
Tidak ingin menunda-nunda dan mengulur-ulur waktu, Hadya memberikan alamat yang dia temui pada lembaran surat tanah dan surat rumah tadi pada anak buahnya. Lokasih itu pun langsung dilacak oleh orang-orang kepercayaan Hadya.
Pria paruh baya itu berjalan mondar-mandir di dalam kamar, sambil menunggu hasil penyelidikan dari anak buahnya. Perasaan tidak tenang bercampur khawatir yang teramat besar, terlihat jelas di wajah tampan yang mulai mengeriput.
Tidak dapat menahan lagi, Hadya bergegas keluar kamar hendak memerintahkan Jerry yang bersamanya saat itu untuk segera ke tempat anak buahnya berada. Namun, baru saja membuka pintu, Hadya dikagetkan dengan keberadaan sang ibu–Nenek Sanju yang kini duduk dengan kursi rodanya tepat di depan kamar mereka.
“I-ibu?” Hadya sangat kaget dan terbata tak menyangka. “Ibu sedang apa di sini tengah malam begini, Bu?” tanya Hadya yang memang sangat bingung melihat keberadaan sang ibu pada jam seperti ini.
Seharusnya orang tua yang sudah lanjut usia itu sudah beristirahat pada waktu larut seperti sekarang ini. Nyatanya, tidak dengan Nenek yang satu ini. Nenek Sanju menatap putranya dengan tegas.
“Mau ke mana kamu jam segini, Hadya?” tanya Nenek Sanju dengan suara tenang. Namun, bola matanya menelisik sang putra dengan tajam. “Ada yang kau sembunyikan dari ibu?” Matanya bahkan tidak berkedip. “Apa yang terjadi dengan Lean? Atau … sesuatu terjadi pada Caitlyn?” cecar Nenek Sanju satu per satu.
Hadya gelagapan entah ingin menjawab apa. Dia ingin memberitahu yang sebenarnya tetapi di lain sisi, dia takut membuat ibunya cemas. Hadya bingung sekali harus menghadapi wanita lanjut usia itu seperti apa.
“Mm, Bu. Sebaiknya ibu tidur dulu. Ini sudah sangat larut. Hady tidak ingin ibu sampai sakit. Tolong, dengarkan Hady kali ini saja, Bu. Hady janji, setelah urusan malam ini beres, Hady akan kembali dan menceritakan semuanya untuk ibu. Hady janji, Bu.” Meletakkan tangan Nenek Sanju di atas kepalanya.
Wanita tua itu hanya diam dan masih terus menatap Hadya dengan sangat tegas.
“Jangan hanya cerita, tapi kembalilah dengan membawa kedua cucuku, Lean dan Caitlyn!” pinta Nenek Sanju begitu dalam dan tegas.
Hadya terkejut dan menatap ibunya tak percaya. “Ibu … Ibu tau kalau–”
Nenek Sanju menggeleng. “Tidak. Ibu tidak tahu apa yang coba kau sembunyikan. Tapi hari ibu sangat yakin apapun itu, ada kaitannya dengan kedua cucuku. Karena itu bawalah mereka kembali ke sini agar ibu bisa tenang, Hady.” Ucapan yang begitu menyentuh bagi Hadya. Pria itu tersenyum kecil dan mengangguk. Tidak menyangka jika ibunya akan menyayangi Caitlyn sebesar ini.
Bagaimana jika ibu tau bahwa dia sudah punya calon cicit?
“Baik, Bu. Hadya berjanji akan membawa mereka ke sini secepatnya. Dan karena itu Hadya minta doa dari ibu,” ucapnya dengan wajah memohon.
__ADS_1
“Pergilah!”
Hadya bangkit saat itu, bertepatan dengan Jerry yang menghampirinya dan memberi laporan dari orang-orang kepercayaan mereka.
“Lokasinya sudah ditemukan, Tuan. Mereka juga sudah memastikan jika Nona Caitlyn memang di bawa ke sana. Karena selama ini rumah baru itu belum ada yang menepati serta tidak ada aktivitas apapun di sana. Tapi sekitar tiga jam lalu, ada beberapa mobil yang masuk ke sana,” lapor Jerry.
“Ayo, Jerry! Kita ke sana sekarang. Dan kerahkan mereka semua untuk segera ke sana juga. Siapkan pasukan dari dua sisi, jangan lupa untuk membawa ambulans dan tenaga medis! Jangan sampai menantuku kenapa-kenapa! Tapi pastikan juga keselamatan pasien yang baru sadar itu.” perintah Hadya yang sudah memikirkan segalanya dengan baik.
“Baik, Tuan!”
Jerry lalu bergegas melakukan tugasnya dalam satu waktu dengan cepat. Sambil menyetir, pria itu sambil melakukan panggilan ke mana-mana. Namun, Jerry masih tetap bisa untuk fokus melakukan semuanya dalam waktu yang bersamaan.
