOTE mu serta komentar-komentar postive kalian untuk author

__ADS_1


 


 


__ADS_2