
Kulajukan mobil dengan pelan, belum ada bayangan ingin kemana membawa anak-anakku, ke rumah orang tua jelas tidak mungkin.
“Bunda, kita jemput Ayah dulu,” ujar Bayu diiringi anggukan setuju dari adiknya.
“Ayah kan kerja kakak, kali ini kita liburan bertiga aja dulu. Nanti ayah menyusul ya sayang?”
“Memangnya kita mau kemana bunda?”
“Kak Bayu senangnya liburan dimana?”
“Mmmm, Bayu mau berenaaang!” serunya dengan muka antusias, kedua tangannya bertepuk dan mata berbinar kesenangan, semua tingkahnya diikuti oleh adik semata wayang, kelihatan lucu dimataku, sekaligus ... menyedihkan.
“Sebelum itu kita makan dulu yuk.”
“Hoyeeeeee!” seru Tasya kegirangan, memang pembendaharaan kata-katanya cuma itu-itu saja, menyebut bunda pun belum fasih, kadang 'Nda'.
Kami memasuki sebuah rumah makan yang menyajikan menu seafood, kubiarkan bocah-bocah itu memilih sendiri makanan kesukaannya, dan seperti biasa bagianku adalah menghabiskan sisa makanan mereka. Makan pun kujalani sebagai rutinitas semata-mata hanya agar tidak sakit dan tetap memiliki tenaga dalam pelarianku.
Pernah kudengar suatu kajian bahwa seorang istri yang meninggalkan rumah saat bertengkar adalah perbuatan dosa dan dilaknat Allah, tapi mau bagaimana lagi, mungkin akan lebih parah keadaannya jika tinggal satu atap dengan Mas Raka dengan semua kesalahannya yang kurasa tak akan mampu untuk kumaafkan.
Wanita itu hamil, badanku menggigil karena amarah, separah itu Mas Raka mengkhianatiku selama ini. Atas dasar apalagi aku harus mempertahankan rumah tanggaku, kesalahannya tak termaafkan. Mungkin yang membuatku berat hanya karena anak-anak kami dan masih bingung bagaimana menjelaskan pada Ibu dan Bapak.
🍁🍁🍁
Kurebahkan tubuh penatku, cukup lelah dengan semuanya. Setelah seharian berkeliling tidak jelas akhirnya kubawa anak-anak ke Pantai Bintan Galesong, mengikuti kemauan Bayu.
Aku bukan tipikal wanita yang membagi masalah kemana-mana tapi kali ini pertahananku luluh, aku butuh teman setidaknya untuk tempat curhat, kalau tidak, mungkin bisa gila dengan semuanya. dan satu-satunya yang terpikirkan saat ini hanya Kayla, sahabat semasa kuliah dulu.
[Kay lagi dimana?]
[Eh Indah tumben-tumbenan nelpon duluan biasanya juga cuek bebek super sibuk]
[Iya maaf Kay, kamu lagi dimana? Urgent!]
[Ya di rumah lah, dimana lagi?]
[Rumah mana? Daya atau Maros?]
[Maros, sudah jarang ke Daya, suamiku hampir tidak pernah ada waktu senggang tiap hari lembur. ada apa say?]
[Bisa ketemu nggak? Aku punya masalah Kay.]
[Masalah apaan?!]
[Nanti kuceritakan, yang jelas kita harus ketemu besok]
[Oke, besok kuusahan ke Makassar ya?]
[Jangan cuma usaha, kamu harus datang apapun keadaannya.]
[Masalah apa sih? Kedengarannya penting banget.]
[Bukan cuma penting, antara hidup dan matiku]
[Ish, bikin penasaran aja. Ya udah besok tunggu di Mall Nipah aja, sudah lama nggak nge-mall]
🍁🍁🍁
“Kurang ajar si Raka!!” Kayla menggebrak meja membuat perhatian pengunjung kafe sempat beralih melihat kami dengan pandangan heran.
__ADS_1
“Sst, kontrol Kay. Tuh orang-orang pada liatin kita," kataku berusaha meredam emosinya.
“Nggak bisa, sekarang juga ayo kita temui laki-laki kurang ajar itu, sekalian dengan pelakor itu!!” ucapnya sambil berdiri dengan muka merah padam, kusambar lengannya dan memaksanya kembali duduk.
“Kay!!”
“Nggak bisa begini Indah, kok kamu lemah banget sih jadi orang??!” katanya dengan nada tinggi, membuat (lagi-lagi) sebagian orang mengalihkan pandangannya kepada kami dengan mimik terganggu.
“Ya nggak gitu juga, aku cuma nggak ingin berteng—“
“Nggak ingin bertengkar? Begitu??!!”
