Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 8. Serve Me for the Last


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Caitlyn membelah jalanan pada waktu hampir menunjukkan pukul 11 malam. Sepanjang perjalanan mulutnya tidak berhenti meloloskan berbagai makian untuk Aleandro. Niatnya yang ingin menginap di apartemen Saskia, hilang sudah.


Satu kalimat perintah suaminya saja sudah mengartikan banyak hal. Kata lain dari setiap kalimat perintahnya adalah bahwa dia bisa melakukan berbagai cara untuk menyeret Caitlyn pulang ke rumah.


Daripada sahabatnya terkena imbas perbuatan gila sang suami, Caitlyn memilih mengalah dan pulang. Tiga tahun merupakan waktu yang cukup banyak untuk mengenali semua hal tentang Aleandro Vernon Sanjaya.


Caitlyn memarkirkan mobilnya sembarangan dan melangkah masuk dengan kekesalan stadium akhir. Aleandro benar-benar membuatnya kesal sepanjang hari ini. Rasa lelah tidak lagi dia rasakan yang ada hanya emosi.


Pada waktu seperti ini, Caitlyn yakin semua penghuni rumah sudah terlelap. Ya, di sana hanya tampak beberapa pelayan yang masih berkeliaran. Mengabaikan sapaan-sapaan mereka, Caitlyn melangkah cepat menaiki tangga dan menuju ke kamar miliknya dan Lean.


Baru saja dia membukakan pintu, suara berat Lean menyambutnya.


“Oh, aku pikir kau–”


“Apa yang kau inginkan, Tuan Aleandro Sanjaya yang terhormat?” tanya Caitlyn dengan sedikit teriakan menunjukkan kekesalan yang sedari tadi dia tahan.


“Hei, are you kidding me? Pertanyaan macam apa itu? Aku hanya menyuruh istriku pulang tidak ada yang lain,” sahut Lean begitu santai.


Pria itu terlihat santai dengan posisi bersandar pada headboard sembari memutar-mutar ponsel yang berada di tangannya. Melihat sikap sang suami yang begitu tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, of course Caitlyn marah.


Dia melangkah mendekati suaminya dan melipat tangan di dada, menatap Lean dengan tajam.


“Aku sedang bertanya dengan serius, Tuan Aleandro. Mau kamu apa sebenarnya? Aku sudah meminta cerai darimu tapi kenapa harus dipersulit? Kenapa juga harus memanggilku ke sini. Aku sudah tidak ingin berurusan lagi denganmu!” ucap Caitlyn berapi-api.


Lean yang sedari tadi menunduk sembari memainkan ponsel, seketika mengangkat pandangannya seraya bangkit dari tempat tidur dan membuang ponselnya begitu saja.


“Kau sudah tidak waras, hah? Selama aku tidak ingin bercerai dan perceraian itu sendiri belum diproses, kau masih tetap istriku. Aku masih berhak atasmu dan kau masih harus melayaniku. Kau mengerti?” Telunjuk Lean mengarah lurus tepat berada di pelipis Caitlyn, bahkan terlihat sedikit mendorongnya.


Caitlyn menepis tangan Lean dari keningnya. Wanita itu kemudian tertawa kecil melihat tingkah suaminya itu.

__ADS_1


“Aku sungguh penasaran, Al. Apa yang kamu dapatkan dari pernikahan ini, hm? Bukankah tidak ada satupun yang menguntungkan? Dan … dan, ya, sepanjang tiga tahun ini seseorang terus menggemakan keinginan untuk bercerai. Lantas kenapa dia harus menolak? Seolah aku ini adalah istri yang sangat dia cintai.” Caitlyn semakin tertawa lebar. “Apakah seperti itu, Suamiku?” tanya Caitlyn dengan nada mengejek.


Lean mendengus dan ikut terkekeh. “Kau terlalu percaya diri, Istriku. Aku rasa kau harus bekerja lebih keras lagi jika ingin dicintai seperti itu. Karena mencintai seekor ular adalah hal yang mustahil. Bukan begitu, Istriku?” Pria itu balas mengejek dengan tak kalah pedas.


