Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 44. Caitlyn’s Trip


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang melewati beberapa kota kecil menuju ke ibu kota, diiringi dua mobil lainnya dari belakang.


Perjalan belum juga setengah jalan, tetapi salah satu penumpang cantik di dalam sana sudah begitu lelah serta jenuh. Meskipun tempat duduk di dalam mobil utama itu sudah disulap senyaman mungkin selayaknya sebuah kamar, tetap saja penumpang cantik itu merasa bosan.


“Ada yang Anda butuhkan, Nona?” tanya seorang pria yang duduk di kursi penumpang samping kursi pengemudi.


“Berapa lama lagi kita akan sampai, Pak?” Bukannya menjawab, wanita cantik yang adalah Caitlyn justru balik bertanya.


“Kurang lebih tujuh jam lagi baru akan sampai, Nona,” jawab pria itu.


Caitlyn mendengus. “Lama sekali, Pak. Kenapa tidak dipercepat saja, sih?” Nada bicaranya lembut tetapi sedikit ketus.


“Dipercepat bagaiman, Nona?” tanya si pria yang duduk di balik kemudi.


“Astaga, Pak! Ya, ngebut dong, tambah kecepatannya gitu biar mempersingkat waktu. Kalo jalan santai lelet kayak gini mah bosen, Pak.” Jawaban Caitlyn membuat dua pria itu terkejut dengan mata membola.


“Maaf, Nona. Tapi kami tidak bisa melakukan itu. Ini perintah langsung dari Tuan Besar demi keselamatan Anda.” Langsung memberikan jawaban serta alasannya yang jelas agar Nona Muda itu tidak bisa lagi membantah.


Benar saja, Caitlyn tidak lagi membantah tetapi wajah cantik itu tampak kesal.


“Kalau begitu aku mau makan, Pak,” ucap Caitlyn dengan ekspresi ngambek tetapi lucu sekali.


“Iya, silahkan, Nona!” sahut dua pria di depan sana.


Bukan tanpa alasan mereka menyahut seperti demikian. Namun, alasannya karena di dalam mobil itu sudah tersedia segala macam keperluan Caitlyn. Makanan berat yang sudah dipesan khusus dari hotel tempat para penjaga itu menginap dan bertukar shift jaga, berbagai makanan ringan serta minuman bermacam-macam tersedia di dalam sana untuk menemani perjalanannya. Mobil itu sudah seperti minimarket berjalan.


“Maksudnya, Pak? Aku dikasih makan apa memangnya, kok, udah dipersilahkan aja?” Caitlyn bingung.


Tanpa dia sadari, dua pria di sana jauh lebih bingung daripada dirinya. “Maksudnya, ‘kan, sudah ada makan yang tersedia di dekat Anda dan tinggal dimakan saja, Nona.” jawab yang di samping pengemudi.


Caitlyn diam tak menjawab, tak juga berniat memilih apa yang hendak dia makan. Wanita itu lebih memilih memejamkan mata dan tidur. Kedua penjaga di depannya saling menatap bingung lalu hanya mengedikan bahu serempak.


Beberapa saat kemudian terdengar dering ponsel yang berbunyi. Detik berikutnya terdengar lagi isakan kecil disertai aduan dari arah belakang yang membuat dua pria di depan sana mendadak kelabakan.


📲 “Mereka tidak bertanya Caitlyn maunya apa? Caitlyn tidak berselera dengan makanan yang ada di sini, pa.”

__ADS_1


Cicit Caitlyn begitu pelan. Dia mengadu pada seseorang yang tidak lain adalah ayah mertuanya. Memangnya siapa lagi yang dapat dia tuju untuk menjadi tempat bermanja dan mengadu kalau bukan kepada Hadya.


“Mm, maafkan kami, Nona. Kami–”


Caitlyn bangun dan menunjukan wajah cantiknya yang dihiasi sedikit air mata. Sejenak dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap kedua anak buah Hadya dengan wajah ditekuk.


“Jangan bicara dulu dengan Caitlyn, Pak! Caitlyn masih ngomong sama papa.”


Dua orang itu langsung menutup mulut dan fokus berkendara sambil yang satunya memasang telinga dengan baik.


📲 “Memangnya kamu makan apa, nak?”


📲 “Caitlyn cuman mau brioche hot dog, pa.”


📲 “Loh, ini sudah bukan lagi jam sarapan. Sudah harus makan siang ini, nak.”


