Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 80. Harga Yang Harus Dibayar


__ADS_3

Melihat pemandangan indah nan mengharukan itu, Lean tersenyum dan ikut bergabung.


“Apa Lean sudah tidak disayang lagi sama Nenek?” tanya Lean dengan wajah sedikit ditekuk, pura-pura merajuk.


Caitlyn terkekeh mendengar itu dan melepaskan pelukan Nenek Sanju. Dia mengerti bahwa pria itu juga merindukan sang nenek. Mengingat cerita Hadya di mana kepergiannya dua bulan lalu membuat Nenek Sanju marah dan tidak ingin menemui Lean.


Sudah pasti dua orang yang saling menyayangi sejak dulu itu juga sama-sama saling merindukan.


“Kata siapa? Kamu masih tetap dan akan selalu menjadi Lean kesayangan nenek,” jawab Nenek Sanju.


“Oh, yah? Meskipun Lean sudah memiliki anak?” tanya Lean lagi.


Pria itu kini berjongkok dengan kedua lutut yang ditekuk di depan kursi roda Nenek Sanju.


“Tentu saja. Apapun itu tidak akan pernah bisa merubah rasa sayang nenek untuk kamu, Lean.” Nenek Sanju meletakkan tangannya di atas kepala Lean, lalu mengusapnya.


“Tapi kemarin nenek marah dan tidak ingin menemuiku,” sahut pria berwajah tampan yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu.


“Ya, itu sebagai hukuman dan pelajaran untukmu karena telah menyakiti istrimu. Kalau nenek tidak melakukan itu, kau tidak akan pernah mau mencari istrimu dan kau juga tidak akan pernah bisa menyadari perasaanmu. Iya, ‘kan?” Kedua tangan nenek Sanju menangkup pipi Lean dengan lembut.


Lean tersenyum dan mengangguk. Pria itu menahan tangan Nenek Sanju yang masih menempel di pipinya, sambil menatap wajah keriput di depannya dengan penuh kasih.


“Terima kasih, Nek. Terima kasih karena selalu menunjukan dan menuntun Lean ke jalan yang semestinya.” Setelah berucap pada sang nenek, Lean beralih menatap ayahnya. “Makasih juga, Pa. Untuk kesabaran yang begitu luar biasa dalam menghadapi Lean dan juga membuka mata Lean hingga Lean bisa menyadari perasaan Lean yang sebenarnya,” ucap Lean begitu tulus.


Pria itu melepaskan tangannya dari sang nenek. Dengan posisi yang masih berlutut, dia kembali meraih tangan ayahnya.


“Makasih banyak, Pa. Udah jadi Papa yang hebat untuk Lean selama ini. Makasih juga sudah menjaga Caitlyn dan bayi kami dengan begitu luar biasa, Pa. Lean bersyukur dan bangga punya Papa.” Ucapan itu terdengar bergetar.


Lean menunduk dan mencium kedua tangan ayahnya. Nenek Sanju melihat itu pun tersenyum dalam tangis. Begitu juga dengan Caitlyn. Hadya lalu meminta putranya itu bangkit berdiri.

__ADS_1


“Terima kasih saja tidak cukup, semua itu harga yang harus dibayar. Bukan begitu, Ibu?” Hadya bertanya pada ibunya, tetapi menatap lurus dengan wajah tersenyum pada putranya.


Kening Lean mengerut bingung dengan perkataan sang ayah. Sama seperti suaminya, Caitlyn juga bingung mendengar kata-kata sang ayah mertua.


“Maksud, Papa?” tanya Lean dengan mata yang kini memicing.


“Iya, maksud Papa apa?” Caitlyn pun ikut bertanya.


Wanita hamil itu merasa aneh dengan yang diucapkan ayah mertuanya. Yang benar saja, pria sebaik Hadya mengharapkan bayaran atas semua yang dia lakukan untuk putranya sendiri? Apa dia sekejam itu? Tidak, tidak. Caitlyn tidak percaya dengan semua ini. Itu adalah hal yang mustahil.


Hadya tidak menjawab. Pria paruh baya itu melirik jam di pergelangan tangannya.


“Kita makan dulu. Papa sudah sangat lapar. Lean juga harus makan dan minum obat. Nanti akan papa jawab pertanyaan kalian setelah itu,” ucap Hadya begitu santai.


