Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 42. Sania‘s Plan


__ADS_3

Hadya melangkah masuk ke dalam tempat terkutuk yang belum pernah dia datangi satu kali pun seumur hidupnya. Akan tetapi demi putra kesayangannya itu, Hadya terpaksa melakukannya.


Dentuman musik DJ yang begitu keras serta pencahayaan remang dengan lampu berwarna-warni yang berputar-putar, belum lagi bau alkohol yang menyengat. Sungguh semua itu membuat kepala Hadya terasa pening, apalagi selama di perjalanan tadi sopirnya menjalankan mobil cukup kencang hanya untuk mengejar mobil milik Lean.


Pria paruh baya itu mengedarkan pandangannya mencari sosok Lean di sana, tetapi tidak juga dia temukan. Memang dia terlambat tiba di tempat itu karena hampir saja kehilangan jejak Lean yang menjalankan mobil layaknya sedang mengikuti lomba balap formula 1.


“Di mana dia?”


Hadya melangkahkan kakinya dan semakin masuk ke dalam. Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya yang terasa semakin pening. Pemandangan-pemandangan menjijikkan banyak dia jumpai dan Hadya takut Lean terjerumus dalam dunia gelap seperti ini. Dia pernah terjebak dengan Caitlyn di tempat ini, jangan sampai hal itu terulang dengan wanita lain.


Mengabaikan pemandangan dengan tarian-tarian erotis serta banyaknya pasangan muda yang asik bercumbu, Hadya memaksakan langkahnya lebih jauh ke dalam. Tepat di saat langkahnya terhenti, dia pun menemukan Lean. Pria itu sedang duduk dengan dikelilingi banyak sekali botol-botol berisikan alkohol tentunya.


“Anak itu ….”


Hadya kesal dan ingin beranjak untuk menarik putranya. Namun, mendadak dia tidak ingin melakukannya begitu dia melihat sosok wanita yang entah dari mana datangnya dan tiba-tiba sudah duduk di samping Lean.


“Tamara? Mau apa dia?”


Tangan Hadya bergerak merogoh ponsel dan memanggil Aidam–asistennya yang sedang menunggu di luar. Dalam hitungan detik, pria itu sudah berdiri di belakang atasannya.


“Iya, Tuan?” Aidam bersuara memberi tanda jika dia sudah siap untuk menjalankan segala perintah.

__ADS_1


“Panggilkan Jerry kemari sekarang juga. Dan tempatkan orang-orang kita di setiap sudut tempat ini. Sebarkan beberapa di sekitar sini untuk terus memantau pergerakan wanita itu!” perintah Hadya tanpa berbalik melihat sang asisten. Mata pria itu tidak pernah lepas memantau interaksi Lean dan Tamara di sana. Hadya tidak ingin kecolongan sedikit pun.


Tamara adalah wanita licik yang tidak jauh berbeda dengan istrinya–Sania. Wanita itu adalah mantan kekasih Lean dan Hadya mengetahui semua sepak terjangnya dan dia sama sekali tidak menyukai hubungan mereka sejak dulu. Oleh sebab itu, setiap kali dia datang ke kediaman Sanjaya, Hadya selalu mengacuhkannya. Tidak seperti Sania yang begitu excited menyambutnya.


Hadya tahu kedekatan mereka selama ini hanya untuk sebuah tujuan yang sama. Bisa saja saat ini Tamara berada di dekat Lean karena rencana jahat kedua wanita iblis itu. Tidak! Hadya tidak akan membiarkannya.


“Baik, Tuan!” jawab Aidam.


“Satu lagi.” Aidam yang tadinya sudah ingin melangkah pergi, sejenak berhenti kembali. “Pastikan tidak ada satu pun paparazi dan wartawan di tempat ini!” titah Hadya lagi.


“Baik, Tuan.”


Pria itu lalu bergegas keluar dan melakukan setiap perintah tuannya. Tidak butuh waktu lama untuk itu, semuanya bersiap kurang dari lima belas menit.


“Di mana wanita itu?” tanya Hadya begitu memastikan putranya sudah tertidur dengan nyaman.


Aidam lalu memberikan laporan penjelasan sesuai yang terjadi selama dua jam lalu di dalam sana. Di mana Tamara yang berusaha memperdaya Lean yang tengah mabuk berat. Saat melihat Lean yang mulai berada di bawah kendali alkohol, Tamara bergegas melakukan aksi selanjutnya dengan mencampurkan sesuatu ke minuman Lean. Namun, anak buah Hadya menggagalkan semua rencana Tamara dengan sempurna.


Minuman yang tadinya disiapkan untuk Lean, diminum sendiri oleh Tamara. Alhasil, wanita itu tidak sadarkan diri. Ponselnya disadap oleh Aidam dan juga Jerry. Dari sana mereka tahu bahwa Sania berada di balik semua itu. Semua obrolan dua wanita itu mereka ketahui serta rencana-rencana mereka selanjutnya.


“Benar-benar licik. Kenapa dulu aku dipertemukan dengan iblis seperti dia?” sesal Hadya.

__ADS_1


Dia lalu memerintahkan supaya anak buahnya melanjutkan apapun yang sudah direncanakan Sania dan Tamara malam itu. Sementara Hadya membawa Lean ke rumah lainnya milik keluarga Sanjaya dan dia sendiri kembali ke kediaman utama.


“Kau belum juga tidur?” tanya Hadya saat masuk ke kamar. Sejujurnya dia sangat marah melihat istrinya itu, tetapi Hadya menahan hati.


Sania yang kaget melihat suaminya masuk, buru-buru menyimpan ponselnya. Dia menatap jam dinding di sana dan waktu menujukkan pukul 02.15 AM.


“Aku? Aku menunggumu sedari tadi. Ini sudah dini hari dan kau baru kembali? Dari mana saja, Pa?” Turun dari tempat tidur lalu menghampiri Hadya dan hendak membantu suaminya itu berganti pakaian, tetapi Hadya menolak.


“Ada pekerjaan.” Menjawab singkat dan terkesan malas.


Hadya berganti pakaian dengan cepat dan langsung menuju tempat tidur, kemudian merebahkan tubuhnya yang teramat lelah. “Tidurlah, aku sangat lelah.” Tidak ingin banyak berbicara dengan sang istri.


Beberapa menit berlalu, Hadya belum juga bisa terlelap. Dia memaksakan matanya untuk terpejam, tetapi lagi-lagi pikirannya terganggu dengan kondisi Caitlyn saat ini. Hadya melihat ke samping di mana Sania yang sudah tertidur. Dia lalu bangun perlahan-lahan dan bergegas melangkah ke luar.


Hadya menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan untuk selalu menjaga dan memantau sang menantu.


📲 “Bangunkan dia dan segeralah berkemas meninggalkan tempat itu sekarang juga sebelum pagi menjelang.”


Dia tahu apa yang akan Sania lakukan setelah itu, berkat ponsel Tamara yang berhasil disadap oleh Jerry.


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2