Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 82. Menyerah


__ADS_3

Tidak sedikit pun Lean mengindahkan ancaman ayahnya yang terdengar jelas dan begitu tegas. Pria tampan itu lantas menarik tangan Caitlyn dan hendak melangkah dari ruang makan.


Caitlyn yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mampu terdiam dan mengikuti ke mana Lean membawanya. Wanita hamil itu sebenarnya bingung antara ingin mematuhi kedua orang tua yang ada di sana ataukah harus mengikuti suaminya. Pada akhirnya dia tetap mengikuti kemauan Lean.


Namun, baru beberapa langkah saja, keduanya tiba-tiba berhenti. Lean menggeram kesal sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Caitlyn. Pria itu berbalik dan menatap sang ayah yang terlihat begitu tenang di sana.


“Papa,” geram Lean.


Bagaimana tidak, dia tidak dapat meneruskan langkahnya karena kini para pengawal sang ayah berdiri bagai pagar yang membentenginya.


Hadya berdiri di tempatnya tidak jauh dari meja makan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu berjalan perlahan menghampiri kedua anaknya, dengan segaris senyum yang tak pernah pudar.


“Untuk saat itu papa berdiri di sini, bukan sebagai papa kamu, tapi sebagai papanya Caitlyn,” ucap Hadya yang kini berdiri tepat di hadapan kedua anaknya.


“Hah?” Caitlyn bereaksi bingung.


“Dia adalah putriku! Siapa pun yang menyakitinya, harus mendapat hukuman. Dan hukuman untuk kamu adalah berpisah sementara waktu darinya. Dengan begitu, papa anggap kamu telah menebus semua kesalahan yang pernah kamu lakukan padanya,” putus Hadya.


Apakah Lean menerima keputusan sepihak ayahnya? Oh, tentu saja tidak semudah itu ferguso. Lelaki keras kepala itu masih dengan pendiriannya menolak mentah-mentah.


“Tidak bisa, Pa! Maaf, Lean gak bisa. Lean gak bisa pisah lagi dari Caitlyn.” Menggeleng kepalanya kuat-kuat. “Lean gak mau. Ini menyiksa namanya, Pa!” serunya penuh emosi.


Hadya tergelak. “Justru itu tujuan papa, Nak!” jawab Hadya santai sekali.


“Papa kenapa jahat kaya gini, sih, Pa?” tanya Lean kali ini dengan nada rendahnya.


Sungguh dia tidak pernah menduga jika ayahnya yang begitu baik dan perhatian padanya, selalu menyayangi dan memenuhi semua inginnya, berubah sekejam ini. Lean tidak mengerti dan sama sekali tidak menyangka.

__ADS_1


Ah, mereka sama saja. Tanpa dia sadari bahwa sikap Hadya sama saja dengan dirinya. Selalu penuh kejutan.


“Kamu harus mengalami siksaan ini dan kamu harus bisa melewatinya. Anggap saja kamu sedang berusaha meyakinkan papa bahwa kamu benar-benar mencintai putri papa, dan kamu tidak akan pernah lagi menyakiti dan mengecewakan dia. Tidak hanya Caitlyn yang harus kamu yakinkan, Lean. Tapi papa dan nenek juga,” terang Hadya.


“Benar, Lean. Dengan begitu jika besok-besok atau ke depannya kamu ingin menyakitinya lagi, kamu harus ingat bahwa Caitlyn tidak lagi sendiri. Dia sekarang punya keluarga sama seperti kamu. Dan yang lebih penting adalah dia sekarang punya seorang ayah yang akan selalu melindunginya,” timpal Nenek Sanju yang kini menyusul menggunakan kursi roda miliknya.


Mendengar itu Caitlyn jadi terharu dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Lean. Wanita hamil yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi itu pun langsung menghambur memeluk Hadya.


Lean yang melihat itu hanya bisa terpaku dengan mulut menganga tak percaya.


“Papa,” gumam Caitlyn dengan begitu lirih.


Hadya membuka kedua tangan dan membalas pelukan wanita cantik yang kini sudah dia anggap sebagai putrinya itu.


“Sudah, jangan menangis lagi! Papa sudah terlalu sering mendengar kamu menangis. Sekarang papa tidak tidak ingin melihat ataupun mendengarnya lagi. Kau mengerti?” Hadya kini melepas pelukannya dan menghapus air mata Caitlyn.


Wanita hamil itu mengangguk beberapa kali dengan wajah yang kini dihiasi senyum yang terlihat begitu indah.


Sejenak Caitlyn terdiam sambil menoleh ke belakang melihat wajah Lean yang kini datar seperti jalan tol. Setelah berpikir beberapa detik, dia pun kemudian mengangguk. Hal itu sukses membuat Lean naik pitam.


“Apa-apaan kamu, Sayang? Kamu lebih memilih nurut sama orang tua itu daripada aku yang jelas-jelas suami kamu? Wah, wah, apa aku harus bersyukur dan bangga punya istri yang begitu patuh terhadap orang tua, ataukah aku harus menangis karena punya istri yang tidak patuh terhadap suaminya sendiri?” sindir Lean sembari berkacak pinggang.


Seolah tidak peduli dengan suaminya, Caitlyn kini berdiri di samping ayah mertuanya dan menggandeng lengan pria paruh baya itu.


“Aku setuju dengan yang dikatakan Papa sama Nenek,” jawab Caitlyn yang tampak senang kala itu.


“What?” Lean terkejut bukan main. “Tidak, Sayang, aku tau kamu hanya terpengaruh dengan pria tua itu. Ayo, kemarilah! Kita pergi saja dari sini,” ajak Lean tetapi Caitlyn menggeleng.

__ADS_1


“Gak mau. Aku mau ngikut Papa sama Nenek.” Caitlyn menolak ajakan suaminya.


Hadya dan Nenek Sanju terkekeh melihat Lean yang tidak berdaya mendapat penolakan istrinya. Wajah penuh emosi tadi kini berganti menyerah dan pasrah.


“Bagaimana, Lean? Manurut sekarang atau dijauhi sendiri oleh istrimu?” tanya Hadya.


Lean mengembuskan napasnya kasar. “Baiiklah. Jadi aku harus tinggal di yang kamar mana sekarang?” tanya Lean tidak bersemangat.


“Oh, bukan pisah kamar, Lean sayang. Tapi pisah rumah. Jadi untuk sementara waktu, kamu bisa memilih tinggal di manapun yang kamu mau, tetapi tidak di rumah ini!” jawab Hadya dengan tegas.


“Apa?” Lean terperanjat setelah mati. “Papa ngusir aku?” Lean kembali emosi.


“Sama sekali tidak, Sayang. Rumah ini dan semua harta Sanjaya adalah milikmu. Papa hanya minta kamu buat menjauh beberapa waktu dari istrimu. Jadi kamu yang harus memilih tempat tinggal lain. Atau kamu mau istrimu saja yang pindah?” Sekali lagi Hadya bertanya.


“Ok, aku saja yang pindah.” Pasrah sekali jawabannya.


Lagi dan lagi, Hadya maupun Nenek Sanju tersenyum senang.


“Nah, gitu dong. Istri kamu harus tetap di sini agar Nenek bisa selalu menjaga kehamilannya.” Nenek Sanju ikut berkomentar.


“Iya ....” sahut Lean dengan ketus. “Sampai kapan pisahnya ini?” Lagi dia bertanya dengan malas.


“Oh, ya. Papa kasih waktu 2 bulan,” tandas Hadya seketika membuat Lean ingin mati saja detik itu.


“Papaaaa ...!”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...



__ADS_2