“Ayo!” ajak Nenek Sanju begitu melihat Caitlyn dan Lean yang terbengong. “Ayo, Lean! Wajahmu pucat sekali. Cepatlah makan dan minum obatmu.” Sekali lagi nenek Sanju mengajak keduanya.


“Ok,” jawab Lean singkat.


Mereka pun makan bersama pada waktu makan siang yang sebenarnya sudah lewat. Hadya sangat bahagia dengan suasana seperti ini. Sudah sangat lama ruang makan itu terasa hampa dan hari ini, semuanya kembali seperti semula dengan versi yang jauh lebih baik menurut pandangan Hadya.


“Makan lagi yang banyak, Caitlyn. Cicit nenek harus tumbuh kuat dan sehat di dalam sana,” perintah Nenek Sanju melihat Caitlyn yang sepertinya tidak terlalu berselera untuk makan.


“Aku masih kenyang, Nek. Tadi juga udah banyak makan di rumah sakit.” Caitlyn menolak dengan halus.


“Benar itu, Hady?” tanya Nenek Sanju pada putranya.


Hadya tersenyum dan mengangguk. “Ya, itu benar, Ibu. Kalau bukan Lean yang menyuapi mungkin tidak akan habis juga.” Jawaban Hadya membuat Caitlyn merasa sangat malu.


Sementara itu Lean tampak biasa saja tidak peduli dengan ucapan ayahnya. Dia bahkan dengan sengaja ingin menyuapi Caitlyn sekali lagi, tetapi suara Hadya menghentikan aksi pria itu.

__ADS_1


“Ehm. Lean, Caitlyn, proses perceraian kalian sudah sampai mana?” tanya Hadya tiba-tiba.


Lean langsung berhenti mengunyah dan menarik tangannya yang sempat ingin menyuapi Caitlyn. Sebelum menjawab pertanyaan sang ayah, dia lebih dulu menatap wajah cantik Caitlyn. Dapat Lean lihat ekspresi kaku dan tidak nyaman tergambar di sana.


“Hm, tidak tahu, Pa. Sampai sekarang pun kami belum mendapat surat dari pengadilan.” Lean mengedikan bahunya. “Tapi, bisakah kita tidak usah membahas ini lagi, Pa? Aku dan Caitlyn sudah bersepakat untuk mencabut gugatan perceraian itu dan ingin rujuk,” jelas Lean yang kini menggenggam tangan Caitlyn.


Hadya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus. Tapi kalian tidak perlu melakukan itu karena berkas-berkas yang kalian ajukan tidak pernah masuk ke pengadilan,” jawab Hadya dengan tenang.


“Papa?” Lean dan Caitlyn kompak terkejut. “Jadi papa yang menghilangkan jejak pengacara itu?” tebak Lean. Dia mengingat beberapa kali menghubungi sang pengacara dan pria itu tidak bisa dihubungi. Sebenarnya Lean senang dengan kabar ini.


Ah, syukurlah kalau memang seperti itu. Caitlyn pun membatin senang.


“Ya, benar. Papa melakukan itu. Tapi, kamu tidak perlu marah ataupun senang. Karena seperti yang papa bilang, itu tidak gratis. Ada harganya.” Lagi-lagi Hadya membuat Caitlyn dan Lean bingung.


“Apa, sih, Pa? Oh, jadi papa gak ikhlas ngelakuin semua itu untuk anak papa sendiri? Katakan apa yang harus Lean lakukan? Sebanyak apa yang harus Lean bayar sama papa?” Lean mulai emosi.


“Sabar, Al. Gak usah marah-marah, kita dengar penjelasan Papa dulu, yah.” Caitlyn berusaha menenangkan suaminya itu. Dia beralih pada ayah mertuanya. “Jadi apa yang harus Caitlyn sama Al lakukan, Pa?” tanya Caitlyn.


“Kalian tidak perlu melakukan apa pun. Yang hanya perlu kalian lakukan adalah berpisah untuk sementara waktu!”


“Papa!” sentak Lean dengan keras.


Pria itu bahkan sampai berdiri dari duduknya.


“Maksud Papa apa sebenarnya?”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1



__ADS_2