
Hadya dan Rendi menghentikan pembahasan mereka ketika Lean muncul di sana. Padahal, Hadya masih sangat penasaran dan masih ingin terus mengorek masa-masa pada beberapa tahun silam.
“Nenekmu sudah tidur?” tanya Hadya basa-basi.
“Ya, seperti yang Papa tau,” jawab Lean sambil mengedikan kedua bahunya.
Pria berparas tampan dan berkharisma itu melangkah mendekat, kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya pada sofa dekat dengan sang ayah. Lean melirik jam besar yang ada di dinding. Waktu kini menujukkan pukul 4 sore.
“Apa Caitlyn belum–”
Perkataan Lean terhenti saat seorang pelayan wanita datang dan memberikan telepon rumah area dapur pada Lean.
“Maaf, permisi, Tuan. Ini ada telepon dari nona.” Pelayan itu berkata sambil menunduk dalam-dalam. Tidak lupa dia pun menyerahkan telepon sejenis wireless pada tuannya.
Sebelum menerima telepon yang diberikan oleh sang pelayan, Lean lebih dulu berapa saku celananya. Dia baru sadar jika dirinya ternyata tidak membawa ponsel. Cepat-cepat pria itu meraih telepon dari tangan pelayan.
📞 “Iya, sayang? Kau sudah bangun?”
📞 “Ke kamar sekarang juga. Gak pake lama!”
__ADS_1
Lean baru ingin menjawab, teleponnya sudah lebih dulu dimatikan. Tidak menunggu lama lagi, detik itu juga Lean bangkit dan berlari secepat kilat menuju kamar. Pria itu bahkan membuang telepon rumah tanpa mengembalikannya pada pelayan.
Hadya dan Rendi melihat itu hanya terbengong tanpa tahu apa yang tengah terjadi.
“Kenapa dia? Apa terjadi sesuatu dengan Caitlyn?” gumam Hadya.
Pria paruh baya itu lalu bertanya pada pelayan tadi yang menerima telepon dari Caitlyn. Jawaban sang pelayan cukup untuk membuat Hadya merasa tenang. Dia berpikir mungkin Caitlyn hanya membutuhkan bantuan kecil dari suaminya saja. Well, Hadya tidak perlu khawatir.
“Em, kita sudahi dulu pembahasan ini. Tapi bolehkah saya meminta sesuatu darimu, Rendi?” Wajah Hadya terlihat tengah memikirkan sesuatu.
“Baik, Tuan. Katakan saja, Tuan. Jika saya dapat memberikannya, akan saya lakukan.” Seperti biasa, Rendi selalu siap. Mungkin saja tindakan-tindakan kecil seperti ini adalah bentuk terima kasihnya pada keluarga Sanjaya.
Tidak perlu memikirkan lama-lama, Rendi mengiyakan permintaan Hadya dengan senang hati.
“Baik, Tuan. Akan saya lakukan seperti yang Anda inginkan. Jika menerima tawaran nona untuk tinggal bersama ... saya juga tidak akan menerima karena saya sadar diri tidak pantas di sini, Tuan,” aku Rendi.
“Em, bukan. Tidak seperti itu juga. Hanya saja saya perlu sedikit bantuan kamu. Jadi tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak. Setelah ini, saya berjanji akan memberikan tempat tinggal yang layak untuk kamu. Dan tidak perlu khawatir, saya akan membiayai kebutuhan kamu selama kamu di sana,” janji Hadya.
Rendi menggeleng. “Jangan, Tuan! Tidak perlu melakukan itu. Sudah banyak yang keluarga ini berikan pada saya. Sudah seharusnya saya membalas budi baik keluarga ini. Saya akan melakukannya dengan ikhlas, Tuan. Jika Anda berpikir untuk membiayai saya, saya gak tau diri namanya. Saya akan merasa jika saya lagi-lagi memanfaatkan keluarga ini, Tuan. Tidak, tidak. Saya bisa menafkahi diri saya sendiri. Terima kasih untuk kebaikan Anda dan keluarga Anda, Tuan.”
__ADS_1
“Ah, kalau begitu ... bagaimana jika kau kuberikan pekerjaan di perusahaan kami? Pilih saja kau ingin bekerja di bagian mana sesuai kemampuan kamu. Ini bukan lagi sogokan, ‘kan?” tanya Hadya dengan nada sedikit bercanda.
Rendi tersenyum kecil dan tampak berpikir. Namun, lagi-lagi Hadya memaksanya tanpa memberikan kesempatan bagi pria itu untuk memilih dan memutuskan sendiri.
“Ayolah, Nak. Tidak perlu banyak berpikir. Anggap saja ini hadiah kecil untukmu karena ingin memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dengan pekerjaan ini juga kamu bisa mendapat uang atau gaji dengan tidak cuma-cuma. ‘Kan, kamu bekerja. Jadi tidak ada yang membiayai kamu, tapi kamu bekerja untuk diri kamu sendiri. Mengerti?” jelas Hadya dengan sabar.
“Baik, Tuan. Saya akan menerimanya,” jawab Rendi dan Hadya ikut senang mendengarnya.
Dia menepuk pelan pundak Rendi. “Menantuku juga pasti setuju dengan ide ini. Ingat, dia menganggapmu sebagai kakaknya, bukan orang lain. Jadilah kakak yang baik untuknya. Tetaplah di sini sampai dia datang. Ingat perjanjian kita tadi, yah. Saya ke kamar sebentar.”
Hadya bangkit berdiri meninggalkan Rendi sendirian di sana ditemani beberapa pelayan yang berdiam di sana. Pria itu mengedarkan pandangannya menatap setiap sudut ruang keluarga yang dia tempati saat itu.
Keluarga kaya dan terpandang seperti mereka, bisa-bisanya berbaik hati padaku yang miskin dan jahat ini? Ah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup yang lebih baik ini. Aku doakan kebaikan dan kebahagiaan selalu mengikuti keluarga mereka!
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1