📲 “Tapi Caitlyn cuman mau itu.”


Hadya menarik nafasnya sejenak. Dia tahu bahwa ini salah satu permintaan ngidam menantunya itu.


Hadya merayu dengan nada yang terdengar lembut dan berharap Caitlyn menyetujuinya. Beberapa detik dia terdiam, hingga mengiyakan pada akhirnya.


📲 “Baiklah, pa.”


Hadya tersenyum mendengar jawaban penuh keterpaksaan itu.


📲 “Sabar yah, kamu akan dapatkan yang kamu inginkan, nak. Hati-hati di perjalanan.”


Panggilan itu berakhir dan dua pria di depan sana bernafas lega, sedangkan Caitlyn mulai bergerak untuk makan.


...***...


Di kediaman utama Sanjaya, Sania sendiri sedang merasa senang karena kabar baik yang dia dapatkan dari Tamara tadi pagi. Dia tidak sabar untuk nanti malam mendengar kabar baik yang lainnya.


“Satu per satu rencanaku mulia berjalan mulus. Aku suka ini, sangat suka. Tapi lagi-lagi aku harus melibatkan anak pungut itu. Dia selalu menjadi tokoh utama dalam drama yang aku sutradarai.” Sania melangkah keluar kamar hendak ke kamar Cecilia.

__ADS_1


Namun, dia teringat akan keberadaan Hadya yang tiba-tiba menghilang sejak pagi-pagi benar.


“Tapi di mana Hadya? Sejak pagi sudah menghilang. Akhir-akhir ini kuperhatikan dia terlalu sibuk sepertinya.”


Sibuk dengan pikirannya sampai Sania lupa dengan tujuan hendak ke kamar putrinya. Tiba-tiba saja Cecilia sudah lebih dulu muncul dan meyapa dengan riang gembira.


“Ma! Ngapain melamun di sini?” tanyanya sambil menahan pundak Sania.


“Ih, ngagetin aja. Mama tadi mau ke kamar kamu, tapi keingat sama papa yang entah ke mana dari pagi jadi–”


“Udah, udah, gak usah pedulikan papa. Sekarang Cecil punya kabar bagus untuk Mama.” Sungguh wanita itu terlihat sangat girang dari biasanya.


Kening Sania mengkerut. “Kabar apa? Cepat katakan, jangan bikin mama penasaran dong,” desak Sania.


Masih dengan wajah full senyum, Cecilia lalu mengatakan pada ibunya.


“Cecil diterima di SW-Entertainment, Ma. Aaaaaaaakk!” ucapnya lalu berteriak histeris pada akhir kalimatnya.


Sania ikut senang tentu saja. Itu adalah impian dia bersama putrinya. Sania menajdi puas karena semua itu berkat usahanya yang memata-matai Tamara beberapa hari terakhir. Satu kartu as yang Sania ketahui hari itu, membuat Tamara bertekuk lutut dan mau tak mau harus melakukan apa yang diinginkan wanita iblis tua itu.


Pria yang beberapa lalu menghabiskan waktu bersama Tamara di sebuah kamar hotel, adalah founder SW-Entertainment yang tidak lain adalah ayah dari sahabat Caitlyn–Saskia.


Mendapat ancaman dari Sania, Tamara langsung merayu pria tua itu untuk menerima portofolio atas nama Cecilia Sanjaya. Padahal awalnya, Tamara tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Sanjaya karena sudah mendapatkan sugar daddy yang mampu mencukupi semua kebutuhannya, tetapi iblis tua itu menjeratnya lagi dan lagi.


Sania menarik tangan Cecilia ke kamarnya dan melakukan panggilan telepon dengan Tamara. Tidak membutuhkan waktu lama, sambungan terhubung.


📲 “Halo, cantik. Tante sungguh sangat senang dengan hasil kerjamu. Tante harus akui kalau kamu memang berbakat dalam hal seperti ini.”


📲 “Tidak perlu berterima kasih, tan. Anggap saja itu imbalan karena telah memberikan jalan bagiku mendapatkan Lean. Yang aku dapatkan jauh lebih berharga. Sepantasnya aku yang berterima kasih sama tante.


📲 “Ah, ya. Sepertinya memang harus seperti itu. Baiklah, terserah kau saja, tamara. Pesan tante, tetaplah berhati-hati karena semua ini baru dimulai dan belum berakhir.”


📲 “Okay, sampai bertemu di rencana selanjutnya.”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2