Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 73. Sisi Manis Caitlyn


__ADS_3

Bersyukur. Itulah yang sedang dilakukan Hadya saat ini. Mungkin Lean pun sama. Dua pria berbeda generasi itu dapat tersenyum lega dan tenang karena respon Caitlyn yang tidak terlalu shock dan terpukul seperti yang mereka bayangkan.


Lean akhirnya memerintahkan anak buah ayahnya untuk membawa Rendi ke rumah sakit. Lean tidak habis pikir apa sebenarnya yang ada di kepala wanita itu. Dia bukan saja tidak mengenal Caitlyn, tetapi dia juga tidak pernah bisa memahaminya.


“Papa keluar sebentar dulu, yah. Ada yang mau papa urus,” ucap Hadya memecahkan keheningan yang mendominasi sedari tadi.


Lean berhenti dari lamunannya dan mengangguk. Begitu pun dengan Caitlyn. Belum lama Hadya keluar, Saskia juga ikutan berpamitan dari sana.


“Hm, Ly. Gue juga balik aja, yah. Mau istirahat bentar sebelum syuting sore.” Saskia berucap sambil melihat jam di pergelangannya.


“Loh ... kok, semua pada pergi, sih?” Caitlyn seolah tak menerima.


“Lu, ‘kan, udah ada dia.” Menunjuk Lean menggunakan bibirnya. “Katanya dari tadi cuman pengen ketemu bapaknya si bayik, sampe demo gak mau makan, baru mau makan pas bapaknya si bayik datang.” Saskia sengaja menggoda Caitlyn.


Dia gemas melihat wajah Caitlyn yang ditekuk karena tidak ingin dirinya pergi dari sana. Oleh sebab itu, Saskia menggodanya agar wajah cantik itu memerah bukannya ditekuk.


Benar saja, wajah Caitlyn kini memerah bak kepiting rebus. Apalagi Lean yang terus menatapnya seolah tak bosan-bosan. Caitlyn rasanya ingin menghilang saja di dasar bumi paling bawah.


Dengan menutup kedua matanya menggunakan tangan, Caitlyn mengintip wajah menyebalkan Saskia yang sedang terkikik geli melihat tingkah malunya.


“Ih, dasar temen lucknut lu. Malu-maluin aja. Sana pergi, gosah balik-balik lagi, yah. Gue sebel sama lu!” Caitlyn bahkan melemparkan sepotong apel ke arah Saskia.


Wanita bertubuh semok itu tertawa mendengar omelan sahabatnya.


“Iya, iya ... yang udah ada ayang jadi gak butuh gue lagi, iya, deh ....” Saskia semakin tertawa dan Caitlyn semakin malu.

__ADS_1


“Saskiaaaa ...!” teriak Caitlyn dengan kesal.


Tawa Saskia makin pecah dan dia pun berpamitan pada Lean dan segera keluar dari sana meninggalkan pasangan yang entah dikatakan bercerai ataukah tidak.


Kedua tangan masih menutup wajahnya, Caitlyn memberanikan diri sedikit mengintip. Dan si*alnya Lean masih saja dengan posisi sama menatapnya tak jengah. Caitlyn tidak lagi bisa menahan dan dia pun gantian menutup kedua mata Lean menggunakan kedua tangannya.


“Jangan liatin gitu terus! Malu tau. Omongan Saskia juga jangan didengerin. Ngaco itu orang,” gerutu Caitlyn.


“Kenapa memangnya kalo aku mau liatin terus? Emang nanti ada yang marah? Ada yang larang?” tanya Lean dengan mata masih tertutup telapak tangan Caitlyn.


“Bukan! Gada!” sanggah Caitlyn cepat.


Lean berdecak dan menurunkan tangan Caitlyn dengan paksa, tetapi lembut.


Caitlyn tidak dapat menghindar dan mau tidak mau, dia harus menjawab pertanyaan dari Lean. Saking malu dan tidak dapat berkata-kata, dia hanya bisa mengangguk sambil menunduk.


“Apa? Aku gak ngerti. Yang bisa aku mengerti hanya kata-kata darimu.” Sengaja berucap demikian.


“Iya,” jawab Caitlyn masih menunduk.


“Iya apa?” Lean gemas melihat sisi manis Caitlyn yang satu ini. Sisi yang tidak pernah dia liat sebelumnya.


“Iya, punya kamu,” jawab Caitlyn sekali lagi.


“Apanya yang punya aku?” Sampai di sini Lean sudah menahan tawa setengah mati.

__ADS_1


“Isshh, iya ... aku masih milik kamu, masih jadi punyanya kamu!” seru Caitlyn dengan sangat terpaksa dan terdesak. Dia bahkan mengangkat wajahnya dengan tidak tahu malu lagi.


Gelak tawa Lean pecah seketika mendengar suara Caitlyn yang terdengar jelas bahwa tersirat kekesalan di sana.


“Gak iklhas banget. Kayaknya beneran sudah ada yang lain. Aku ngalah aja udah–”


“Ih, gada, Al.” Caitlyn yang memiliki tingkat sensitivitas melonjak semenjak hamil, tiba-tiba saj menangis.


Lean menjadi panik dibuatnya. “Loh, kok, nangis?”


“Lagi-lagi kamu gak pernah percaya sama aku. Aku harus apa biar kamu percaya?” racau di sela-sela tangisnya.


Tidak tega, Lean bangkit berdiri dan memeluknya. “Maaf, aku tadi hanya bercanda. Untuk sekarang dan waktu yang akan datang, aku akan selalu percaya padamu,” ucap Lean membuat membuat tangis Caitlyn mereda.


“Kau serius, Al?” tanya Caitlyn ragu.


Lean mengangguk dan mencium kepala wanita cantik itu. “Sangat serius. Mulai detik ini, aku akan menaruh seluruh keyakinan dan kepercayaanku padamu, Caitlyn.”


Dapat Lean rasakan jika tangan halus itu bergerak pelan membalas pelukannya. Akhirnya dia bisa tersenyum lega dan semakin mengeratkan pelukannya.


Tidak hanya percaya padamu, Caitlyn. Tapi aku juga ingin mengatakan jika aku ....


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2