Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 56. Commotion


__ADS_3

“Dari mana saja, Nak?”


Pertanyaan dari Hadya menyambut kedatangan Caitlyn yang baru saja masuk. Di belakangnya terlihat Saskia yang menyusul, sedangkan Jerry menunggu di luar.


“Selamat malam, Om,” sapa Saskia dengan sopan. Hadya hanya membekas dengan anggukan dan senyum kecil. Pria paruh baya itu masih fokus menunggu jawaban Caitlyn.


Hadya mengerutkan keningnya melihat raut wajah tak biasa yang ditunjukkan oleh Caitlyn. Wanita itu tampak sedang terbebani dengan berbagai pikiran. Manik cantik yang biasanya berseri, tidak ditemukan Hadya malam itu.


“Caitlyn,” panggil Hadya sekali lagi. Kali ini pria itu bahkan bangkit dari duduknya dan menyentuh pundak Caitlyn. “Ada apa, Sayang?”


“Ya?” Caitlyn baru tersadar, tetapi tampak bingung.


“Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Dari tadi papa panggil-panggil, kok, melamun? Mikir apa memangnya?” Hadya bertanya untuk kesekian kalinya.


“Oh, ah, tidak ada, Pa. Hanya ….” Dia menjeda lalu menoleh ke belakang. Begitu menyadari bahwa Jerry tidak ada di sana, Caitlyn tersenyum lega. “Hanya cari angin di luar tadi, Pa.” Melanjutkan kalimatnya yang sempat terjadi tadi.


Hadya mengangguk meski dia tahu bahwa bumil itu hanya beralasan. Entah apa yang dia pikirkan, Hadya akan menanyakan lagi nanti.


“Baiklah, kalau begitu kita mulai saja pemeriksaannya. Papa ingin melihat cucu papa sebelum ayahnya yang melihat,” ucap Hadya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Caitlyn mengangguk dan dokter pun hendak memulai serangkaian pemeriksaan, tetapi kegiatan penting itu mendadak tertunda saat Jerry membuka pintu dan masuk memberikan laporan pada Hadya.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Dokter Vargas baru saja melaporkan jika di depan ruangan pasien koma yang telah sadar itu sedang terjadi keributan.” Jerry berbicara dengan cepat.


Caitlyn yang tadinya sudah duduk dan siap untuk diperiksa tekanan darahnya, langsung berdiri dan menghadap Jerry dengan yang mata membola. Detik berikutnya, dia pun hendak berlari keluar tetapi dengan cepat Hadya menahannya.


“Tenang dulu, Nak. Kita dengarkan penjelasan Jerry, yah.” Hadya pun menatap Jerry, meminta dia melanjutkan penjelasannya.


“Ada dua perawat wanita yang diduga perawat gadungan berhasil masuk dan melepaskan semua alat bantu pasien serta hendak melakukan percobaan pembunuhan. Dokter Vargas meminta Tuan untuk segera ke sana,” jelas Jerry.


Hadya menatap Caitlyn. “Tetap di sini, tunggu papa sampai kembali!”


“Pa, tapi papa sudah tau tentang ….” Tidak tahu ingin Bertanya seperti apa.


Hadya mengangguk paham. “Papa tau. Tidak perlu khawatir.”


Wanita cantik itu tampak tidak tenang karena dia sudah tahu ini pasti bahwa semua itu ulah Sania dan Nathan. Caitlyn berulang kali mer*emas tangannya sekedar mengurangi rasa cemas, tetapi perasaan itu semakin besar mencekiknya.


“Aku ingin keluar sebentar, Dok,” ucapnya dan langsung bangkit berdiri.


Saskia turut bangkit dan menahannya. “No! Jangan lu nambah keributan, Ly. Biarkan Om Hady yang menyelesaikan ini. Lu cuman perlu duduk, diam, dan tenang. Okeh?” Saskia berusaha menahan.


“Iya, Nona. Tetaplah di sini, semuanya akan baik-baik saja.” Sang dokter ikut menimpali perkataan Saskia.

__ADS_1


Namun, Caitlyn seolah menulikan telinganya. Dia tidak mau mendendangkan perkataan Saskia atau dokter sekalipun. Bumil itu tetap bersikeras untuk keluar.


“Sebentar saja, Ki. Gue khawatir banget. Ahanya sebentar saja. Gue juga gak bakal mendekat, hanya mantau dari jauh. Gue harus tau keadaan pasien itu, Ki.” Caitlyn terus memohon pantang menyerah.


Saskia menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengiyakan.


“Baiklah, tapi gue temanin,” putus Saskia.


Kedua wanita itu berpamitan pada dokter dan langsung keluar dari sana. Caitlyn membuka pintu dan berjalan lebih dulu dengan sangat tergesa-gesa saking tidak sabarnya. Sementara itu, Saskia mengikuti dari belakang. Belum terlalu jauh dari ruang pemeriksaan, seorang pengunjung lewat di samping Saskia dan meminta tolong.


“Maaf, Nona. Apa saya bisa minta tolong sebentar?” tanya orang itu yang adalah seorang pria tua asing.


Saskia menoleh ke samping dan menatapnya dengan simpati. “Oh, tentu, Pak? Apa yang bisa saya bantu?” tanya Saskia sopan sekali.


Namun, entah mengapa, perasaannya mendadak tidak senang. Dia pun hendak menoleh kembali pada Caitlyn, tetapi betapa kagetnya dia saat tidak menemukan sosok sahabatnya di depan mata. Saskia mulai panik. Kembali dia ingin melihat pria tua di sampingnya, lalu meminta maaf karena tidak dapat membantu dan harus mencari sahabatnya. Akan tetapi, orang itu tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Saskia baru tersadar jika dirinya baru saja dikelabui.


“Oh, sh*it!” umpat Saskia dan detik berikutnya dia berteriak memanggil Caitlyn seperti orang gila di sepanjang lorong rumah sakit itu.


“Caitlyn ...!”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2