
Suasana bahagia tengah memenuhi ruang perawatan VVIP yang dihuni oleh menantu dari pendiri rumah sakit tersebut. Waktu tengah malam yang seharusnya membuai setiap orang untuk terlelap, justru digunakan keluarga Sanjaya dan keluarga Vargas untuk saling berbagi sukacita dan bahagia.
Keresahan, kelelahan, ketegangan, kecemasan, serta kantuk, tidak lagi mereka rasakan. Semua rasa itu mendadak sirna diganti tawa dan kebahagiaan.
“Jadi, keluarga kita sudah lengkap, ‘kan, Mom?” tanya Caitlyn yang tersenyum dalam pelukan Lean sekarang.
Yah, setelah drama berkumpulnya keluarga istrinya, Lean pun segera kembali dan duduk tepat di samping wanita itu. Menggenggam tangannya dengan lembut dan penuh cinta.
“Eits, no, Sayang. Kita masih kurang satu personil lagi,” jawab Nyonya Vargas dengan senyum dan gelengan kecil.
“Hah? Serius, Mom?” Caitlyn dan Lean kompak berduet menyuarakan tanya yang sama.
“Duh, mommy gemes liat pasangan kompak ini.” Nyonya Vargas tersenyum sembari menangkup pipi sendiri saking gemas. Wanita setengah baya nan cantik itu menoleh pada putra sulungnya. “Kak, cepetan dong cari pasangan, biar kayak adikmu.” Ucapan itu langsung mengundang tawa semua orang.
Dokter Vargas mendengus. “Sabar, Mom. Dikira cari bini itu gampang? Tidak semudah itu, Mom. Kalau jodohnya sudah datang, baru aku kenalkan sama, Mommy. Tidak usah pake tunggu,” jawabnya simpel.
“Yeh, kelamaan, Kak. Kakak banyak seleksi, sih. Lama-lama mommy jodohin juga sama putri teman mommy.” Ancaman yang selalu didengar oleh sang dokter.
“Ck, jangan aneh-aneh, Mom. Tuh, anak sama menantunya Mommy nunggu jawaban Mommy, tuh,” ucapnya sedikit malas karena kesal pada ibunya.
“Oh, iya, mommy sampai lupa mau jawab pertanyaannya Caca.” Memukul pelan kepalanya sendiri. Gara-gara Kakak juga, sih,” sungutnya pura-pura.
“Loh, kok, aku yang disalahin? Ck, aku pergi saja dari sini kalau begitu.” Dokter Vargas tak sungguh-sungguh memasang wajah kesal itu.
Namun, dia benar-benar beranjak dari tempatnya bertujuan hendak ke ruang kerjanya yang berada di rumah sakit tersebut. Akan tetapi, baru berpindah selangkah saja, suara Caitlyn sudah menahannya.
“Wait, Kak.” Dokter Vargas berhenti dan berbalik menatap adiknya. “Kakak gak perlu capek nyari jodoh jauh-jauh, gak perlu capek buat milih-milih. Aku tahu harus menjodohkan Kakak sama siapa,” ucap Caitlyn dengan kerlingan misterius.
“Siapa memangnya, Sayang?” Itu suara Nyonya Vargas. Wanita itu menyambut antusias perkataan sang putri.
“Teman aku, Mom. Dia pernah berciuman sama Kakak di sini. Di rumah sakit ini,” ucap Caitlyn pada ibunya. “ingat, ‘kan, Kak?” Kali ini dia menoleh pada kakak lelakinya dan meminta konfirmasi yang sebenarnya.
“What? Ciuman?” Nyonya Vargas terkejut bukan main dengan mata membola. Sementara Caitlyn mengangguk dengan cekikikan.
Baru saja akan melemparkan tatapan membunuh pada putra sulungnya itu, yang bersangkutan langsung berlari keluar secepat mungkin dalam waktu singkat.
__ADS_1
Lean terbengong menatap setiap interaksi ibu dan anak itu. Tiba-tiba saja sebuah tanya terlintas di pikirannya.
“Apa dia tidak pernah berpacaran sebelumnya?” tanya Lean dan Nyonya Vargas mengangguk. “Jadi dia juga tidak pernah ciuman sebelumnya?” Lagi-lagi bertanya dan lagi-lagi Nyonya Vargas mengangguk.
“Mommy ingin marah padanya jika sampai yang dikatakan Caca benar. Beraninya dia sudah punya pacar tapi tidak dikenalkan sama mommy. Awas saja dia.” Caitlyn tergelak mendengar omelan ibunya.
Ah, begitu rupanya.
“Emang bukan pacarnya kakak, Mom. Mereka ciuman gak sengaja, kok,” jelas bumil cantik itu membela kakaknya. “So, jangan mikirin itu lagi, yah, Mom. Sekarang Caitlyn mau denger jawaban Mommy soal salah satu anggota keluarga kita yang berkurang. Siapa dia, Mom? Apakah kakak aku yang satunya lagi?” tanya Caitlyn penasaran.
Nyonya Vargas menggeleng. “Dia adalah adikmu, Sayang. Si bungsu yang jahil dan keras kepala dalam keluarga kita.”
“Woah, jadi aku juga punya adik? Di mana dia, Mom? Kenapa dia tidak ada di sini?” cecar Caitlyn penasaran sekaligus antusias.
