Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 78. Pengakuan Lean


__ADS_3

Sementara itu di dalam mobil, selepas kepergian sang ayah, Lean langsung bergerak melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Caitlyn dengan begitu erat dan semakin menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Caitlyn.


Bumil itu tersentak dan refleks memekik kecil. “Ah, jadi kau membohongi aku dan papa? Jahat,” sungut Caitlyn seraya melayangkan cubitan kecil di telinga Lean.


Gelak tawa dengan suara khas bangun tidur membuat darah Caitlyn berdesir.


“Maafkan aku, tapi selama 2 bulan ini aku belum pernah merasakan tidur senyaman saat ini. Aku baru saja terbangun saat dibangunkan papa tadi,” aku Lean.


Pria itu masih betah menyembunyikan wajahnya di dekap Caitlyn yang tepat berada di atas perut ratanya. Tangan Caitlyn bergerak menepuk pelan pipi Lean memintanya untuk bangun.


“Nanti kamu bisa lanjutkan tidurmu di dalam, ‘kan? Ayo, turun dulu! Aku sudah tidak sabar untuk menemui nenek. Lagian ... kasian mereka dari tadi udah nungguin kita, loh, Al.” Seperti biasanya, Caitlyn selalu memikirkan orang lain juga.


Lean berdecak. “Biarkan saja, itu sudah menjadi tugas mereka. Kenapa, sih, tidak bisa mikirin perasaan aku saja dulu baru mikirin soal mereka? Kamu selalu saja begitu kerjaannya. Mikirin orang lain terus, orang lain lagi,” omel Lean.


Caitlyn tertawa juga mendengarnya. “Kita itu emang harus memikirkan orang lain juga. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Sekarang itu, aku mau ketemu sama nenek–”


“Tapi aku gak mau. Aku masih mau berduaan sama kamu!” Lean menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.


“Ih, aku gak bisa nafas ini, Al,” ucap Caitlyn dibarengi tawa karena merasa geli.


“Makanya jangan dulu turun!” Tegas sekali ucapan Lean.

__ADS_1


“Iya! Tapi lepasin dulu, yah,” balas Caitlyn dengan sangat lembut.


Bukannya melepaskan, Lean hanya sedikit melonggarkan pelukannya. Masih dengan posisi yang sama, tangan pria itu bergerak perlahan menelusup masuk ke dalam hoodie yang digunakan Caitlyn. Caitlyn tersentak dan mematung saat sentuhan lembut itu berhenti di atas kulit perutnya.


“Maafkan aku yang sempat meragukannya waktu itu. Memberi tuduhan yang tidak-tidak, bahkan tidak menganggap dan tidak mengakuinya. Maafkan aku,” ucap Lean penuh sesal.


“Al ....” Caitlyn seakan speechless.


Tindakan Lean selanjutnya membuat tubuh Caitlyn menegang dan membeku kaku, saat pria itu dengan sadar menyingkapkan hoodie yang dia gunakan. Memperlihatkan perut putih mulus Caitlyn yang masih rata, tetapi mulai berisi dan padat.


Ketegangan Caitlyn berakhir dan berganti rasa menggelitik saat Lean menghujani perutnya dengan banyak kecupan manis. Mengungkapkan tanpa kata betapa saat ini dia begitu menyayangi dan bahagia atas hadirnya makhluk kecil yang kini bertumbuh dalam rahim wanita yang dia cintai.


“Al, hentikan!” seru Caitlyn sambil tertawa. “Please, stop it–”


“Terima kasih karena sudah bersedia menjaga dan mempertahankannya di saat aku dengan begitu bodoh meragukannya,” ucap Lean sambil menatap dalam mata Caitlyn.


Tidak ada respon apa-apa dari Caitlyn. Rasa bahagia yang membuncah saat itu menghadirkan perih serta genangan dalam netra indahnya. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Lean.


Apakah waktu yang dikatakan papa tadi benar-benar telah datang sekarang? Apa aku sudah boleh bahagia dengan sempurna?


Sekali lagi Lean mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Detik itu juga Caitlyn memejamkan matanya bersamaan dengan cairan bening yang luruh membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


Tangan Caitlyn refleks mencengkram belakang kaos yang dikenakan Lean, saat pria itu berhasil menerbangkan jiwanya dangan ciuman yang begitu dalam, disertai tangan yang terus mengelus lembut seluruh area perutnya.


Suasana dalam mobil saat itu seketika terasa panas. AC dengan suhu yang tinggi pun tidak lagi terasa. Cara Lean benar-benar membuat Caitlyn ingin terbakar bersama cintanya.


Setelah beberapa saat sama-sama terbuai dalam lum*atan yang begitu memabukkan, Lean pun menyudahinya dengan menyatukan kening mereka. Napas keduanya sampai tersengal dan saling beradu saking begitu lama menikmati ciuman tadi.


Detik berikutnya, satu kalimat dari Lean seketika membuat Caitlyn merasa hidupnya benar-benar telah sempurna, bahkan 1000 persen.


“I love you, Caitlyn. I love you so much, more than you know!”


Sekali lagi Caitlyn membeku dan tidak dapat berkata-kata. Ah, Lean memang ahli dalam memberi kejutan yang tidak pernah bisa diduga sebelumnya.


“Maaf jika aku terlambat menyadari dan mengungkapkan ini. Tapi percayalah, bukan saja saat ini, namun baik dulu maupun sekarang dan waktu yang akan nanti, hanya kamu satu-satunya wanita yang selalu ada dalam pandanganku. Hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku jatuh cinta dengan hebat dan sedalam ini, Caitlyn,” aku Lean dengan sungguh-sungguh.


“Al, ini ... ini bukan mimpi, ‘kan? Aku ... aku tidak sedang berhalusinasi lagi, ‘kan?” Caitlyn terlalu takut untuk percaya.


Lean tertawa kecil. “Tidak, Sayang. Ini nyata dan benar adanya jika aku, Aleandro Vernon Sanjaya, mengaku dengan segenap hati, sangat dan terlalu besar mencintaimu, Caitlyn Lavanya Wiguna!”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1



__ADS_2