...***...
Sementara itu di sebuah hunian yang cukup besar dan luas, mendadak tampak dipenuhi oleh beberapa penjaga dari arah depan gerbang sampai seluruh penjuru rumah. Rumah tersebut tampak masih sangat baru. Sepertinya rumah itu baru saja saja selesai dibangun. Aroma cat dinding dan beberapa perabotan baru, menguar di setiap sudut.
Satu bagian dari banyaknya ruangan di sana, terdapat seorang wanita cantik yang sedang disekap dengan kondisi tangan serta kaki yang terikat, juga mulut yang ditutupi oleh lakban. Wanita cantik yang tidak lain dan tidak bukan adalah Caitlyn, terlihat tampak kacau dan berantakan.
Papa …! Papa di mana? Tolongin Caitlyn, pa! Caitlyn takut ….
Pekik wanita itu memanggil ayah mertuanya dalam hati karena mulut yang masih disumpal. Matanya yang terlihat sayu hendak tertutup, tetapi dia berusaha untuk tetap sadar dan tidak sampai tertidur.
Tiba-tiba ada dua orang pria masuk dan langsung menarik lakban yang menempel di mulutnya. Gerakan cepat dan kuat itu menciptakan bunyi yang cukup membuat perih bagi siapapun yang mendengar, apalagi Caitlyn yang merasakan langsung.
“Auh,” rintih Caitlyn seketika.
Bersamaan dengan itu, seorang wanita cantik yang tidak lagi asing ikut masuk ke sana dan berdecih melihat respon Caitlyn.
__ADS_1
“Manja. Baru gitu aja udah merintih.” Mendekat pada Caitlyn dan mencengkram dagunya yang sedikit runcing. “Permainan bahkan belum dimulai, tapi kau sudah kesakitan, kecapean … ckckck, anak pungut aja manja,” ucap wanita itu dan langsung mendorong wajah Caitlyn.
“Apa maumu, Tamara?” tanya Caitlyn tanpa takut.
Tamara tergelak mendengar pertanyaan itu. “Kau masih perlu bertanya? Tentu saja mauku adalah Lean,” jawabnya santai sekali tanpa beban.
“Cih, jika itu yang kau mau, kenapa tidak langsung saja mengatakan pada orangnya dan malah menahanku di sini? Aku dan dia sebentar lagi berpisah dan itu harusnya menjadi peluang besar bagimu, ‘kan? Tidak perlu melibatkan aku dengan cara hina seperti ini. Kampungan tau gak,” tukas Caitlyn kesal.
“Tutup mulutmu! Kau berani mengataiku kampungan?” Tamara tertawa. “Heh, anak pungut. Apa setelah berpisah dari Lean, kau tidak mampu membeli sebuah cermin?” Lagi-lagi dia tertawa. “Percaya diri sekali kau mengatai seorang model terkenal kampungan? Hei, apa kabar denganmu yang diangkat dari jalanan lalu dibawa oleh keluarga Wiguna dan tinggal di tempat kumuh? Apa kau mau melupakan sejarah indah itu, Nona Wiguna?” Tidak henti-hentinya Tamara tertawa.
Wajah Caitlyn tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Dia hanya diam sambil menatap Tamara tanpa berkedip.
“Apa? Kau mau menyangkal juga? Sadar diri itu perlu, Caitlyn sayang. Kau itu hanya wanita rendahan yang diangkat oleh Tante Sania menjadi menantu di keluarga Sanjaya dan dipandang oleh dunia,” tandas Tamara.
Tiba-tiba Caitlyn yang balas tertawa. “Tolonglah, Tamara. Yang rendah itu kau. Caramu yang seperti ini misalnya.” Caitlyn menujukkan dirinya sendiri yang sedang terikat. “Menggoda suamiku dengan berbagai cara, mendatangi kediaman keluargaku dengan tidak tahu malunya. Oh, damn, itu rendah sekali Tamara,” cibir Caitlyn tanpa peduli dengan raut Tamara yang berkilat marah.
Tanpa menunggu lama, Tamara menghampiri Caitlyn dan langsung menampar pipinya dengan sangat kuat.
“Lean itu milikku, dan selamanya akan menjadi milikku. Kau yang datang dan merebutnya dariku, ******. Yang rendah itu kau, bukan aku. Kau ****** rendahan yang merampas barang milikku!” bentak Tamara penuh emosi.
Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar di depan pintu, membantah ucapan pedas Tamara.
“Jangan sekali-kali kau menyebutnya seperti itu, Tamara!”
Wajah Tamara terlihat kesal, sedangkan wajah Caitlyn tampak terkejut.
“Kau?”
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...