Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 10. Please, Love Him Like Your Son


__ADS_3

Caitlyn mengantarkan Lean sampai di depan pintu. Pria itu masih memasang wajah kesal pasal mendengar nama Nathan sejak tadi.


“Aku pergi,” ucap Lean dengan tidak berhasrat.


“Ya, pergilah. Aku menunggumu kembali secepatnya dan menandatangani surat perceraian kita. Ingat janjimu!” sahur Caitlyn tanpa senyum. Perasaannya sama kesal karena ponsel yang rusak.


Lean bukannya melangkah justru terdiam dan mematung di depan istrinya hingga beberapa detik berlalu, dia pun membawa tubuh Caitlyn dalam pelukannya. Puas memeluk, Lean lalu memberikan kecupan singkat di bibir Caitlyn lalu berbalik pergi.


“Sana beli ponsel lagi,” ucapnya saat sudah melangkah pergi.


Caitlyn mendengus. “Ck, menyebalkan.”


Dia masih berdiri di sana sampai mobil yang ditumpangi Lean menghilang ditelan gerbang. Caitlyn segera berbalik dan berlari kecil menaiki tangga dan menuju kamar mereka.


Dia ingin segera bersiap ke rumah sakit menemui Dokter Vargas untuk melihat langsung perkembangan dan pemeriksaan pria asing yang menyimpan secuil identitasnya itu.


Saat akan berganti pakaian, Caitlyn tampak berpikir sejenak. Dia kemudian mengenakan outfit biasa agar tidak memicu kecurigaan si iblis tua–Sania. Celana jeans pendek dengan hoodie yang kebesaran berwarna coklat kini menempel di tubuhnya. Rambut dicepol serta sandal jepit sudah sangat mendukung dan memperlihatkan jika dia hanya akan bepergian ke minimarket terdekat.


Caitlyn mematut penampilannya di depan cermin. Sejenak dia menunduk melihat kakinya yang berbalut sandal jepit, seketika dia terkekeh.


“Mau ke pasar, yah. Neng?” Lagi-lagi dia tertawa. “Okay, sudah pas. Let's go!”


Tangannya bergerak meraih tas jinjing sedikit kebesaran dan langsung melenggang pergi keluar kamar. Begitu kakinya sampai di anakan tangga terakhir, suara Sania menahannya.


“Mau ke mana kau, Anak pungut?” Sania sudah berdiri menghalangi jalannya dengan tangan yang terlipat di dada.


Caitlyn menaikan sebelah alisnya. “Apa aku perlu izin darimu untuk ke luar?” Caitlyn beranjak dari tangga terakhir dan kini berdiri tepat di hadapan Sania.

__ADS_1


Sania tertawa remeh sambil menatap Caitlyn dari ujung rambut sampai kaki. “Benar-benar anak pungut. Memang cocok kau berpakaian seperti ini, daripada menggunakan barang mahal tetapi tetap terlihat seperti sampah. Kau tau sampah?” Sania menekankan kata terkahirnya.


Caitlyn memasukkan sebelah tangannya yang bebas ke dalam saku hoodie yang ia kenakan. “Setahuku … hmm … aha, sampah itu mereka yang menggunakan uang seseorang dengan cara MENCURI. Benar begitu, Ibu mertua?”


Sania terbungkam dengan fakta yang diucapkan Caitlyn tetapi dia tetap memasang wajah tidak berdosa sedikit pun.


“Ah, jadi kau sudah tau juga, yah? Baguslah. Yang perlu kau ketahui bahwa aku tidak salah menggunakannya. Itu uang anakku–”


“Anak tiri. Hanya anak tiri!” ucap Caitlyn mempertegas dan langsung menghentikan ucapan Sania selanjutnya. “Jangan lupa bahwa posisimu hanya sebagai ibu tiri yang buruk dan istri kedua. Sedangkan aku, posisiku di sini adalah istri sah dan satu-satunya ISTRI SAH! Beda, bukan? Jadi kira-kira siapa yang lebih pentas menggunakan uang keluarga Sanjaya?” Kata-kata Caitlyn bagai busur yang menancapkan panah tepat mengenai dada Sania.


Baru saja ingin membalas perkataan Caitlyn, menantunya itu sudah lebih dulu membungkamnya sekali lagi.