Meskipun sudah tahu jawabannya bahkan terlalu sering mendengarkan kata-kata seperti itu, tetapi tetap saja Caitlyn merasa sakit yang begitu dalam. Tangannya terkepal kuat menahan nyeri yang menjalar dalam hati.


“Lantas kenapa tidak kau lepaskan ular itu, Tuan? Bukankah semakin lama kau memeliharanya, akan semakin buruk untuk dirimu? Pikirkan keselamatan Anda, Tuan. Jangan sampai bisanya membunuhmu!” Caitlyn menaikkan dagunya terlihat begitu arogan dan menantang.


Panas, itu yang dirasakan Lean. Pria itu langsung menarik tangan Caitlyn dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tas ranjang. Lean merangkak naik dan mengungkung tubuh istrinya itu. Kedua tangannya menangkup pipi Caitlyn dengan kuat.


“Jadi kau berencana membunuhku? Kau ingin meracuniku? Bagaimana kau berpikir untuk menghabisi orang yang sudah memberimu makan, tempat tinggal, dan membiayai hidupmu selama ini, hm? Berani sekali kau wanita ular. Jika saja aku mencampakkanmu, kau akan kesusahan merayap di luar sana untuk mencari makan karena sudah terbiasa tinggal dalam kemewahan.” Lean berbicara sambil menatap jauh ke dalam mata istrinya itu. Percayalah, apa yang dia ucapkan tidak sinkron dengan hatinya.


Caitlyn mendorong paksa tubuh besar Lean dengan sekuat tenaga. Wajahnya memerah menahan perih karena air mata dan amarah. Penghinaan yang sama selalu datang bertubi-tubi dari sang suami dan ibu mertua, tidak lagi bisa ditahannya. Tiga tahun ini topeng yang dia gunakan seolah tak lagi mempan. Dia hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran dan toleransi.


“Kalau begitu ceraikan aku sekarang juga!” teriak Caitlyn setelah berhasil melepaskan diri dan bangkit sambil terduduk. Dia menatap suaminya dengan nyalang. “Ceraikan aku detik ini juga! Buang aku ke jalanan sekarang juga! Aku akan sangat berterima kasih untuk itu.” Mengatupkan kedua tangan di atas kepalanya. “Aku lebih memilih merayap kesusahan daripada menikmati kemewahan ini lebih lama lagi. Lepaskan aku dan ceraikan aku sekarang juga!” Kembali Caitlyn berteriak meluapkan segala emosi dan amarahnya.


Untung saja kamar mereka kedap suara sehingga pertengkaran keduanya tidak pernah terdengar sampai ke luar. Di mata para pelayan dan orang rumah mereka adalah pasangan terbaik.


Lean menatap Caitlyn dengan tatapan begitu dalam. Wajah cantik itu masih sama seperti tiga tahun lalu. Lean ingat dengan jelas di mana wajah inilah yang menawarkan dia segelas vodka saat di blue garden tiga tahun lalu.


“Vodka?”


“No, thanks!”


Lean melirik wanita itu menegak habis minuman yang tadi ditawarkan padanya. Entah apa yang dia lihat hingga lirikan itu berganti menjadi tatapan memuja. Cantik, satu kata yang terbesit dalam hati Lean.


“Kau sedang menunggu seseorang, Tuan?” tanya wanita yang tidak lain adalah Caitlyn.


“Emm. Kamu sendiri?” Lean balik bertanya dengan berpura-pura tak acuh padahal dia begitu tertarik melihat wanita itu. Wajahnya yang cantik, busana seksi yang dia kenakan hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Oh, sh*it, adam mana yang tidak terpikat.

__ADS_1


“Sama. Karena itu aku menawarkanmu minum untuk menghilangkan kejenuhan saat menunggu.” Caitlyn berbicara dengan sangat anggun dan menggoda.


Lean terdiam sejenak hingga akhirnya mengangguk. “Boleh.”


Caitlyn bangkit lalu menuju meja bartender dan memesan segelas vodka untuk Lean. Tidak lama kemudian dia kembali dan memberikan itu pada Lean. Tanpa curiga Lean meneguk minuman itu sampai habis.


