
Setelah dari bandara Aira dan Fatma lanjut ke rumah Aira untuk kembali pulang karena Aira memeng sekarang tinggal di sana karena saat ini dia berjanji pada dirinya sendiri untuk gak pulang kalau papanya belum manikah dengan Fatma, itu tujuan dan rencana ancaman untuk Papanya nanti apa bila menghubunginya
"Ini rumah siapa Ra" tanya Fatma saat mobil Aira parkir di rumah Aira
" Ini sebenarnya rumah pakde sih, dulu waktu pakde kuliah di Sini, tapi sekarang gak ada yang ,menempati jadi Aira tinggali lah" jawab Aira santai
" Jadi Ini berarti bukan ngontrak, dan bisa di katakan rumahmu sendiri?' tamya Fatma lagi
" Iya dulu Kakung kakek Aira itu kalau tinggal di suatu daerah, contoh anaknya mau kuliah atau istrinys yang kuliah, jarang ngontrak dan bahkan gak pernah ngontrak sih, kakek kangsung beli aja, " Ucap Aira bercerita
" Maksudnya saat anaknya kuliah di manapun tetap di brlikan rumah gitu?" tanya Fatma penasaran
" Iya, jadi semua tempat anak anak kakek kuliah di situ ada rumah" jawab Aira lagi sambil keluar dari mobil
" Tapi kan cucu cucunya saat kuliah nanti gak kepayahan seperti saat ini, Aira gak susah tingga di komtrakam apa kos kosan, jadi udah ada rumah sendiri, sama sepupu Aira juga sekarang kuliah di Mesir rumah abinya dulu juga masih jadi di tempati sama dia" ucap Aira lanjut bercerita tentang adek Alwi yang sekarang kuliah di Mesir yang seumuran dengan Aira
Fatma mengangguk dan lanjut ikut masuk rumah Aira sebari membatin
"" Tajir juga ya keluarga Aira, pantesan Putri sekarang makmur" Batin Fatma lagi
Fatma saat masuk juga melihat sekeliling rumah Aira sekiranya apa aja yang ada di dalamnya dan fasilitas apa yang ada di dalamnya
" Assalamualaikum ..." Ucap Aira saat masuk rumahnya
" Waalikum salam" jawab suara dari dalam
"Suara siapa Ra?" tanya Fatma kaget saat medengar jawaban dari luar
" Oh, itu suara si embak yang bantuin Aira bund" jawab Aira menjelaskan
" Yuk masuk bund" ajak Aira masuk kedalam rumah dan Fatma masih melihat sekelilingnya dengan bola matanya yang terkagum kagum dengan interior rumah Aira yang sangat menakjubkan
__ADS_1
Digsain rumah yang termasuk pilihan sendiri dari Aira biar terasa nyaman tinggalnya dan di renovasi sama Zula yang mendukung anaknya untuk lanjut belajar biar kerasa dan nyaman juga di Jogja
Karena Aira sebeluk masuk Universitas Aira itu mondok dulu dan baru lulus pondok
Tadinya Aira disuruh untuk lanjut ke Pondok sambil Kuliah ternyata Aira gak mau, dan pengen istirahat aja karena sudah mondok lebih dari 12 tahun
" Eh neng Aira" Ucap Mbak yang membantu Aira
" Iya mbak Imah" jawab Aira pada Imah yang mendekat kepadanya
" Ya Allah neng kemana Aja, lama gak balik balik Neng" Ucap mbak Imah pada Aira
" Iya mbak Imah kemaren Aira ambil Cuti papa sakit" jawab Aira memberi Alasan yang gak logis
" Ya Allah... Sekarang gimana keadaan papanya Neng, sudah sehat? " tanya mbak Imah lagi
" Alhamdulillah sehat mbak..." jawab Aira gak panjang panjang
" Kenalkan mbak Imah ini bunda Fatma" ucap Aira mengenalkan pada Imah
" Fatma " Ucap Fatma sambil bersalaman dengan Mbak Imah
" Panggil aja imah ya buk" jawab Imah karena mengerti kalau Fatma sudah gak muda lagi
