Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 114. Keputusan Lean & Kecemasan Cecilia


__ADS_3

Siang harinya, Lean membangunkan Caitlyn untuk makan siang bersama. Sebenarnya dia tidak tega untuk menganggu tidur lelapnya, tetapi dia juga tidak mau jam makan siang istrinya terlewatkan.


Meskipun dengan terpaksa, Lean akhirnya membangunkan bumil itu juga. Caitlyn pun terbangun dan dia tersenyum kecil saat mendapati Lean yang setia di sampingnya.


“Kau benar tidak ke mana-mana?” tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


Lean tersenyum dan mengangguk. “Kau bisa liat sendiri, ‘kan? Aku di sini, Sayang. Selalu di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu. Jadi, sekarang bangunlah karena ini giliranmu temani aku makan. Okay?” Ekspresinya dipertegas tetapi itu terlihat lucu di mata Caitlyn.


Bumil cantik itu tertawa kecil dengan wajah masih sedikit mengantuk.


“Iya ... aku dan anakku juga lapar jadi kami butuh makan,” ucap Caitlyn kemudian langung bangkit dan duduk.


“Anak kita, Sayang.” Lean mengoreksi kalimat istrinya.


Caitlyn tertawa dengan tangan yang mengusap wajah tampan sang suami.


“Iya, anak kita.” Membenarkan koreksi dari yang mulia Aleandro Sanjaya.


Lean baru bisa tersenyum senang. Pria itu kemudian berlari kecil mengambil sisir di atas meja rias milik sang istri.


“Untuk apa, Sayang?” tanya Caitlyn dengan wajah bingung.


“Untuk apa lagi memangnya? Untuk menyisir rambut istri aku, lah.” Menjawab dan selanjutnya dia pun langsung melakukan apa yang dia katakan tadi.


Caitlyn terdiam dengan perasaan bahagia dan senyum yang tidak pernah pudar. Bumil itu sungguh menikmati perlakuan manis dari suaminya. Setelah selesai menyisir rambut, dia pun mengajak Caitlyn untuk berdiri lalu kembali dia merapikan pakaian wanita cantik satu itu.


“Nah, sudah cantik,” puji Lean. Pria itu kemudian sedikit menunduk dan meletakkan sebelah tangannya di dada. “Silahkan, Tuan Putri. Semua orang sudah menunggu Anda di bawah.” Guyonan Lean sungguh membuat Caitlyn ingin menahannya di kamar dan tidak perlu ke ruang makan.


Benar saja, wanita itu tertawa lepas dan langsung menghambur memeluk suaminya dengan erat.


“Sayaaanggg," rengek Caitlyn dengan wajah tersenyum. Aneh, namanya merengek, ‘kan, harusnya menangis, dia malah merengek sambil tersenyum. Entahlah, konsepnya seperti apa.


“Kenapa, hm?” tanya Lean sembari menahan bobot tubuh sang istri yang bertumpu sepenuhnya padanya.


“I love you,” bisik Caitlyn dengan mesra yang dilengkapi sebuah ciuman manis di pipi suaminya.

__ADS_1


“Oh, si*al!” umpat Lean dengan suara pelan disertai erangan kecil yang tertahan. “Kau menggodaku, Tuan Putri,” ucap Lean dengan wajah tanpa senyuman.


“Ya, benar sekali. Kau keberatan dengan itu? Apa yang akan kau lakukan?” Bertanya sembari berkacak pinggang.


“Aku ... aku hanya akan mencintaimu lebih dalam lagi dan lagi, seumur hidupku, Tuan putri.”


Setelah mengucapkan itu, Lean menarik pinggang istrinya semakin dekat, kemudian dia pun menyatukan bibir mereka dengan cium yang teramat dalam dan manis. Beberapa detik terlewati dan Lean pun mengakhirinya dengan menyatukan kening mereka.


“I love you too, Nyonya Caitlyn Aleandro Sanjaya!”


...***...


Di ruang makan, Nenek Sanju dan Papa Hadya sementara menunggu pasangan suami-istri itu. Tidak lama kemudian, mereka pun muncul di sana.


“Nah, itu mereka,” kata Hadya. “Bagaiman perasaan kamu, Sayang?” lanjut Hadya bertanya.


“Sudah lebih baik dari pagi tadi, Pa." Caitlyn menjawab sambil tersenyum menatap anggota keluarga itu satu per satu. Mereka pun bahagia melihat senyum manisnya.