Beberapa detik kemudian rasa pusing yang begitu luar biasa menghampirinya. Caitlyn yang memiliki niat jahat saat itu bukannya senang malah panik. Jelas karena rencana jahat itu bukanlah keinginan dia. Caitlyn mulai mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Tiba-tiba seorang pria datang dan langsung membantu memapah Lean keluar dari Club malam tersebut tanpa bertanya pada Caitlyn. Seorang lagi datang dan memaksa Caitlyn mengikuti mereka.


Mau tak mau, Caitlyn harus memaksakan diri memainkan rencana yang tidak dia inginkan sama sekali. Malam itu, Caitlyn dan Lean akhirnya menghabiskan malam di sebuah kamar hotel dengan Lean yang dibawah pengaruh obat, sedangkan Caitlyn sepenuhnya sadar.


Pagi hari saat tersadar, Lean marah karena merasa dijebak oleh Caitlyn. Dari sinilah dia selalu menganggap Caitlyn wanita ular. Setelah hari itu, Lean bersumpah untuk tidak mendatangi garden blue lagi dengan alasan tidak ingin bertemu wanita ular itu. Dia menyesal karena sempat terpikat akan kecantikannya. Tidak habis-habisnya pria itu mengutuki sahabatnya yang meminta bertemu di tempat itu.


Meskipun hidup bergelimang harta, bar bukanlah tempat favorit Lean. Ingat, reputasi bagi keluarga ini adalah yang terpenting. Oleh sebab itu, bar dan wanita malam adalah hal yang selalu Lean hindari. Insiden dengan Caitlyn itu pun adalah pengalaman yang pertama bagi Lean.


Sejujurnya waktu Lean menyadari jika hal itu juga merupakan pengalaman pertama bagi Caitlyn, tetapi Lean menolak percaya bahwa wanita itu adalah wanita baik-baik. Image buruk wanita itu sudah terpatri dalam otaknya. Namun, usaha Lean untuk menghindar dan menghilang pupus sudah.


Satu bulan kemudian wanita itu muncul lagi di hadapannya, bahkan keluarga besar Sanjaya dan mengaku hamil dengan segala bukti yang sudah dia persiapkan. Lean rasanya ingin membunuh Caitlyn saat itu juga. Dia tidak habis pikir kenapa wanita itu bisa menemukan keberadaannya dengan begitu mudah. Namun, rasa marah tidak menyelesaikan semuanya.


Demi menghindari pemberitaan yang akan merusak reputasi keluarga Sanjaya, Lean terpaksa bertanggung jawab dengan menikahi Caitlyn. Pernikahan palsu itu berjalan hingga 2 bulan kemudian, Caitlyn mengaku keguguran dan tiba-tiba kehilangan bayinya.


Lean yang saat itu berada di luar kota, tidak lantas percaya. Dia hanya tertawa karena lagi-lagi tertipu oleh wajah cantik Caitlyn. Dia tahu bahwa itu hanyalah akal-akalan Caitlyn saja. Lean paham betul jika hanya uang yang diinginkan wanita itu. Dia pun tidak peduli dan membiarkan Caitlyn melakukan apa saja yang dia inginkan. Padahal, sebelumnya Lean ingin menerima bayi itu jika saja Caitlyn benar-benar hamil.


Semua kebenciannya pada wanita itu kini sedikit demi sedikit memupuk rasa cinta yang belum mampu dia pahami dan ungkapan itu.


Lean tersentak lalu tersadar dari lamunannya saat setetes cairan bening luruh dari matanya. Pria itu lantas kembali mendorong tubuh Caitlyn dan keduanya terbaring di ranjang dengan posisi Lean menindih dan memeluk tubuh istrinya itu.


“Layani aku sebagai suamimu untuk yang terakhir. Siapkan kebutuhanku seperti biasa. Besok aku akan berangkat ke Jepang selama seminggu. Setelah kembali dari sana, aku akan mengabulkan permintaanmu,” ucap Lean dengan suara serak tanpa memandang wajah istrinya. Pria itu memeluk Caitlyn begitu erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Caitlyn.


Apa dia menangis? Sungguhkah? Tapi kenapa dan aku harus apa? Tidak-tidak. Jangan goyah, Ly!

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2