Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 74. Halusinasi


__ADS_3

“Aku mencintaimu, Caitlyn,” bisik Lean dengan sangat pelan.


Masih dalam keadaan saling berpelukan, entah sadar atau tidak sadar, Lean mengucapkan kalimat itu meskipun dengan bisikan yang sama sekali hampir tidak terdengar. Namun, telinga Caitlyn terlalu peka untuk menangkap kata-kata itu.


Bumil itu langsung dengan gerakan cepat melepaskan pelukannya. Lean yang yang masih betah dengan posisi itu, masih betah mencium aroma rambut Caitlyn yang begitu harum, sampai terkejut dibuatnya.


“Kenapa?” tanya Lean dengan kening mengkerut.


“Kau mengatakan sesuatu?”


Bukannya menjawab, Caitlyn justru balik bertanya membuat Lean semakin bingung.


“Maksudnya? Mengatakan apa?” tanya Lean lagi.


“Mengatakan itu, aku ... aku mendengarnya.” Caitlyn jadi geregetan sendiri.


“Iya, yang kamu dengar apa memangnya?” Wajah Lean terlihat benar-benar bingung membuat Caitlyn ikutan bingung.


Sebenarnya aku berhalusinasi atau dia yang sedang bercanda? Arrrgghh ...!


“Kamu ... sedang tidak bercanda lagi, ‘kan, Al?” Caitlyn ingin memastikan.


“Bercanda? Tidak. Aku sadari tadi ngapain memangnya? Perasaan gak ngapa-ngapain aku, cuman meluk tubuh kamu doang, ‘kan?” ucap Lean dan Caitlyn pun mengangguk lemah, tidak bersemangat sekali. “Entah apa yang kamu dengar, yang pasti itu sangat menyebalkan. Padahal aku masih ingin terus meluk kamu, tapi kamu malah kacaukan semuanya dengan pertanyaan aneh,” lanjut Lean agak kesal.


Pria itu memasang wajah cemberutnya. Dia pun meminta Caitlyn agar bergeser sedikit, lalu dia merebahkan tubuhnya di samping Caitlyn yang masih duduk bersandar saat itu.

__ADS_1


“Maaf,” cicit Caitlyn dengan cengiran.


Tapi aku sungguh mendengarnya tadi ....


“Kau mengantuk?” tanya Caitlyn penuh perhatian.


Dia mendapati Lean yang kini telah memejamkan matanya. Posisi Lean saat itu tidur tengkurap dengan wajah yang menghadap ke arah Caitlyn.


“Hmm, sangat,” jawabnya dengan mata yang setia terpejam. “Padahal kalau pelukan terus mungkin aku gak bakal ngantuk,” canda Lean. Pria itu kemudian terkekeh karena mendapat cubitan kecil dari Caitlyn tepat di pipinya. “Jangan dicubit! Dicium, dong, biar akunya semangat lagi. Udah habis tenaga ngurusin orang-orang gak penting itu dari semalam,” tambahnya dengan wajah datar.


“Ih, kamu apaan, sih.” Caitlyn masih saja merasa malu dengan kata-kata dan tindakan Lean. “Ya, sudah tidur aja sana. Tidak perlu ngomel-ngomel, kayak bayik mau tidur rewel dulu,” gerutu Caitlyn.


Lean tertawa kecil mendengar gerutuan itu. “Sudah lama tidak ada yang mengurusku. Aku merindukan itu.” Dia lalu membuka mata dan bergerak memindahkan kepalanya ke atas pangkuan Caitlyn. Tidak lupa, dia pun meraih tangan Caitlyn dan membawanya di atas kepalanya sendiri. Caitlyn pun hanya terdiam dan patuh. “Lakukan hingga aku tertidur,” pintanya.


Lean kembali memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut Caitlyn yang mengusap dan membelai rambutnya. Namun, baru beberapa detik moment indah itu berlangsung, suara ketukan pada pintu membuat semuanya buyar.


Gubrakkk!


“Arrrgghhh ...!” erang Lean yang kini tergeletak di lantai.


“Al ...!” pekik Caitlyn amat terkejut. Sontak dia menutup mulutnya karena terlambat menolong.


Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan semua orang yang berdiri di depan sana menyaksikan seorang Presdir Sanjaya Grup, terbaring di lantai dengan gaya yang begitu cool.


Bagaimana tidak, dalam kesakitannya, Lean justru berbaring santai dengan kedua tangan diletakkan di bawah kepalanya, serta kaki yang menyilang.

__ADS_1


“Lean!” panggil Hadya sedikit keras karena terkejut melihat pemandangan tersebut.


“Oh, hai, Papa.” Dia balas menyapa dengan senyum padahal tulang punggungnya hampir retak.


“Kamu ngapain tidur di bawah?” tanya Hadya.


Pria paruh baya itu berjalan masuk dan mendekat ke arah putranya. Dia lalu mengulurkan tangan meminta Lean untuk segera bangkit. Ini memalukan. Mungkin saja dalam hati Hadya memikirkan demikian.


“Ya, cuman mau istirahat, Pa. Gak mungkin tidur di ranjang pasien, ‘kan?” Menerima uluran tangan ayahnya lalu segera bangkit.


Sejenak dia menoleh ke arah Caitlyn dan mengedipkan sebelah matanya. Hanya ingin mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Namun, Caitlyn tetap merasa bersalah dan khawatir. Bumil itu meringis melihat wajah tampan Lean yang sebenarnya kesakitan, tetapi pura-pura terlihat baik.


“Setelah ini kita pulang dan kamu bisa beristirahat total," ucap Hadya.


Detik berikutnya, dia pun memanggil beberapa orang yang masih berdiri di depan pintu. Di antaranya ada Rendi di sana. Pria itu masuk dengan wajah tertunduk tidak berani untuk menatap Caitlyn. Menyebut namanya saja tidak dibolehkan Lean, apalagi menatapnya? Bisa habis dia dijadikan makanan hiu oleh Lean.


Alasan lainnya, tentu saja dia merasa malu. Malu karena telah membohongi dan memanfaatkan wanita sebaik Caitlyn.


“Kemarilah! Putriku ingin melihatmu," panggil Hadya.


Pria itu berjalan kaku ke arah ranjang pasien tetapi sampai di sana, dia masih berdiri dengan jarak aman. Caitlyn menatap pria itu lama sekali hingga satu kalimat yang keluar dari mulutnya membuat semua orang tercengang.


“Tinggallah bersamaku, Kak!”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2