“Syukurlah. Papa senang mendengarnya. Ayo, sekarang kita makan!”


Pada kesempatan itu juga, Lean teringat dengan undangan yang disampaikan Tuan Vargas via telepon tadi. Dia lalu menyampaikan hal tersebut pada ayahnya.


“Kau dan Caitlyn akan pergi ke sana malam ini?” tanya Hadya dengan tatapan serius.


Sesungguhnya pria itu kaget mendengar undangan yang disampaikan oleh Lean. Namun, dia lebih kaget lagi mendengar jawaban putranya itu.


“Tentu saja, Pa.” Lean menjawab tegas dengan wajah yang tidak kalah serius.


Apa dia sudah kehilangan akal? Bagaimana bisa dia membawa Caitlyn ke sana? Apa yang dia pikirkan?


Hadya membatin bingung tidak hanya pikir dengan keputusan sang putra. Dia adalah Lean yang kadang-kadang sulit untuk dimengerti.


Setelah kegiatan makan siang selesai, Caitlyn dan Nenek Sanju memilih bersantai di ruang keluarga sambil berbagi cerita. Sementara itu Lean dan Hadya menuju ruang kerja seperti biasanya.


“Apa maksud kamu dengan ingin membawa Caitlyn ke sana?” tanya Hadya begitu keduanya telah duduk berhadapan.

__ADS_1


“Kenapa memangnya, Pa? Ada yang salah?” Lean bertanya balik.


“Jelas ada yang salah, Lean. Kau sengaja ingin membuat istrimu terluka dengan membawanya ke sana? Bagaimana jika dia melihat Cecilia dan anak itu bertingkah iblis seperti ibunya, mempermalukan istrimu di sana? Itu yang kau mau?” cecar Hadya yang sesungguhnya marah.


Lean tertawa kecil. “Salah, Pa. Justru aku ingin membuka matanya tanpa perlu aku jelaskan. Aku yakin begitu dia melihatnya, dia akan langsung mengerti,” jelas Lean santai. “Dan paling penting adalah bukan Cecilia yang akan mempermalukan istriku di sana, tetapi dia sendiri yang akan dipermalukan dengan kehadiran Caitlyn Pa. Kita lihat saja nanti malam.”


Selesai mengucapkan itu, pria itu lalu bergegas keluar dari ruang kerja sang ayah. Bertepatan saat itu, Jerry datang dan melaporkan semua tugas yang diberikan Lean hari itu. Tidak lupa, asisten itu pun menyerahkan ponsel Sania pada atasannya.


“Terima kasih, Jerry. Kerja yang bagus," puji Lean. “Oh, ya. Jangan lupa nanti malam kau juga hadir dalam acara keluarga Vargas. Kita bisa pergi bersama nanti,” tambahannya.


“Baik, Tuan!”


Jerry kemudian pergi entah ke mana lagi, sedangkan Lean menyusul istri dan neneknya di ruang keluarga. Perasaan pria tampan itu sangatlah senang. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu malam tiba, serta berharap hari esok segera tiba agar dia memulai permainan barunya bersama Sania dan Dita.


Sampai ketemu nanti malam mantan adik, dan sampai bertemu besok mantan ibu tiri ...!


...***...


Sementara di kediaman Vargas, Cecilia yang mulai menjalankan perannya sebagai sosok Caitlyn, sedang merasa cemas karena tidak dapat menghubungi mamanya.


Beberapa pesan sudah dia kirimkan, tetapi tidak kunjang ada balasan satu pun. Panggilan telepon berulang kali, tetap sama tidak ada yang merespon. Cemas, khawatir, bercampur, takut. Cecilia tidak bisa melakukan ini tanpa monitoring dari Sania–sang induk iblis.


“Mama ke mana, sih? Pesan gak dibales, ditelepon gak diangkat. Ini aku harus bagaimana?”


Tidak ingin menyerah, Cecilia mencoba sekali lagi. tidak juga ada tanggapan. Wanita itu kini berdiri di dalam kamar mandi di kamarnya. Mondar-mandir begitu saja menunggu satu pesan balasan dari Sania agar hatinya tenang.


“Cait? Kamu di dalam? Mommy mau bicara, Nak. Cepatlah, mommy tunggu, yah.”


Suara dari balik pintu membuat Cecilia semakin ketar-ketir.


“Astaga, aku gimana ini? Oh, sh*it!”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2