Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 23. Wedding Ring


__ADS_3

Jemari Lean bergetar saat mengambil isi dari dalam kotak kecil yang diberikan pelayanan tadi. Melihat benda bulat tak berujung itu membuat dada Lean terasa begitu sesak. Segumpal daging di balik sana seakan dire*mas. Sakit? Ya, itu yang Lean rasakan saat ini.


Tadinya dia masih menaruh sedikit harapan. Hanya sedikit saja dari sekian banyaknya cela yang tidak bisa dia terobos. Namun, melihat benda yang baru saja dikembalikan Caitlyn pagi itu, membuat harapan setipis tissue itu pada akhirnya hilang dan lenyap dalam seketika.


Lean berbalik dan kembali menuju kamarnya. Tujuan awal yang ingin ke kantor tidak jadi diteruskan. Lean butuh waktu beberapa saat untuk menenangkan diri. Ini terlalu berat, bahkan rasanya lebih berat dari hari kemarin.


“Sebegitu inginnya kau untuk melepaskan aku hingga tidak ingin menggunakan cincin ini lagi? Apa sehari saja dalam tiga tahun ini tidak ada yang berkesan untukmu sama sekali?” Lean bermonolog sepanjang menaiki tangga. “Oke, fine kita pisah. Tapi apa harus memulangkan cincin nikah segala? Segitu bencinya sampe gak mau ada jejak kenangan satu pun. Kejam sekali kau, wanita tidak berhati!”


Tiba di kamar, Lean langsung melangkah menuju ke walk in closet. Pria itu hendak menyimpan kembali cincin pernikahan itu ke dalam tempat-tempat khusus yang dipersiapkan untuk perhiasan yang berada pada sebuah etalase besar di tengah-tengah ruangan tersebut.


Namun, Lean kaget karena baru menyadari banyak hal pagi itu. Dalam etalase tersebut, semua perhiasan yang pernah disiapkan Lean ataupun dibeli sendiri oleh Caitlyn, dia tinggalkan semuanya di sana.


“Apa-apaan ini? Dia tidak kehilangan akal, ‘kan? Mana bisa dia meninggalkan benda-benda berharga yang menjadi incarannya selama ini? Tidak, tidak. Ini pasti ada yang salah.” Lean sama sekali tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat.


Dia segera menuju ke lemari pakaian milik Caitlyn. Semua benda masih utuh dan tidak berkurang satu pun di sana.


“Bisa-bisanya tiga tahun hidup bersama sebagai suami-istri tapi tidak ada perasaan apapun yang tumbuh. Benar-benar wanita iblis. Uang dan hanya uang saja yang dia pikirkan.”


Lean menatap satu per satu barang-barang di dalam lemari itu hingga matanya terhenti pada satu kotak cukup besar di sana. Tangannya bergerak cepat mengambil kotak itu dan membukanya. Lagi-lagi Lean dibuat terkejut dan tidak percaya melihat isi dari kotak tersebut. Satu set perhiasan berlian yang menjadi mahar pernikahan mereka tiga tahun lalu, lengkap dengan berbagai black card yang pernah Lean berikan padanya.


“Bahkan ini pun dia tinggalkan?” Lean tidak habis pikir dengan semua yang Caitlyn tinggalkan. Pria itu menutup pintu lemari lalu bersandar di sana dengan kepala yang menengadah dan mata yang terpejam.


Mari bercerai, Al.


Aku hanya ingin bercerai darimu, Aleandro Vernon Sanjaya!

__ADS_1


Aku tidak menginginkan uangmu sepeser pun!


Apa kau tidak juga mengerti jika aku begitu tidak sabar untuk lepas dari ikatan ini?


Kata-kata Caitlyn seolah kembali menggema di telinganya berulang kali, hingga membuat Lean begitu marah. Dia membuka mata dan kembali menatap pada benda-benda yang ditinggalkan Caitlyn.


“Pria kaya mana lagi yang sudah dia dapatkan selain diriku? Benar-benar wanita iblis!” maki Lean sembari hendak melemparkan cincin pernikahan yang masih berada di genggamannya.


