
Amarah Lean belum reda. Tidak henti-hentinya dia menyakiti pelayan wanita itu. Namun, di samping siksaan yang didapatkan pelayan itu, dia pun tidak ingin membuka mulut soal siapa yang menyuruhnya.
Meskipun begitu, baik Lean maupun Hadya tahu persis jika ini perbuatan Sania. Tidak mungkin yang lain. Hanya iblis tua itu yang selalu berusaha menyakiti Caitlyn.
“Selama ini yang beri makan kamu itu siapa, hah? Kurang baik apa keluarga ini padamu. Kau bahkan aku percayakan untuk selalu dekat dan menjaga istriku, tapi kau menunjukkan betapa rendahnya dirimu dan memang tidak pantas berada di samping istriku.” Lean mendorong kepalanya dengan keras hingga mencium lantai di bawahnya.
Calon ayah itu masih belum berdiri dari hadapan Dita. Dia masih terus menyoroti pelayan wanita itu dengan tajam.
“Kau masih tidak ingin mengatakan kau bekerja untuk siapa?” tanyanya sekali lagi. “Meskipun kau bungkam, aku tau jawabannya jadi percuma saja kau berdiam seperti ini,” imbuh Lean.
Suasana di sana sangatlah menegangkan. Para pelayan masih berbaris dan menunduk dengan ketakutan. Sementara Dita meskipun telah gemetar ketakutan, tetapi dia masih saja ingin menyembunyikan segalanya.
“Jerry!” panggil Lean dengan keras.
“Iya, Tuan!” jawab asistennya tidak kalah tegas.
“Kau tahu harus bawa dia ke mana?” tanya Lean dan asistennya mengangguk. “Seret dia ke sana dan jangan beri minum atau makan apapun sampai aku datang!” titahnya.
“Baik, Tuan!” jawab sang asisten.
Jerry langsung bergegas menarik pelayan wanita itu dengan kasar menjauh dari sana. Rintihan kesakitan yang terdengar dari mulut perempuan itu tidak dihiraukan Lean maupun asistennya.
Pria berparas tampan itu bangkit dari duduknya dan kembali menatap satu per satu wajah-wajah para pelayan di sana.
“Saya tegaskan lagi untuk kalian semua. Jangan pernah berpikir untuk mengkhianati keluarga ini!Karena saya tidak mengampuni siapapun yang telah berkhianat. Setelah hari ini, kalian akan mendengar apa yang terjadi dengan pelayan tadi hingga tidak seorang pun yang akan dengan berani mengulang kejadian seperti ini. Jika ada dari kalian yang sudah lelah berada di sini atau kecewa dengan peraturan di rumah ini, tulislah permohonan pengunduran diri dan berikan padaku atau salah satu anggota keluarga ini. Kalian mengerti?” tanya Lean dengan suara yang dikeraskan.
“Mengerti, Tuan!” Semuanya menjawab serempak.
“Satu lagi, aku ingin mengingatkan pada kalian semua jika istriku sedang mengandung. Tugas kalian adalah menjaganya agar terhindar dari segala hal-hal yang membahayakannya. Perhatikan semua lantai jangan sampai ada yang licin. Perhatikan kehigienisan makanannya. Jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk padanya, penjara bukanlah tempat kalian, tapi siksaan yang tidak akan pernah kalian bayangkan hingga pada akhirnya kalian memilih untuk tiada dengan sendirinya. Hal inilah yang akan terjadi pada pelayan rendahan tadi.” Lean memperingati dengan keras.
Dapat dilihat dari wajah-wajah mereka jika mereka begitu ketakutan. Lean berharap tidak akan terulang lagi kejadian seperti ini.
Papa Hadya lalu datang dan berbisik padanya, meminta dia supaya menyudahi ini dan kembali masuk untuk melihat kondisi istrinya. Lean mengangguk dan dia pun menyerahkan sisanya pada sang papa.
Setelah kepergian Lean, Hadya pun memerintahkan para pelayan itu untuk kembali bekerja dengan tugas mereka masing-masing. Dia yakin bahwa peringatan-peringatan dari putranya sudah cukup, jadi dia tidak perlu banyak bicara lagi.
“Kembalilah dan kerjakan tugas kalian masing-masing. Dan lupakan kejadian hari ini. Jangan ada seorang pun yang coba-coba membahasnya lagi. Cukup ingat saja peringatan dari putraku. Kalian mengerti?” tanya Hadya dan semuanya mengangguk. “Kembali ke wilayah kerja masing-masing!” perintahnya dan barisan itu pun segera bubar.
Hadya lalu bergegas hendak masuk dan menemui menantunya, tetapi kedatangan seseorang dengan tergesa-gesa membuat pria itu mengurungkan niat semula.
__ADS_1
“Tuan, Tuan, Tuan!” panggil orang itu dengan napas yang tersengal-sengal.
“Rendi? Ada apa? Apa yang telah terjadi? Kenapa kau terlihat seperti habis dikejar-kejar seperti ini?” cecar Hadya penasaran.
Rendi masih mengatur napasnya dengan baik. “Tuan, apakah Tuan sudah melihat berita pagi ini?” tanyanya yang mulai bernapas dengan teratur.
