
Masih dengan berat hati, tetapi Hadya sudah membulatkan niat untuk menjelaskan semuanya. Pria paruh baya itu bahkan sudah siap untuk segala kemungkinan-kemungkinan yang nantinya terjadi.
“Sania memanfaatkan dirinya untuk kepentingan dia dan Cecilia. Caitlyn hanya diperalat untuk bisa mencapai ambisinya terhadap harta keluarga kita,” beber Hadya dengan sangat berat hati.
Tentu saja hal tersebut mengagetkan bagi Lean. Pria tampan itu tidak percaya jika ibu tirinya setega itu. Lean tahu bahwa dia–Sania, bukanlah ibu tiri yang baik karena tidak pernah sedikit pun wanita itu menunjukkan kepedulian padanya. Hubungan di antara mereka selama bertahun-tahun, terkesan datar dan hambar tanpa adanya kesalahpahaman. Hal inilah yang membuat Lean sungguh tidak percaya jika ibu tirinya sekejam itu.
“Sungguh, Pa? Papa … bukan sedang mencari-cari kesalahan mama, ‘kan?” Lean masih ragu.
Hadya bangkit berdiri dan menghampiri putranya.
“Sejak kapan papa membohongimu, Lean? Keuntungan apa yang papa dapat jika memfitnah mama? Papa tidak mungkin berbuat serendah itu, Lean! Dia itu istri papa. Menghina dan menjelekkannya, sama saja dengan papa menghina diri papa sendiri. Untuk mengatakan kebenaran ini pun papa sudah berperang dengan hati papa, Lean. Papa sudah siap dengan segala resiko dan konsekuensinya. Karena itu papa minta, Percaya sama papa, dan setelah mengetahui ini, pergi dan cari di mana istrimu berada. Minta maaflah atas semua penghinaanmu padanya selama ini. Dia tidak bersalah sama sekali, dia dipaksa oleh kekejaman mamamu, Nak!” jelas Hadya sambari memegang pundak sang putra.
“Tapi … tapi kenapa mama melakukan semua itu, Pa? Lalu kenapa harus … harus Caitlyn? Dari sekian banyak wanita di muka bumi ini, kenapa harus Caitlyn yang dia gunakan untuk kepentingan dia, Pa?” Lean bertanya dengan kedua tangan mere*mas rambut di kepalanya.
“Itu adalah kesalahanmu yang berikutnya. Sebelum menikahinya kau tidak menyelidiki dan mancari tau siapa orang tuanya. Kau hanya tau bahwa dia sebatang kara lalu dia mencari pria kaya untuk dapat bertahan hidup. Begitu, ‘kan?” Hadya menggelangkan kepalanya kuat. “Tidak seperti itu, Lean,” ucapnya dengan nada rendah.
Hadya melangkah ke arah jendela kamar. Dia berdiri di sana dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan pandangannya lurus menembus kaca jendela.
__ADS_1
“Caitlyn adalah anak angkat dari adik laki-laki Sania. Pria itu menemukan Caitlyn kecil yang tesesat di jalanan, lalu mengangkatnya menjadi putrinya. Dia membesarkan Caitlyn dengan penuh kasih dan dengan segala kekurangannya. Terkadang jika tidak punya biaya untuk makan dan menyekolahkan Caitlyn, dia akan meminta belas kasih dan pertolongan dari kakaknya–Sania. Saat pria itu tiada, Sania lalu menyalahkan Caitlyn yang seolah menjadi beban bagi adiknya hingga tiada. Dari situlah dia memaksa dan menindas Caitlyn untuk membayar semua pengorbanan adiknya. Satu hal yang ayah sesali … hingga kini ayah tidak juga mampu menemukan orang tuanya,” tutur Hadya dengan sendu.
Pria itu lalu berbalik dan melihat putranya. Lean terdiam dan tergugu. Tidak ada kata yang dapat dia gunakan untuk membalas ataupun menyela penuturan sang ayah. Tidak ada lagi alasan yang dapat dia gunakan sebagai tameng untuk menutupi rasa sakit hati dan kecewanya terhadap Caitlyn. Justru yang dia rasakan hanyalah rasa bersalah yang mendalam.
Dari bibir ranjang yang dia duduki saat ini, di depannya terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya. Dari sana Lean melihat dirinya yang tidak berperasaan selama ini dalam memperlakukan Caitlyn. Dia melihat tatapannya yang selalu memandang remeh dan menghina Caitlyn. Sosok angkuhnya seolah tergambar dalam cermin di hadapannya.
Lean menunduk dan menutup mata. Namun, hal itu justru membawa banyangan Caitlyn dalam pikirannya. Lean kembali membuka mata dan menatap pada cermin sekali lagi. Pikirnya, banyangkan Caitlyn akan sirna, tetapi tidak. Wajah cantik itu justru semakin nyata terlihat di depan matanya.
Senyum manis yang selalu menggoda dan merayunya, tampak jelas menari di dalam cermin. Wajah agresif yang selalu bertingkah manja dan sedikit nakal, berlalu lalang di depan sana. Lean tersentak saat semua bayang itu menghilang dalam sekejap.
Apa semua itu hanya sandiwaranya saja?
Sementara pikiran Lean kini berlari pada beberapa waktu lalu di belakang sana. Di mana Caitlyn yang tidak lagi menggoda dan merayunya. Caitlyn yang tidak lagi bersikap manja dan nakal. Caitlyn yang tidak lagi agresif. Caitlyn yang menjadi dingin dan tak acuh padanya, hingga Caitlyn yang dengan lantang menyuarakan keingan berpisah darinya.
“Lean!”
“Hah?”
__ADS_1
Dia baru tersadar saat ucapan perceraian itu terngiang kembali, bersamaan dengan suara sang ayah yang memanggil disertai guncangan kecil di pundaknya.
“Kau kenapa, Nak? Kau dengan yang papa katakan tadi?” tanya Hadya memastikan.
Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, Lean langsung bangkit berdiri dan membuka lemari pakaian. Dia lalu meraih sebuah hoodie dan kembali pada Hadya.
“Mana kunci mobil Lean?” tanyanya dengan tangan yang menengadah.
Sejak pulang dari blue garden malam itu, Lean tidak melihat kunci mobilnya karena menderita mual dan muntah.
“Kau mau apa? Kamu mau kemana, Lean?” tanya Hadya bingun bercampur khawatir.
Bagaimana tidak, wajah datar dengan tatapan kosong yang tadi dia lihat, kini berganti emosi.
“Membuat perhitungan dengan istrimu!”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...