Namun, tidak. Dia tidak sampai melakukan itu entah mengapa. Lean seolah tersadar dan menatap benda bulat tak berujung itu kembali. Matanya beralih menatap pada jari manisnya yang masih tersemat benda yang sama di sana. Lean lantas melepaskan dari jari manisnya dan menyimpan bersama-sama dengan yang dimiliki Caitlyn.


Lean keluar dari ruang ganti tersebut dan mencari ponselnya. Dia kemudian menghubungi asistennya dan meminta agar mengirimkan orang-orang untuk memantau setiap pergerakan Saskia. Dia harus menemui Caitlyn dan membawakannya pada Nenek Sanju. Dia sendiri merasa perlu bertemu dan berbicara dengan Caitlyn karena bagi Lean, urusannya dengan wanita itu belum selesai.


Namun, hingga dua minggu lebih telah berlalu, tidak ada tanda-tanda kecurigaan yang diperlihatkan Saskia sama sekali. Wanita itu keluar masuk apartemennya seperti biasa dan selalu sendiri. Tidak tampak wajah Caitlyn maupun orang lain yang bersamanya. Setiap hari laporan kosong yang Lean dapatkan.


Waktu dua minggu lebih ini telah banyak mengubah Lean. Waktu makan dan tidurnya menjadi berkurang dan tidak teratur mengakibatkan wajahnya tampak tirus dan tidak terurus. Penampilannya yang selalu rapi dan berwibawa, bahkan kini tidak dia pedulikan.


Siang itu Lean terlihat sangat lelah karena melakukan banyak sekali aktivitas dari pagi. Meeting bersama klien, meninjau lokasi pembangunan proyek baru milik Sanjaya Grup, dan kini dia harus menghadapi tumpukan laporan dan data-data perusahaan yang harus dia baca dan tanda tangani satu per satu.


“Tuan, Anda tidak ingin beristirahat dulu?” tanya Jerry. Pria itu tahu jika sejak pagi Lean belum sarapan, hingga kini sudah lewat jam makan siang.


Prihatin, itulah yang dirasakan Jerry. Dia sungguh prihatin melihat kondisi tuannya setelah kepergian Caitlyn. Wanita cantik itu bak menghilang ditelan bumi. Sedikit saja jejaknya, bahkan tidak dapat terdeteksi oleh kekuasaan seorang Aleandro. Ini sungguh aneh.


“Nanti saja, Jerry.” Lean menjawab tanpa melihat asistennya.


“Tapi ini sudah lewat waktu makan siang, Tuan. Anda bisa sakit.” Lean memberanikan diri memberi sedikit protes.

__ADS_1


Lean berhenti sejenak dan meletakkan pulpen di atas meja kerjanya. Dia menghembuskan nafas lelahnya dengan kasar.


“Kau mengkhawatirkan aku?” Lean menjeda lalu bersandar pada sandaran kursi. “Tapi dia tidak, Jerry,” lanjut Lean dengan suara pelan.


Jerry tahu siapa yang dimaksud oleh tuannya. “Tuan, apa Anda tidak merasa ada yang aneh?” tanya Jerry.


Lean menatap asistennya dengan wajah tidak mengerti. “Maksud kamu?” Sebelah alis Lean terangkat.


“Saya merasa jika ada yang sengaja menutup semua akses tentang nona muda. Maksudnya, jika hanya dia dibantu oleh temannya itu, kenapa sulit sekali bagi kita menemukan jejaknya, Tuan? Ya, keluarga temannya itu memang termasuk keluarga berpengaruh, tapi itu pun tidak cukup mampu untuk menandingi kekuasaan Sanjaya Grup, bukan? Lantas kenapa sulit untuk kita mengetahui jejaknya?” jelas Jerry panjang lebar.


Lama Lean menatapnya dalam diam hingga sesuatu terlintas di pikirannya.


Apakah Nathan di balik semua ini? Punya kekuasaan apa dia memangnya?


Entah mengapa, tetapi Lean sedikit ragu jika Nathan bisa melakukan itu.


Apakah ini kerjaan …. tidak, tidak mungkin!


Batin dan pikiran Lean tertuju pada satu nama, tetapi dia pun tidak yakin akan hal itu.


“Sh*it!


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2