
Kegiatan makan siang yang sudah lewat hari itu berjalan hangat, dipenuhi dengan canda Lean yang tampak merasa bahagia. Sayang sekali Caitlyn tidak ikut bersama mereka.
Bumil cantik itu masih lelap dalam tidurnya hingga waktu makan siang selesai, Lean bersama keluarga yang lainnya memilih mengobrol di ruang keluarga. Hadya bertanya tentang keputusan Rendi yang entah ingin mengikuti permintaan Caitlyn ataukah memilih jalannya sendiri.
“Pa, apa tidak sebaiknya tunggu Caitlyn bangun dulu. Kalo misal jawaban Rendi bikin dia kecewa gimana? Biarkan dia sendiri yang akan bertanya dan mendengar jawabannya langsung,” sela Lean yang kurang setuju dengan pembahasan ini.
“Iya, Hady. Biarkan Caitlyn yang bertanya langsung.” Nenek Sanju ikut menimpali.
Hadya mengangguk menyetujui. Mereka lalu mengganti topik pembicaraan siang itu. Mulai dari keseharian Rendi seminggu ini, serta perkembangan kesehatannya juga.
“Apa kau masih mabuk-mabukan lagi?” tanya Nenek Sanju yang sudah mendengar cerita sebelumnya dari Hadya.
“Tidak lagi, Nyonya. Saya benar-benar sudah kapok. Saya sadar tidak ada hal yang menguntungkan dari kebiasaan itu, Nyonya. Saya juga memutuskan untuk berhenti karena saya ingin menghargai kesembuhan dan kehidupan kedua yang diberikan oleh Nona muda rumah ini,” tutur Rendi penuh kesungguhan.
Nenek Sanju tersenyum mendengar hal itu, sedangkan Hadya dan Lean hanya manggut-manggut ikut senang dan merasa puas.
Lean menepuk pelan pundak Rendi beberapa kali yang kebetulan duduk bersebelahan dan tidak jauh darinya saat itu.
“Teruslah seperti itu, Bro. Jangan kecewakan istriku!” ucap Lean.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Saya berjanji dan Anda bisa memegang kata-kata saya ini,” ikrar Rendi.
Lean meresponnya dengan anggukan. Mereka lalu melanjutkan obrolan hingga lupa waktu. Hadya banyak menanyakan perihal kehidupan Rendi yang sekarang. Seperti pekerjaan yang sedang dia tekuni dan juga rencananya ke depan.
Waktu kini menujukkan pukul 3 sore. Nenek Sanju lalu berpamitan ingin beristirahat sejenak. Sebenarnya dia ingin sekali menunggu Caitlyn bangun, tetapi sepertinya bumil itu benar-benar lelah.
Lean bangkit dari duduknya lalu mengantarkan sang nenek ke kamar. Kini tinggal Hadya dan Rendi yang masih mengobrol di ruang tamu. Tiba-tiba saja pikiran Hadya tertuju pada cerita tentang kehidupan Caitlyn di masa lalu.
“Ehm, saya ingin menanyakan perihal kehidupan menantu saya dulunya seperti apa. Dan saya tolong jawab dengan jujur.” Wajah Hadya kini tampak serius sekali.
“Tanyakan saja, Tuan. Bilamana saya tahu, akan saya jawab, Tuan.” Rendi tampak bersedia.
Rendi terdiam beberapa saat dengan wajah yang tampak menerawang. Tidak lama kemudian dia mulai bercerita, ketika kepingan-kepingan kenangan beberapa tahun silam terlintas di pikirannya.
“Waktu itu nona baru berusia 5 tahun kalau tidak salah, Tuan. Saya ingat hari itu ada sekelompok orang-orang dari perusahaan besar sepertinya. Mereka ingin memantau lokasi di sekitar pasar tempat ayah berjualan. Konon katanya, lahan di sana merupakan lahan sengketa antara pemerintah setempat dan sebuah perusahaan asing tapi saya tidak tahu nama perusahaannya, Tuan. Dengar-dengar waktu itu mereka ingin membangun perusahaan baru di sana, tapi warga setempat menolak karena tidak ingin kehilangan mata pencarian mereka, hingga terjadi bentrok besar-besaran. Keadaan pasar saat itu kacau dan para pembeli berlarian sana-sini. Ayah lalu menemukan nona yang saat itu menangis di tepi jalan. Saya menduga nona kehilangan jejak orang tuanya, Tuan.” Rendi berkisah dengan jujur apa adanya.
Hadya mendengar dendam seksama dan tampak manggut-manggut. Sedikit kemudian dia bertanya lagi.
“Apa selama ini tidak ada orang yang mencari-cari anak yang hilang di sekitar sana?” Lagi Hadya bertanya.
__ADS_1
“Kalau itu saya kurang tahu, Tuan. Soalnya waktu itu saya diusir ayah jadi tidak tinggal di rumah maupun di sekitar sana. Saya baru pulang lagi ketika ayah ke meninggal dan nona dibawa oleh Tante Sani.” Rendi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tapi saya ingat tepat pada hari di mana saya dihajar hingga terluka parah dan dipaksa Tante Sani untuk berbohong pada nona, waktu itu ada beberapa orang yang mengunjungi lokasi sekitar pasar lagi, tetapi bukan untuk mencari masalah. Namun, mereka tiba-tiba pergi karena melihat keributan akibat para preman dan debkolektor menghajar saya, Tuan. Mereka pikir ada bentrok lagi jadi mereka segera pergi waktu itu,” lanjut Rendi berkisah.
“Sania? Kenapa dia selalu muncul saat-saat ada masalah?” gumam Hadya tampak berpikir.
“Anda mengatakan sesuatu, Tuan?” tanya Rendi.
“Ah, tidak." Hadya menggeleng. “Boleh saya tahu waktu kejadian itu, lebih dulu mana yang terjadi? Kamu yang dihajar preman ataukah orang-orang yang mengunjungi lokasi di sana?” tanya Hadya lagi dan lagi.
“Sepertinya kedatangan orang-orang di sana lebih dulu, Tuan.” Rendi setia menjawab apa adanya.
Jadi meski adiknya sudah tak lagi ada tapi dia masih sering ke tempat itu? Apa urusannya? Bukankah Caitlyn sudah ada di sini waktu itu? Apa dia peduli pada keponakannya ini? Tidak, Sania tidak sepeduli itu pada orang jika tidak ada yang menguntungkan baginya.
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1