
Kebahagiaan kini dirasakan oleh keluarga besar Sanjaya setelah kembalinya Caitlyn ke kediaman utama. Sebelum mobil yang ditumpangi pasangan Lean dan Caitlyn, juga Hadya tiba di sana, para pelayan sudah mendapat instruksi dari Jerry untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan nyonya muda mereka.
Tentu saja berita tersebut disambut antusias oleh para pelayan. Apalagi Dita. Gadis pelayan itu begitu bersemangat dalam mempersiapkan segalanya. Dia sudah begitu rindu dengan sosok cantik nyonya mudanya.
Mobil kini memasuki gerbang besar kediaman Sanjaya dengan banyaknya para penjaga yang berdiri bagai pagar hidup di sini kiri dan kanan gerbang di sana. Mobil terus bergerak melewati gerbang dan jalanan beberapa meter jauh ke depan, sebelum akhirnya tiba di depan rumah besar.
Di sana juga sudah ada puluhan pelayan yang berbaris menuggu kedatangan mereka. Tidak ketinggalan Jerry pun ada di sana.
“Jerry? Bukannya tadi dia dengan mobil di belakang kita yah, Pa?” tanya Caitlyn keheranan pada ayah mertuanya.
Hadya terkekeh kecil. “Dia tahu apa yang harus dia lakukan, Sayang. Tidak perlu dipikirkan,” jawab Hadya. “Pikirkan saja setelah ini apa yang akan kamu lakukan,” lanjut Hadya.
Caitlyn hanya mengangguk meskipun tidak mengerti dengan cara kerja asisten suaminya itu sama sekali. Dia kemudian membangunkan Lean yang masih tertidur nyaman dalam pelukannya. Beberapa kali menepuk pelan pundaknya, pria itu tidak juga memberikan respon. Hadya melihat itu menjadi sangat gemas.
“Dasar anak ini ... bukan membiarkan istrinya yang istirahat, malah dia yang istirahat.” Hadya menggeleng kepalanya.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, Hadya menengok ke belakang lalu menepuk pundak Lean sedikit kuat.
“Bangun, Lean. Kau mau tidur di mobil terus? Kasihan Caitlyn. Kau membuatnya kelelahan,” ucap Hadya sedikit kesal.
Bukan apa-apa. Sebenarnya dia juga tidak tega dengan kondisi sang putra, tetapi Hadya juga memikirkan Caitlyn yang tengah hamil. Ya, meskipun Caitlyn sendiri tidak masalah sama sekali dengan hal tersebut.
“Tidak juga, Pa. Aku tidak apa-apa. Sudah istirahat juga tadi di rumah sakit. Papa duluan saja kalau begitu. Caitlyn biar menunggu Al sampai bangun. Kasian dia juga kecapean, Pa.” Caitlyn berucap pengertian sambil mengusap kepala Lean dengan lembut.
Hadya tersenyum senang melihat pemandangan indah yang telah lama dia impikan itu.
“Jangan menunggunya untuk saat ini saja, Sayang! Tapi papa minta supaya kamu sabar menunggunya untuk waktu yang lebih lama lagi.” Hadya menarik napasnya panjang. “Kau sudah boleh percaya dengan kata-kata papa jika Lean sangat mencintaimu?” tanyanya kemudian.
Namun, semua itu rasanya belum lengkap meski sudah cukup. Masih ada dua hal yang ingin Caitlyn saksikan agar melengkapi dan menyempurnakan kepercayaannya pada Lean.
“Papa tau apa yang kamu pikirkan. Percayalah, saat itu akan tiba dan tidak lama lagi.” Lagi ucap Hadya.
__ADS_1
“Iya, Pa. Caitlyn percaya, kok,” balas Caitlyn tersenyum.
“Ya, sudah. Papa duluan, yah. Nenek kalian pasti sudah menunggu di dalam sana dengan tidak sabar. Bangunkan dia, jangan hanya diam menunggu dan menatapnya tak puas-puas!” goda Hadya seketika membuat Caitlyn tersipu.
“Papa, iiihhh ...,” rengek Caitlyn yang begitu malu.
Hadya menanggapinya hanya dengan tawa. Pria itu kemudian keluar dari mobil menyisakan pasangan yang baru saja berbaikan beberapa jam lalu.
“Yang lain boleh masuk dan lanjutkan pekerjaan kalian. Biarkan dua atau tiga orang saja yang menunggu mereka.” Hadya berkata pada para pelayan yang sedari tadi berdiri berbaris di sana.
Beberapa pelayan akhirnya berjalan di belakang Hadya, sedangkan yang lainnya termasuk Jerry, masih berdiri menunggu Lean dan Caitlyn. Dalam hati para pelayan itu memikirkan apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh pasangan di dalam sana. Tidak terkecuali Jerry karena dia pun tadi tidak ikut bersama mereka.
Apa yang mereka lakukan? Apa tuan muda tertidur karena lemas atau ... arrrgghh, pikiranku!
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...