“Ya! Pertama aku nggak ingin buang-buang tenaga mencak-mencak dan marah-marah ke mereka biarpun jujur sangat ingin. Kedua, aku sudah pasrah Kay, mau marah pun tidak bisa mengubah kenyataan yang sudah terjadi. Wanita itu sudah hamil, dan suamiku harus bertanggungjawab." Kujelaskan panjang lebar.
“Jdi sekarang kamu mau gimana? Diam aja melihat kelakuan mereka? Enak aja!! mereka udah menginjak-injak kamu tau nggak?”
“Makanya itu ..., sekarang aku bingung harus bagaimana. Bahkan untuk bicara ke Mas Raka rasanya sudah tidak sanggup. Aku mau pisah tapi kasian anak-anak, mereka masih terlalu kecil untuk mengerti. Dan bagaimanapun mereka masih butuh sosok Ayah.”
“Indah, kok bisa kamu dapat masalah pelik gini, hiks ....” dipeluknya tubuhku sambil berurai air mata, sekuat tenaga kukontrol sedihku. Aku tak ingin jadi tontonan orang-orang.
“Ssttt, udah. Aku udah nggak mau nangis Kay, cuma mau minta masukan harus bagaimana ke depannya.” Kutepuk-tepuk pundaknya berusaha menenangkan, jadi heran sendiri sebenarnya yang suaminya selingkuh siapa sih? Ck!
Setelah puas menangis dipegangnya pundakku dan menatap dengan mata serius.
“Ayo temui wanita itu.”
“Untuk apa??”
“Pokoknya kita temui sekarang, aku ingin memastikan sesuatu.”
“Anak-anak gimana? Aku nggak mau kalau anak-anak ketemu Ayahnya disana” kataku sambil mengalihkan pandangan ke arena bermain anak-anak yang berada di sisi kiri kafe, tampak Tasya putriku melambaikan tangannya dan tertawa riang.
“Titip aja di rumah Ibuku,”
🍁🍁🍁
Plak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi kiri wanita itu, membuatnya terbelalak karena kaget.
“Hei!! Ada ap---“
Plak!!!
Kali ini pipi kanannya menjadi sasaran, menyisakan rona merah disana.
“Kay!!!” berusaha kupegang kedua tangannya tapi tenaganya lebih kuat.
“Dasar wanita jalang!!! Pe**cur!!! Nggak bisa dapat laki-laki lajang ya kamu!!!” Dijambaknya rambut ikal Sari membuat wanita itu terpental tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Kay mengejar dan melemparkan tas yang dipegangnya tepat ke kepala perempuan itu.
Kupeluk Kayla yang terlihat emosi membabi buta, berusaha kutenangkan agar tidak berbuat yang lebih jauh lagi.
“Kayla!! Sadar Kay!!!”
“Nggak bisa! Pe**cur itu harus kuberi pelajaran!” ujarnya berusaha melepaskan diri.
“Kayla!!!!” Aku berteriak semampuku, membuat Kayla terhenyak kaget.
Disana tampak Sari berusaha berdiri masih dengan muka pucat pasi, berusaha mengumpulkan kesadaran atas kejadian sekian detik yang baru saja terjadi.
__ADS_1
“Akan kulaporkan kalian dengan delik penganiayaan.” katanya dengan nada mengancam sambil memegangi dahi kanan yang tampak lecet dan berdarah terkena sudut tas Kayla.
“Heh! Coba aja kalau berani, akan kubuat kamu menyesal seumur hidupmu!” Kayla menantang sambil mengarahkan telunjuk persis ke mata Sari, masih dengan nafas tersengal karena tersulut emosi.
“Kamu ya?? Sudah menghancurkan rumah tangga sahabatku, kamu itu perempuan! Tak pantas kamu begitu, kamu punya hati nurani kan??!”
“Tanya aja ke Mas Raka--”
“Halah, semua pelakor sama saja, pura-pura jadi korban, sejak awal kamu tau kan Si Raka itu punya bini?! Kenapa juga kamu mau? Kamu udah nggak laku?! Nggak bisa dapat laki-laki single ya kamu?!”
“Sstt, Kay sudah ... malu diliatin orang.” kataku sambil melirik ke pintu.
Nampak beberapa karyawan Sari kasak-kusuk saling berbisik mencoba mencerna keributan yang baru saja terjadi. Rasanya sangat malu, bagaimanapun sebagian dari mereka mengenalku. Kulihat ada beberap ex karyawan suamiku, rupanya hanya nama dan bidang usahanya saja yang terganti, orang-orangnya pun masih sama, hanya bertambah beberapa dan tentu saja termasuk wanita perebut suamiku itu.