“Belum. Memangnya ada berita apa?” tanya Hadya dengan mata memicing.
Rendi tidak menjawab melainkan menarik tangan tuannya dan berjalan menuju ruangan besar yang dinobatkan sebagai bioskop mini di kediaman mewah tersebut.
Sementara itu di kamar Nenek Sanju, Lean membuka pintu kemudian masuk dan langsung memeluk tubuh istrinya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa? Ayo, kita ke rumah sakit!” ajak Lean.
Caitlyn menggeleng. “Aku gak papah, Al. Aku cuman mau sama kamu.” Suara Caitlyn terdengar bergetar.
Lean paham jika istrinya itu masih merasa ketakutan. Dia pun semakin mengeratkan pelukannya.
“Aku di sini, Sayang. Tenanglah, aku tidak akan ke mana-mana. Aku di sini,” ucap Lean sembari mengecup kepala istrinya berulang kali.
Posisi Lean yang berdiri saat itu membuat Caitlyn harus menengadah untuk menatapnya.
Lean mengangguk mengiyakan permintaannya. Dia pun berpamitan pada Nenek Sanju dan langsung menggendong istrinya menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua.
Tiba di kamar, Lean merebahkan tubuh Caitlyn dengan lembut ke atas ranjang. Pria itu lantas berbalik hendak melepas jas yang dia gunakan, tetapi tangan Caitlyn menahannya dengan cepat.
“Jangan pergi, tetaplah di sini temani aku, Al.” Suaranya bahkan belum stabil. Getaran itu masih terdengar.
“Iya, Sayang. Aku tidak ke mana-mana hari ini. Hanya mau lepasin jas,” ucap Lean dan Caitlyn belum mau juga melepaskan tangannya.
“Di sini saja,” pinta istrinya lagi.
Lean mengangguk dan melepas jas, dasi, dan juga sepatu dengan posisi tetap berdiri di samping istrinya. Dia khawatir tetapi gemas juga melihat Caitlyn yang tidak ingin melepas pandangan sedikitpun darinya.
Begitu selesai, dia membuang benda-benda itu ke sembarang arah lalu dengan wajah penuh senyum dia pun ikut naik ke ranjang dan berbaring di samping istrinya.
“Kau takut sekali aku pergi.” Berucap sambil membawa Caitlyn ke dalam pelukannya.
Dengan posisi seperti ini, Lean dapat merasakan jika sang istri mulai tampak tenang. Dua lengan besarnya merengkuh tubuh Caitlyn dengan hangat. Bibir yang terus mencium kepala wanita itu, serta telapak tangan yang terus mengelus punggung halus sang bumil.
__ADS_1
“Jangan ke mana-mana!” Hanya itu yang terus diucapkan Caitlyn.
Tidak menjawab, Lean hanya merespon dengan pelukan yang kian erat. Tidak lama setelah itu, ponselnya berdering. Lean berpikir jika Caitlyn telah tertidur dan dia ingin bergeser mengambil ponsel yang ada di nakas, tetapi tangan Caitlyn tiba-tiba memeluknya erat mencegahnya untuk bergerak.
“Cuman ambil ponsel saja, Sayang. Aku tidak ke mana-mana.” Lean langsung meraih benda pipih yang terus bergetar di sana.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, Lean langung menjawab panggilan itu.
📲 “Iya, Halo!”
📲 “Selamat pagi, Tuan Sanjaya. Saya ingin meminta maaf karena tidak dapat ke lokasi proyek hari ini karena mendadak ada kepentingan keluarga. Sekali lagi maafkan saya.”
Lean langung tersadar siapa yang meneleponnya.
📲 “Oh, tidak masalah, Tuan Vargas. Anda bisa mempercayakan itu pada tim.”
📲 “Baik, Tuan Sanjaya. Ah, satu lagi, Tuan. Maaf sebelumnya hanya bisa lewat telepon. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Anda, saya beserta keluarga mengundang Anda sekeluarga untuk menghadiri acara keluarga kami malam ini.”
📲 “Ah, baiklah, Tuan Vargas. Tapi ... saya tidak berjanji akan hadir, tapi akan saya usahakan.”
📲 “Terima kasih banyak, Tuan Sanjaya.”
Panggilan telepon itu berakhir dan Lean langsung disambung satu pernyataan dari Caitlyn.
“Tuan Vargas? Apa orang itu keluarganya Dokter Vargas?”
Lean belum sempat untuk menjawab, ponselnya kembali berdering. Nama sang ayah tertera di sana. Di langsung menjawab panggilan tersebut.
📲 “Iya, pa?"
📲 “Kita kalah lagi, Lean. Sania sudah seribu langkah di depan kita.”
📲 “Maksud papa?”
📲 “Lihatlah berita pagi ini. Tapi jangan sampai istrimu tau.”
Lean langung melirik wanita cantik yang tidur di sampingnya dan tengah memeluknya dengan posesif.
Sh*it! Aku harus kasih alasan apa biar diizinkan sama dia? Berita apa yang dimaksud papa?
__ADS_1