“Sssttt, aku belum selesai bicara, Mama mertua.” Telunjuknya bahkan menempel di mulut Sania. “Tapi asal kau tahu, aku sudah dengan ikhlas hati ingin melepas status terhormat sebagai istri sah Aleandro Sanjaya. Itu artinya, kau dan putrimu yang tidak tau diri itu tidak akan pernah lagi mendapatkan apa-apa,” sambung Caitlyn dengan percaya diri menjatuhkan Sania.


“Kau …! Kau tidak akan pernah bisa melakukannya, Anak pungut tidak tau diuntung!” teriak Sania murka.


Caitlyn tertawa lagi. Sedetik kemudian dia menghentikan tawa dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Terima kasih karena dulu telah menafkahiku dan ayahku. Terima kasih karena telah memaksaku untuk menjebak Lean dan berhasil menikahinya. Sudah cukup bahkan lebih yang kau dapatkan selama tiga tahun ini, kan? Aku sudah berhenti menjadi alatmu, Tante Sani. Aku bukan lagi menantumu, bukan lagi menantu keluarga Sanjaya!” tandas Caitlyn dengan lancar dan sukses membuat Sania tidak mampu berkata-kata.


Sania tahu bahwa saat panggilan Caitlyn kepadanya telah berubah, berarti semuanya sudah usai. Sania tidak bisa, tidak ingin menerima kenyataan ini.


“Aku permisi, Tante!” ucap Caitlyn dengan tegas dan berlalu dari hadapan Sania yang masih saja mematung di tempatnya.


Baru dua langkah, Caitlyn berbalik lagi dan mengucapkan satu kalimat yang tidak memiliki arti apa-apa bagi Sania, tetapi sangat berarti bagi dirinya sendiri.


“Satu lagi, Tante. Tolong sayangi Lean seperti anakmu sendiri. Jika kau bisa melakukan itu, aku yakin dia juga pasti akan menyayangimu seperti ibu kandungnya, bahkan dia akan memenuhi semua yang kau inginkan.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Caitlyn berbalik sambil menghapus basah yang tergenang di pelupuk matanya seraya benar-benar melangkah pergi. Sampai di dalam mobil, Caitlyn menumpahkan segala rasa yang menyesakkan hatinya.


Kata-katanya yang meminta Sania untuk menyayangi Lean, sangat menyesakkan baginya. Dia berharap saat dirinya pergi dari hidup pria itu, ada seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya, tidak sekedar melihat hartanya saja.


Puas menumpahkan air mata, Caitlyn membersihkan kembali wajahnya menggunakan tissue. Dia pun menarik nafas dalam-dalam dan mulai menjalankan mobilnya.


Wanita itu lebih dulu singgah di apartemen Saskia untuk berganti penampilan menggunakan perlengkapan yang dia bawa dalam tas jinjing miliknya. Tidak hanya itu, tujuannya yang lain adalah supaya jangan sampai orang-orang yang mengikutinya tahu mengenai perjalanan dia yang sebenarnya.


“Lu kalo seperti ini, orang-orang gak bakal percaya kalo lu istri dari yang mulia, Aleandro Sanjaya,” ucap Saskia dengan nada mengejek.


“Ck, ini juga mau ganti, Ki. Lagian gosah bawa-bawa dia lagi. Bentar lagi cere. Aku bebas menakdi diriku tanpa harus mengikuti tingkat sosial mereka,” balas Caitlyn sembari berganti pakaian.


Kini dia terlihat lebih cantik dan modis dengan kaos putih dilapisi bleezer. Tidak lupa rambutnya diikat tinggi menggunakan topi dan juga kacamata untuk sedikit menutupi wajah cantiknya.


“Perfect! Ini baru istrinya Tuan Lean.” Saskia tertawa setelah mendapat lirikan tajam dari sahabatnya.


“Gua pergi. Mau ikut gak?” tanya Caitlyn dengan malas.


“Ogah, mau tidur mumpung syuting malam. Gua bantu doa aja biar itu cowok cepat sadar dan menjelaskan semuanya,” jawab Saskia disertai doa dan harapan.


“Yodah, bye!”


Caitlyn berlalu dari apartemen Saskia dan langsung turun ke basemen. Dia pun kembali bersiap mengendari mobilnya menuju rumah sakit.


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2