“Kay, udah ..., ayo kita pulang. Malu Kay!!” kupungut tas Kayla dari lantai kemudian kutarik paksa tangan sahabatku itu berusaha membawanya keluar dari ruangan, dia mengikuti langkahku tapi matanya masih menghujam ke wanita itu, ada sorot kebencian disana.
“Kay, kamu kok malu-maluin banget sih?” protesku begitu kami tiba di pelataran parkir.
“Malu-maluin? Bahkan ingin kubuat kehebohan lebih besar, biar tau rasa. Kelakuan mereka jauh lebih memalukan Ndah!”
“Tapi nggak gitu juga Kay.”
“Aku malah heran sama kamu, kok mau-maunya lemah begitu hadapin mereka. Malah lari dari rumah, sakit hati sendiri.” Mulutnya mencebik.
“Bukannya lemah, aku hanya mengendalikan diriku Kay, dan nggak gampang. Sakit tau nggak?!” Kutekan dadaku, ada sesak disana.
“Sekarang aja aku nggak tau mau kemana, belum sanggup rasanya pulang ke rumah. Aku butuh ketenangan untuk memikirkan langkah apa yang harus kutempuh, aku sudah mengamankan harta yang tersisa surat-surat penting kubawa serta, untuk jaga-jaga jika harus berpisah dengan Mas Raka, dia tidak berhak atas semuanya sesuai perjanjian pra nikah yang kami sepakati sejak awal.”
“Perjanjian pra nikah?” Kayla menelengkan wajahnya dan bertanya dengan nada menyelidik.
“Iya, seperti yang kamu tau Bapak dan Ayah mertuaku memberi kami modal sebagai hadiah pernikahan, saat itu Bapak memberi usul agar kami membuat perjanjian pra nikah, jika suatu saat kami harus berpisah siapapun yang membuat kesalahan yang menyebabkan perpisahan itu tidak akan mendapatkan harta gono-gini.” Kuhela nafas yang terasa berat.
“Saat itu aku dan Mas Raka cuma tertawa dengan usul Bapak, kami menandatangani perjanjian itu semata-mata karena menghargai beliau, tak pernah terpikirkan selama ini jika surat itu akan berguna dikemudian hari.”
“Kay, semanis apapun pernikahanmu saat ini, tetaplah selalu waspada. Bukan berarti harus curiga juga, tapi setidaknya selalu terbuka, jangan terlalu percaya, sekali-kali cek hp suami. Setidaknya jika ada hal aneh masih bisa dicegah sebelum terjadi hal yang lebih jauh. Liat aku sekarang, begitu percayanya dengan Mas Raka, bahkan meskipun ingin kupertahankan rumah tanggaku kurasa sudah tidak mungkin, entahlah ....”
“Untuk sementara kamu tinggal di rumah yang di Daya aja dulu, disana kan kosong, cuma kukunjungi sesekali jika ingin membersihkan,”
“Gimana suamimu? Kamu harus minta izin dulu,”
“Pastinya nggak masalah, kamu kayak nggak kenal Bang Akri aja.”
“Hmmm, baiklah. Makasih ya Kay.”
🍁🍁🍁
“Bun, kok kita ke rumah ini sih? Bayu mau pulang ke Ayah,” rengek Bayu dengan muka memohon.
“Nak, Ayah ke luar daerah dulu untuk waktu yang lamaaaaa sekali. Untuk sementara kita tinggal disini dulu ya sayang?” Lagi-lagi kucoba memberi alasan semampuku, entah sampai kapan.
“Kok Ayah nggak nelpon, biasanya Ayah menelpon. Bayu mau telpon Ayah.” Kali ini rengekannya berubah menjadi tangis, tak urung menorehkan kesedihan yang makin mendalam dalam hatiku.
“Disana tidak ada signal sayang, Bayu yang sabar ya? Ntar kalau ada signal pasti Ayah akan nelpon kita ....”
Diam-diam kuseka tetesan air mata yang terjatuh ke pipi, berharap Bayu tak melihat dengan cepat kuselimuti dan kubalikkan badannya untuk memeluk guling dan menghadap ke dinding kamar.
“Bayu tidur ya Nak? Semoga besok Ayah dapst signal.” Kukecup ubun-ubun dan kuucapkan selamat tidur.
Malam ini adalah malam kedua kutinggalkan Mas Raka dan belum juga kutemukan jalan keluar apa yang harus kutempuh, rasanya semua menyisakan perih. Jika kami bersatu bagaimana dengan perempuan itu, sejahat-jahatnya dia tak mungkin kubiarkan melahirkan tanpa suami, tapi jika kutinggalkan Mas Raka bagaimana dengan anak-anakku sendiri? Haruskah mereka tumbuh besar tanpa figur seorang ayah?.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung_