Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 39. Healer for Hadya


__ADS_3

Pagi yang tadinya dinobatkan Caitlyn sebagai pagi terindah, hancur dalam seketika. Lagi dan lagi wanita cantik itu dikecewakan oleh sikap Lean yang tidak ingin mendengarkan penjelasannya sama sekali.


Hal yang lebih menyakitkan dari itu, Lean menuduhnya mengandung anak dari Nathan. Hati wanita mana yang tidak sakit mendapat tuduhan seperti ini? Apalagi tuduhan itu dari orang yang dia cintai, ayah dari janin dalam kandungannya.


Tawa canda yang mewarnai pagi Caitlyn pada hari itu, lenyap sudah tak bersisa. Sejenak Lean datang memberinya sedikit kebahagiaan dan langsung pergi hari itu juga meninggalkannya dalam kehancuran.


Caitlyn sudah berusaha memohon sambil menarik-menarik baju yang dikenakan Lean, memintanya untuk tinggal sejenak dan mendengar semua penjelasannya, tetapi Lean adalah Lean. Pria yang tidak sabaran dan selalu cepat tersulut emosi.


“Kenapa gak bisa percaya sama aku sedikit saja?” cicit Caitlyn sambil menangis dan terduduk di depan teras rumahnya.


“Iya dulu aku memang pernah melakukan kesalahan hingga bisa bersamamu. Tapi itu bukan atas kemauanku, Lean. Jika tau sejak awal akan jatuh cinta padamu seperti ini, aku tidak akan pernah mau melakukannya.”


Caitlyn masih saja menangis mengeluarkan semua sakit hatinya. Tidak peduli dengan orang-orang yang mungkin saja berlalu lalang di depan sana dan melihatnya, Caitlyn tidak peduli. Dia baru sadar dan menghentikan tangis ketika ponselnya berdering. Cepat-cepat Caitlyn menghapus air matanya dan berlari kecil ke dalam rumah untuk mencari ponsel yang terus memekik.


Saat membaca nama yang tertera pada layar, sesegera mungkin dia menjawab teleponnya.


📲 “Halo, Caitlyn? Kau baik-baik saja, nak?”


Nada Hadya terdengar begitu khawatir karena tentu saja dia sudah mengetahui pertengkaran dari hasil laporan anak buahnya.

__ADS_1


📲 “Caitlyn gak baik-baik aja, pa. Lean gak mau dengerin penjelasan Caitlyn. Dia marah dan pergi gitu aja, pa. Caitlyn harus apa?”


Tangis yang tadi sempat mereda, kini meledak lagi. Beban yang dia rasakan tidak mampu untuk dibendung sendiri. Caitlyn tidak ingin berdiam diri dan hanya menerima kemarahan serta tuduhan-tuduhan Lean yang tidak berdasar sama sekali kali ini.


Ini anaknya, darah dagingnya, dia harus tahu akan hal itu. Awalnya Caitlyn memang bingung harus memberitahukan seperti apa, sementara dia sudah meminta cerai. Entah apa reaksi Lean jika dia tahu hari itu? Bisa saja gila dari yang terjadi sekarang ini.


Caitlyn sudah membulatkan hati untuk berlari sejauh mungkin dan akan merahasiakan kehamilannya, hingga semesta yang akan mengungkapkan itu semua untuk Lean suatu hari nanti. Namun, mungkin ini memang sudah waktunya.


📲 “Tenangkan dirimu dulu, nak. Ingat yang di dalam kandungan kamu. Jangan pernah mengabaikannya. Papa mohon. Tolong tenangkan dirimu, dan papa akan pikirkan harus melakukan apa setelah ini.”


Hadya mencoba menenangkan menantunya, sementara dia sendiri sedang pusing memikirkan kelakuan Lean yang tidak pernah berubah. Baru saja Hadya merasa senang dan tenang pagi tadi, siangnya sudah dibikin pusing kembali.


📲 “Tolongin Caitlyn untuk ngejelasin sama Lean, pa. Please!”


Rintihan sendu itu membuat Hadya begitu tidak tahan ingin merangkul menantu yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.


📲 “Percaya sama papa, yah. Papa akan melakukan yang terbaik semampu papa. Tenangkan dirimu dan jaga cucu papa.”


Hadya memutuskan sambungan telepon, lalu memijat sedikit pelipisnya. Lagi-lagi Lean berulah dan Hadya benar-benar harus memberinya pelajaran kali ini.

__ADS_1


Pria paruh baya itu teringat pada sebuah benda yang tersimpan di salah satu laci meja kerjanya. Dia lalu meraih kunci dan membukanya. Saat jemarinya menarik laci tersebut, perasaan damai tiba-tiba menyeruak memenuhi hatinya. Hadya langsung meraih sebuah bingkai yang menyimpan gambar diri seorang perempuan cantik di sana.


Senyum manisnya yang begitu teduh, selalu mampu membuat Hadya merasa damai. Saat dia merasa penat dengan segala persoalan hidup, senyum yang terpatri dalam bingkai itu yang selalu mengobatinya.


“Aku berbuat salah lagi, Jeanice.” Hadya berbicara sambil menatap wajah cantik dalam bingkai itu. “Aku membutuhkanmu untuk menghadapinya. Maafkan aku karena sejauh ini belum mampu menjadi papa yang baik untuknya.”


Hadya menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran dengan mata yang terpejam, sambil meletakkan bingkai tadi di dadanya.


“Aku takut dia akan melakukan hal bo*doh seperti yang aku lakukan dulu. Aku sungguh takut, Jeanice. Apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkan putra kita? Bantulah aku.”


Setelah merasa jauh lebih tenang, Hadya kembali menyimpan foto itu.


“Apa kali ini Caitlyn harus pergi lebih jauh lagi? Atau sebaiknya dia kembali saja di rumah ini? Tidak, tidak, itu berbahaya. Sania dan Cecilia bisa saja berbuat nekat.”


Oh, Lean. Papa sungguh pusing tapi papa tidak bisa marah padamu, nak.


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2