“Tadi pagi dia pulang ke apartemennya. Tidak mau tinggal di rumah dan memilih tinggal sendiri. Tidak akur sama daddy. Mereka berdua bertengkar terus,” bisik Nyonya Vargas, tetapi masih dapat di dengar oleh kelurga yang lain.
Mata Caitlyn berbinar cerah sekali. “Ah, pasti di rumah seru sekali mendengar pertengkaran mereka, Mom. Caitlyn tebak, dia pasti lebih asik dan seru kalau diajak ngobrol dari pada sama kakak.”
“Benar, Sayang. Tapi terkadang juga bikin pusing.” Ucapan itu berhasil mengundang tawa semuanya.
Lean melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu kini menujukkan pukul 3 dini hari. Tidak terasa tiga jam berlalu dengan tangis, canda, tawa, serta obrolan ringan. Lean menatap wajah lelah istrinya meskipun dia terlihat bahagia.
“Daddy saja yang pulang, mommy mau tetap di sini, jagain Caca.” Nyonya Vargas menolak.
“Daddy juga kalau begitu.”
“Papa juga!” Hadya tidak ketinggalan.
Lean dan Caitlyn saling melemparkan pandangan sambil tersenyum melihat tingkah para orang tua di sana. Mereka seperti sedang melakukan aksi demo. Lean berpikir jika sudah seperti ini, orang-orang tua itu akan semakin sulit untuk dipaksa. Dia lalu berdehem sebelum berkata.
“Baiklah jika kalian ingin tetap di sini. Silahkan tidur di sofa dan bangun pagi tulang-tulang yang sudah keropos itu semakin encok. Dan silahkan saja jika kalian siap melihat keromantisan kami di ranjang ini. Apa kalian akan nyenyak mendengar suara desa*han dan erangan sek*si istriku?” tanya Lean dengan seringai.
“Kita pulang, Nada. Aku juga ingin membuatmu mende*sah,” ucap Tuan Vargas yang langsung mendapat lirikan tajam dari istrinya.
“Apalagi papa. Ah, sudahlah! Papa juga pulang saja,” putus Hadya.
__ADS_1
Lean tersenyum puas mendengar keputusan masing-masing orang tua itu. Satu-satu dari mereka lalu berpamitan dan berjanji akan kembali pagi-pagi sekali.
“Mommy dan daddy balik, yah, Sayang. Besok pagi kami akan datang lagi.” Pasangan suami-istri itu bergantian memeluk putri mereka sebelum keluar.
“Ajak si adek ke sini, yah, Mom!” pekik Caitlyn saat keduanya sudah sampai di ambang pintu. Pasangan suami-istri itu merespon dengan mengacungkan jempol.
Kini giliran Hadya. “Kamu tau papa, ‘kan? Papa selalu khawatir soal keadaan kamu, Sayang. Papa ingin sekali tidur di sini saja, tidak peduli tulang papa bakalan sakit. Tapi suamimu sudah mengusir dengan cara seperti itu, papa mengalah saja,” tutur Hadya pasrah.
Caitlyn tertawa kecil. “Aku tau, Pa. Papa yang terbaik buat aku. Papa yang selalu aku andalkan. Makasih, Pa. Sudah jadi sosok pelindung buat aku selama ini. Makasih selalu ada di saat aku butuh bantuan. Walaupun sudah punya orang tua kandung, tetap saja papa yang terbaik. Papa bagi aku adalah sosok malaikat pelindung. Caitlyn sayang sama papa,” ucap Bumil itu dengan mata yang kembali memanas dan berkabut.
Hadya tersenyum dan mendekat, kemudian memeluk tubuh menantu yang sudah dianggapnya seperti putri sendiri.
“Sudah cukup menangisnya. Janji sama papa tidak boleh menangis lagi mulai saat ini, yah.” Caitlyn mengangguk dan melepaskan pelukannya. “Papa yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah mau memaafkan dan menerima kambali putra papa. Dan yang paling penting, papa berterima kasih karena sudah sudi mengandung dan menjaga cucu papa. Papa balik dulu, nanti besok papa jemput. Mau makan apa besok biar papa sampaikan pada pelayan untuk menyiapkan semuanya?” tanyanya perhatian.
“Apa saja, Pa. Aku bakal makan, kok.” Menjawab dengan senyum.
Hadya mengangguk lagi dan pergi setelah sebelumnya memberi satu kecupan sayang di kepala menantunya itu. Setelah kepergian Hadya, Lean menatap istrinya dengan senyuman kecil.
“Segitunya papa sayang sama kamu. Aku merasa jadi anak angkat sekarang.” Caitlyn tertawa dan mengusap wajah pria tampan yang menjadi suaminya itu.
“Ada-ada saja. Sini tidur. Kamu pasti capek, ‘kan?” Lean mengangguk dan keduanya lalu berbaring dengan posisi saling berhadapan.
“Aku boleh minta waktu sebentar gak sebelum tidur?” tanya Lean serius.
“Apa?”
Lean menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar.
“Aku mau tanya sesuatu sama kamu tapi aku mohon jawab jujur dan aku butuh penjelasannya, Sayang.” Caitlyn sontak mengerutkan keningnya.
“Ok, apa yang mau ditanyakan memangnya?” Mulai penasaran.
“Ehem, tadi ... tadi kata dokter kamu ... kamu pernah keguguran, Sayang. Apa semua itu benar?”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...
... ...