" Ya udah neng Istirahat dulu mbak mau belanja dulu ya, neng sih gak bilang kalau mau pulang jadi mbak Imah gak belanja neng" ucap Imah pada Aira
" Eh gak usah mbak Imah, nanti kami mau makan di luar aja, besok aja mbak Imah belanjanya sekalian belanjain isian kulkas sama kamar mandi Aira ya mbak" jawab Aira dan di angguki oleh Imah
Di Villa Zula, Zain dan Jihan masih tidak bisa berkata lagi, dan hanya bisa menangis meratapi nasib buah hatinya yang menjadi korba penghianatan dari suaminya
Kini mereka masih berpelukan dan saling mengucurkan air matanya
__ADS_1
Mereka gak menyangka kalau Zula bisa seperti ini, belasan tahun Zula dulu hidup di pesantren tanpa orang tua Zula tidak pernah sampai semenderita ini dan sampai kurus kering seperti ini
" Ya Allah... Putriku" ucap Zain pada Zula dan memeluk erat Zula yang sudah sangat pucat dan kesakitan seperti ini
" Kenapa bisa seperti ini sih nak, kok gak telfon abah sama Umi kalau kamu sedang sakit seperti ini, ya Allah putriku, " Ucap Zain berkali kali mengeluh dan menangis karena tubuh Zula yang biasanya segar gemuk berisi kini jadi kurus kering dan penyakitan seperti ini
Jihan dan Zain tadi sempat telfon Al dan El saat perjalanan ke bandara
Tentu mereka meminta pwnjelasan dari kakak kakak Zula mengenahi kejadian yang tidak mereka ketahui
Karena saat mereka gak ada otomatis Al dan El sebagai penanggung jawab adek adeknya apa bila ada apa apa
Dan mereka sudah mengerti dan tidak minta penjelasan pada Zula lagi tentang kasus ini
Dan melihat Zula dan ceritanya Jihan kembali teringat dengan suaminya saat Zain dia tinggal pergi dulu, saat kasus dia, dan begitu juga dengan Umi Zahra yang jatuh sakit menjadi kurus kering tak terurus keduanya
Dan Jihan juga sangat menyayangkan kalau semua anak anaknya kenapa harus turun ke abahnya soal Cinta, karena Zain yang sangat bucin masalah Cinta, sedangkan Jihan cukup cuek menghadapi masalah Cinta dia gak pernah sedih dan bahkan gak mau terlihat menderita di depan siapapun terutama yang menyakitinya
" Semua juga salah Abah" ucap Jihan menyalahkan abah
" kenapa bisa salah abah??" tanya Zain heran dengan ucapan Jihan barusan
Tentu Zain heran dengan ucapan Jihan barusan, orang dia juga baru datang bersama dengan Jihan eh ikut di salahkan
" Umi heran dengan anak anak Umi, kenapa kalian semua terlalu bucin, terlalu mengorbankan perasaan kalian untuk laki laki yang bejat, " Ucap Jihan sangat dongkol
" Umi pernah mengalami hal yang sama IL" Ucap Jihan pada Zula dengan panggilan kesayangannya sejak kecil
" Bukan hanyan sebulan dua bulan ataupun setahun, 6 tahun Umi hidup menderita, Abah Umi suamo istri tapi seperti, tapi Umi Bukan lemah IL, Umi bukan wanita yang mau di injak injak dan lemah di hadapan laki laki, Umi mau buktikan tanpa mereka Umi bisa" ucap Jihan lagi
" Dan kesalahan terbesar kamu, kenapa kamu membiarkan mereka bawa suamimu, kamu tau kan sebelum ada kasus ini kamu sendiri sudah bermasalah sama mereka, dan kenapa kamu membiarkan suamimu masuk dalam masalah itu lagi? Dan justru semakin dalam?" tanya Jihan lagi pada Aira dengan Air mata Jihan yang tidak ada hentinya
__ADS_1