Apa Salahku

Apa Salahku
Episode 8. POV INDAH


__ADS_3

[Boleh kita ketemu?]


Kubaca sekali lagi pesan yang masuk ke aplikasi whatsapp yang kuterima pagi ini, nomor kontak yang sama dengan yang memberi info tentang perselingkuhan suamiku.


Terdorong rasa penasaran kupenuhi permintaan misterius itu, orang yang tak kutau siapa dan tak punya bayangan sama sekali tentangnya.


Kutitipkan anak-anak ke Tante Rika ibunda Kayla dengan alasan mau ke salon. Tentu saja tanpa sepengetahuan Kayla, kalau tau dia akan memaksa untuk ikut.


Dan disinilah aku, kafe salah satu Mall terbesar di kota Makassar. Sengaja kupilih tempat yang ramai untuk berjaga-jaga seandainya orang itu memiliki maksud jahat.


Lima belas menit kemudian, seakan jantungku berhenti berdetak ketika melihat sosok yang datang mendekat, seorang wanita yang sangat kukenali, selingkuhan suamiku. Sari!


Berjalan dengan percaya diri mendekatiku, menggunakan setelan minimalis rok selutut kemeja pink dengan syal kembang warna hitam, tak lupa kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang bangir, kuakui dia cantik dan modis.


Membayangkan wanita itu bermesraan dengan suamiku membuat darahku mendidih, cepat kuucap istigfar sambil mengurut dada.


Dia membuang tubuhnya ke sofa merah mengambil posisi berhadapan, kuamati semua pergerakannya dalam diam.


Tanpa kata kuseruput koffee robusta gold pesananku. Timbul pikiran iseng, seandainya saja kutau bahwa dia yang akan datang mungkin bisa kusiapkan sianida dulu sebelumnya.


Cukup lama kami terdiam, dia yang mengajak bertemu jadi kubiarkan dia yang memulai percakapan yang canggung ini. Harusnya ada hal penting yang akan disampaikan, sehingga dia cukup nekad mengajakku bertatap muka.


Kuliat dia melambaikan tangan ke arah pramusaji, memesan robusta gold (juga), what?! Bahkan dia menyukai minuman yang sama? Aku bergidik ngeri.


“Tidak usah menatapku seperti itu,” ucapnya.


“Sekarang Mbak Indah sudah tau kan siapa yang mengirimkan pesan itu?”


“Iya,” kujawab dengan singkat dan jelas, tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, saat ini aku tak ingin terpancing dengan berbicara banyak. Akan kubiarkan dia mengeluarkan semua uneg-unegnya, sambil kupelajari apa tujuannya menemuiku.

__ADS_1


“Aku mencintai Mas Raka, dimataku dia sosok yang perfect dan low profil. Pendengar yang baik, tempatku curhat tentang apapun itu ..., bisa jadi Ayah, kakak dan teman.” Matanya menerawang, jauh lebih tenang dibandingkan terakhir kali kami bertemu.


Aku masih terdiam, membiarkannya bicara. Butuh kebesaran hati dan pengendalian diri tingkat tinggi menghadapinya, bagaimanapun dia sedang bercerita tentang suamiku yang jujur saja masih sangat kusayangi, dalam hati bertanya-tanya apakah semua pelakor se-PD ini?.


Keputusan untuk tidak memberitahu Kayla kurasa keputusan yang paling tepat, dia pastinya tidak akan sanggup mendengarnya.


“Mbak, langsung saja. Saya tak punya siapa-siapa, izinkan saya melahirkan bayi ini, saya tidak mampu membujuk Mas Raka untuk bertanggung jawab, jadi sekali lagi kuminta, tolong Mbak Indah yang harus meninggalkan Mas Raka,” ucapnya percaya diri.


“Maaf, saya tak mengerti apa maksud pembicaraanmu,”


“Saya capek, mengejar cinta Mas Raka yang seluruh hatinya milik Mbak Indah, beberapa kali pernah kepikiran untuk menggugurkan bayi ini, tapi takut tak sanggup menanggung penyesalan seumur hidup,”


Diteguknya kopi yang sudah terhidang di meja dan kemudian melanjutkan,


“Tolonglah, Mbak. Saya tak perduli Mbak Indah membawa seluruh harta benda dan meninggalkan Mas Raka dengan sehelai pakaian saja, asalkan Mas Raka bisa menjadi ayah dari bayi ini, kalau Mas Raka meninggalkan kami, saya akan bunuh diri.”


“Hei! Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan??! Kamu gila ya?!” Kuucapkan dengan suara serendah mungkin biar tidak ada yang mendengar dan malah terdengar seperti geraman, dia berhasil memancing emosiku.


