Apa Salahku

Apa Salahku
Eps 40


__ADS_3

"nak sekarang kamu sudah sepenuhnya menjadi istri dari nak arif, ayah harap dengan pernikahan kamu ini akan mengantarkan kamu pada kebahagiaanmu, Dan ingat patuhi semua apa yang dikatakan suamimu nak" ucap ayah rara.


yang hanya rara bisa lakukan adalah berusaha kuat, iyya juga berharap jika hidupnya akan bahagia.


"nak arif, ayah titip rara ya, tolong jaga dia, tolong bahagiakan putri ayah" ucap ayah mertua arif


arif tak berkata apa-apa iyya hanya mengangguk


.


.


.


seminggu telah berlalu, ya kini rara telah berada di rumah yg telah di beli oleh arif dan selama hari pertama iyya menginjakkan kakinya di rumah ini iyya tak sekalipun pernah berpapasan dengan arif di rumah ini, ya arif mengutus seorang sopir untuk mengantarkan istrinya kerumah barunya setelah pulang dari bandara sementara iyya sendiri entah kemana pergipun tanpa berpamitan, bahkan di kantor sekalipun rara tak melihat arif, nampaknya rara sadar bahwa arif telah menghindarinya.


sementara di tempat lain, arif yang terlihat sedang focus bersama asistennya radit kini terlihat serius, sepertinya arif benar-benar lupa bahwa iyya kini telah menikah.


"rif, kamu nggak kasihan" radit yang kini telah membuka percakapan.


"kasihan, kasihan kepada siapa? tanya arif


terlihat radit menghela nafasnya

__ADS_1


" rara" satu nama yang disebut radit


"diakan sekarang sudah jadi istri kamu, lah kamunya bahkan terlihat menghindar parahnya nggak pulang-pulang lagi" lanjut radit lagi.


"Huu, bisa diam tidak, lebih baik lanjutkan pekerjaanmu" ucap arif tegas


"tap..." ucapan radit terpotong karna suara dering telpone arif memecah percakapan mereka.


"halo" jawab arif dengan malas no


"maaf ayah, arif fikir siapa, ada apa ayah menelpon" jawab arif kaget.


"nanti malam ayah mau kamu dan rara ke rumah untuk makan malam"


"ayah tidak mau terima alasan, ayah ingin kamu ajak menantu ayah ke rumah sebentar malam"


"tapi ay..... " tit.tit.tit"


"sial" arif yg kesal membanting hpnya ke atas meja


"ada apa, kenapa wajahmu telihat kesal" tanya radit yang penasaran.


"jangan banyak bertanya, lanjutkan pekerjaanmu" jawab arif dingin. mendengar perkataan arif radit hanya mengedikkan bahunya, karna tahu pasti bos sekaligus atasannya itu sedang bad mood

__ADS_1


.


.


jam kantor pun kini telah usai, rara yg kini hendak berjalan menuju halte tiba-tiba kaget karena ada seseorang yg menariknya secara paksa dan mendorongnya dengan kasar masuk ke dalam mobil.


rara tidak berani berbicara apapun, karna pasti jika iyya berbicara iyya akan semakin mendapatkan perlakuan buruk dari arif. rara hanya menatap ke arah jendela, tak ada percakapan diantara keduanya, arif menyetir dipenuhi amarah, sedangkan rara yang memikirkan kehidupan yang harus iyya jalani, hingga tibalah mereka berdua di depan rumah yang sudah seminggu ini rara tempati.


"cepat turun" bentak arif sambil membuka seat belt nya


rara pun secepat mungkin mengikuti apa yg arif perintahkan karna bagaimanapun arif adalah suaminya, cepat-cepat iyya megikuti arif dari belakang menuju kamar.


"apa-apan ini, kenapa barang-barangmu ada di sini? bentak arif lagi.


" bu bukannya ini kamar kita, ddd.dan bukankah suami istri itu memang seharusnya satu kamar" jawab rara takut-takut.


"kamu fikir aku mau satu kamar denganmu, ingat aku hanya menganggapmu sebagai pembantu, dan jangan bertingkah melebihi batasmu" arif mencengkram dagu rara dengan kasar


"pindahkan barang-barang menjijikanmu ini, dan jangan pernah sentuh barang-barangku" lalu menghempaskan wajah rara dengan kasar pula


"baik" ucap rara dengan suara isak tangis, sambil mengambil semua barang-barangnya, saat hendak keluar dari kamar tersebut.


"bersiap-siaplah, karena aku akan pergi kerumah orang tuaku" ucap arif dingin.

__ADS_1


rara yg mendengarnya hanya mengangguk mengiyakan


__ADS_2