
Saat ini Lean dan Caitlyn tengah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit kota. Tadinya mereka hendak menggunakan mobil ambulans tetapi Lean menolak dengan alasan lebih nyaman menggunakan mobilnya sendiri.
Alhasil dirinya dan Caitlyn menggunakan mobilnya. Tidak lupa, dua orang tenaga medis ikut bersama mereka agar mengantisipasi kalau-kalau di tengah perjalanan Caitlyn membutuhkan pertolongan.
Lean mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena tidak ingin membuat Caitlyn merasa ketakutan lagi. Perjalanan menuju rumah sakit masih sangatlah jauh. Oleh karena itu, dia meminta Caitlyn untuk beristirahat khawatir jika wanita itu akan kelelahan.
“Tidurlah, perjalanan ke kota masih jauh,” ucap Lean dengan lembut.
Caitlyn menggeleng pelan lalu menjawab, “Tidak apa-apa. Aku juga belum mengantuk.”
“Kamu pasti lelah, Caitlyn. Ini juga sudah jauh malam, tidak baik begadang. Apalagi kamu lagi hamil,” protes Lean tetapi dengan nada yang super lembut seperti awal tadi.
Tidak menjawab, Caitlyn justru terdiam sambil menoleh ke samping dan menatap wajah tampan yang tengah mengemudikan mobil dengan serius. Merasa dirinya ditatap, Lean menoleh sekilas dengan kedua kening yang terangkat.
“Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” tanyanya bingung dan kembali menatap ke depan.
Caitlyn menggeleng lagi. Wanita itu lalu memperbaiki posisi duduknya agar menjadi lebih baik dengan posisi lurus ke depan dan lebih tegak.
“Tidak ada. Aku hanya tidak percaya kalau kamu bisa ngomong kayak gitu.” Caitlyn membuang pandangannya keluar jendela yang ada di sebelahnya, menatap jalanan gelap. “Apa kamu sepeduli itu atau hanya karena kasihan–”
Ucapannya mendadak terhenti dan detik itu juga dia kembali menolehkan pandangannya pada Lean. Jantungnya berdebar kencang mengoptimalkan kerjanya dua kali lipat dari biasanya, saat Lean meraih sebelah tangannya dan menggenggam erat.
__ADS_1
Detik berikutnya tubuh Caitlyn membeku saat pria itu membawa tangan yang digenggamnya, lalu menempelkan pada bibirnya. Ketika ia merasakan kecupan Lean yang begitu hangat dan dalam pada punggung tangannya, Caitlyn mendadak panas dingin.
Oh, damn! Adegan-adegan seperti ini sangat tidak baik untuk kerja jantungnya. Namun, dia pun tidak tahu bagaimana cara menenangkan dirinya sendiri, bahkan sekedar ingin menarik tangannya saja Caitlyn tak berdaya.
Ah, pengaruh Lean masih terlalu besar dalam hidupnya. Masih sama seperti dulu. Caitlyn masih membisu dan terus menatap seraut wajah tampan dengan pahatan indah dan sesempurna dewa Yunani itu.
“Maafkan aku,” ucap Lean setengah berbisik, tetapi Caitlyn masih bisa mendengar itu.
Spontan saja Caitlyn tersentak mendengar kosa kata yang hampir tidak pernah dia dengar terlontar dari mulut Lean selama ini.
“Al?” Caitlyn sungguh tidak percaya.
“Kenapa?” tanya Caitlyn bingung.
“Kesalahanku terlalu banyak dan aku bahkan belum berusaha melakukan apapun yang pantas dan layak untuk mendapatkan maafmu.” Lean menurunkan tangan Caitlyn dari bibirnya.
Namun, bukannya melepaskan, dia justru setia menggenggamnya dengan sebelah tangan yang fokus menyetir. Lagi dan lagi Caitlyn terdiam tidak tahu apa yang harus dia katakan. Lean selalu saja membuat hal yang mengejutkan dalam hidupnya.
Pria itu tersenyum kecil dan kembali mengecup punggung tangan Caitlyn sejenak.
“Jangan terus menatapku seperti itu tapi tidurlah biar sejenak,” saran Lean.
__ADS_1
Caitlyn mendengus kecil lalu ikut tersenyum. “Temani aku dan jangan ke mana-mana,” pinta Caitlyn.
“Aku di sini, di sampingmu.” Menoleh sebentar. “Tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang mengganggumu lagi bahkan menyakitimu.”
Dan ucapan itu berhasil membuat perasaan Caitlyn jauh lebih tenang. Perlahan dia pun mulai menutup mata dan tertidur dengan damai, dengan senyum yang masih terlihat jelas.
Aku berharap ini bukan mimpi. Dan saat aku terbangun nanti, kuharap kau yang ada di sampingku. _Caitlyn_
Mungkin setelah ini, aku tidak akan pernah beranjak sedikit pun dari sisimu. Sampai kau yang tak lagi menginginkan dan menyuruhku untuk menjauh. _Lean_
Mobil terus melaju dengan Lean yang kini sedikit menaikan kecepatan lebih daripada yang tadi.
Sementara itu, dua orang tenaga medis yang sederi tadi mendengar dan melihat interaksi pasangan suami-istri di depan itu, hanya diam dan bersikap seolah patung yang tidak mendengar atau melihat apapun.
Kalaupun mereka mendengarnya, apa peduli Lean akan hal itu? Mungkin Caitlyn akan sedikit merasa risih, tetapi Lean sudah pasti tidak peduli dengan apa pun.
Di benak pria itu sekarang hanyalah memeriksakan kondisi kesehatan Caitlyn dan bayinya. Setelah itu, dia ingin menuntaskan urusannya dengan Sania, Nathan, dan juga Tamara. Jangan lupa, dia punya sesuatu yang besar untuk mereka semua.
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1