Kudengarkan penuturannya dengan menahan nafas, berusaha mengendalikan diri.


“Waktu tau bahwa Mbak Indah meninggalkan rumah jujur saya senang, kesempatanku terbuka lebar. Tapi faktanya, tak sedetikpun Mas Raka berpaling dan malah makin menjauh ..., saya putus asa, Mbak.”


“Semakin saya mengemis semakin dia menjauh. Bagaimanapun, bayiku butuh keluarga yang utuh, saya tak ingin anak ini hidup tanpa ayah seperti diriku.”


“Semudah itu?? Semudah itu kamu meminta semuanya, tak bisakah kamu mencoba memikirkan sebentar saja bagaimana jika berada dalam posisiku? Bagaimana dengan anak-anakku?”


‘Astagfirullah’ bisikku sambil mengusap muka, apa lagi ini Ya Allah, aku capek dengan semuanya.


“Iya, saya memang gila, Mbak. Akan tetapi, saya juga putus asa, harus bagaimana lagi saya bersikap dalam keadaan seperti ini? Jangan dikira saya tak memikirkan kalian, anak-anak kalian, tapi saya manusia biasa yang tentu saja lebih mementingkan anak sendiri. Anak yang akan kulahirkan.”

__ADS_1


“....”


“Beberapa hari ini saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan. Meskipun saya tau kalau ini juga kesalahanku. Tau nggak, apa yang paling menyakitkan dari ini semua? Tiapkali kutanyakan mengapa Mas Raka menjalin hubungan denganku, katanya karena cuma memanfaatkan saja, karena butuh kucuran dana untuk membangun kembali perusahaannya. Sebenarnya siapa yang gila? Bisa Mbak Indah bayangkan gimana sakitnya mendengar semuanya? Saya bahkan hampir memilih untuk bunuh diri, jika saja tak mengingat bahwa ada kehidupan lain dalam perut ini. Ini adalah usaha terakhirku, meminta kerelaan Mbak Indah. Tinggalkan Mas Raka!" pintanya. Terdengar memaksa, tapi dengan intonasi sedikit memohon.


“Silahkan, ambillah Mas Raka jika dia memang mau bertanggung jawab, karena jujur hatiku tak cukup besar untuk memaafkannya, tapi melihatmu memohon seperti ini, sungguh tidak tahu malu.”


“Itu urusan Mbak Indah, terserah mau menilaiku seperti apa. Yang jelas, saya tak munafik dan akan terus memperjuangkan apa yang harus saya perjuangkan.”


Sinting, perempuan di depanku ini betul-betul sudah mati akal. Mulutku terkunci menghadapinya, tak tahu harus berkata apa.


🍁🍁🍁


Pertemuan dengan Sari makin membuatku sesak, rasanya tak ada kata yang bisa melukiskan bagaimana sakitnya perasaanku. Memandangi anak-anak yang tertidur nyenyak, yang tiap saat menanyakan keberadaan ayahnya justru makin menambah perasaan sakit ini.


Harus bagaimana kujelaskan kepada ke dua malaikat kecilku, bahwa ayah mereka bukan lagi seutuhnya milik mereka. Bagaimana bisa kujalani hari-hariku tanpa seorang suami, dan tanpa pekerjaan untuk menopang hidup kami.


Meskipun bisa kumiliki semua harta kami dan meninggalkan Mas Raka tanpa sepeser pun, tetap saja aku butuh pekerjaan untuk menghidupi anak-anakku dan menyekolahkan mereka.


Pendidikanku memang bagus, mungkin tak sulit untuk mencari pekerjaan berbekal ijazah S1 lulusan cumlaud, tetapi aku tak sanggup meninggalkan ke dua buah hatiku, mereka telah kehilangan ayah, tak akan kubiarkan mereka merasakan kekurangan kasih sayang seorang ibu.


“Ayah ..., ayah ..., pulang,” rengek Bayu dalam tidurnya. Putraku mengigau. Mungkin refleksi dari perasaannya selama ini.


Mendengar itu, lagi-lagi membuatku menangis tertahan. Kuambil bantal untuk membekap bibirku, agar suara tangisan ini tak terdengar oleh mereka.


Aku tak sanggup Tuhan, kenapa Kau cobai hambamu dengan cobaan yang maha dahsyat, mungkin aku salah meratapi semua ujianMu ini. Namun sungguh, tak sanggup rasanya memikul semuanya, sendirian.


Mungkin jika hanya diriku masih bisa kutanggung, tapi tak rela jika anak-anakku merasakan sakit yang sama, jika suatu hari mereka sudah bisa mencerna dan mengerti semua yang terjadi.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2