
Benci dan cinta itu beda tipis. Sangat sulit untuk membedakan antara kedua rasa ini. Hal inilah yang dirasakan Lean, tetapi hanya pada awal hubungan rumah tangga mereka. Benar, dia membenci Caitlyn pada masa itu. Namun, pada akhirnya perbedaan setipis tissue itu mengelabui hatinya hingga benci itu kini menjadi cinta. Akan tetapi, Lean sendiri masih bingung untuk mengenali perasaan yang sesungguhnya.
Awalnya dia sangat tidak sabar dan begitu ingin untuk segera mengakhiri hubungan palsu mereka. Namun, waktu mengubah keinginan itu menjadi rasa ingin memiliki selamanya. Bodohnya, dia tidak jua menyadari jika itu adalah cinta.
Lean mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
📲 “Halo, bro. Ah, aku tidak pandai berbasa-basi. Boleh aku minta bantuanmu lagi kali ini?”
📲 “Oh, boleh banget, Tuan. Apa yang harus saya lakukan?”
📲 “Masih sama seperti waktu itu.”
📲 “As you wish, Tuan.”
📲 “Thanks before!”
Panggilan singkat itu segera diakhiri. Lean mengangkat pandangannya dengan mata yang tertuju pada jam dinding. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 9.30 PM.
“Jerry!” panggil Lean.
Asisten setia itu dengan sigap membuka pintu kamar Lean dan mendekat secepat mungkin, begitu mendengar suara sang atasan memanggil. Sejak kemarin setelah mendapat perintah dari Hadya, Jerry tidak jua berpindah dari depan pintu kamar Lean. Tuannya itu tidak ingin bertemu siapapun dan Jerry jelas tidak bisa memaksa.
Alhasil, laporan-laporan serta berkas yang dibawakannya dari kantor kemarin atas perintah Hadya, belum juga ditandatangani oleh Lean. Pria itu benar-benar masa bodoh dengan segala hal dan tindakan itu hanya menempatkan Jerry pada posisi tersulit. Entah harus menurut pada perintah ayah atau anak.
“Iya, Tuan.” Mendekat dan sedikit menunduk memberi hormat pada atasannya.
“Apa yang dikatakan papa?” tanya Lean to the point.
__ADS_1
“Tuan besar meminta Anda untuk segera menandatangani semua barkas ini, Tuan” Jerry menjawab dengan tegas.
Lean menarik nafasnya lalu mengulurkan tangan dan meminta Jerry meletakkan berkas-berkas itu di atas meja yang berada dalam kamar tersebut. Lean yang tadinya tengah duduk di tempat tidur, kini berdiri dan melangkah ke arah sofa.
“Itu saja yang dia katakan?” tanyanya lagi. Tangan pria itu menengadah pada Jerry meminta dia untuk segera memberikan pulpen.
“Sebenarnya tuan besar sudah mengirimkan berkas-berkas ini sejak kemarin, Tuan. Tapi–”
“Aku tau,” potong Lean cepat. “Lalu apalagi?”
“Tuan mengancam jika berkas-berkas ini tidak ditandatangani secepatnya maka tuan akan mencoret nama Anda sebagai pewaris Sanjaya Grup dan akan diberikan kepada ….”
Jerry ragu untuk meneruskan perkataannya, sementara Lean kini mengalihkan fokus dari tumpukan kertas di depannya dan menatap asistennya dengan penasaran.
“Pada siapa?” tanya Lean dengan sebelah kening yang terangkat. “Pada anaknya yang satu itu?” tebak Lean asal.
Pria itu terkekeh sambil geleng-geleng mendengar ancaman ayahnya. Sungguh Lean tidak takut sedikit pun dengan ancaman sang ayah. Dia yakin jika Hadya tidak akan senekat itu.
Meskipun ragu, tetapi Jerry tetap harus mengatakannya sesuai perintah Hadya, bukan?
“Tapi tuan besar mengatakan jika beliau akan memberikan semuanya kepada Nona Caitlyn.” Butuh keberanian dengan satu tarikan nafas bagi Jerry untuk mengatakan itu.
Lean lantas meletakkan kembali pulpen di tangannya ke atas meja. Dia menatap Jerry tak percaya.
“Apa?” tanya Lean dengan suara pelan serta mata yang menyipit. “Kasih ke siapa?”
“Kepada Nona Caitlyn, Tuan.” Sekali lagi Jerry menjawab.
__ADS_1
Seketika Lean tergelak. “Serius papa bilang begitu? What the hell? Memangnya siapa dia hingga terlalu pantas untuk mendapatkan warisan keluarga Sanjaya?” Lean masih terus tertawa. “Kau pun tahu, ‘kan, bahkan Cecilia dan si breng*sek itu saja tidak pernah terhitung sedikit pun? Apalagi wanita itu?” Lean tidak habis pikir dengan ayahnya.
Dia kembali meraih pulpen dan melanjutkan pekerjaannya. “Bilang pada paman untuk sebaiknya membawa tuannya itu periksakan ke ahli saraf. Aku rasa otak papa sedikit bermasalah.”
Apa papa amnesia jika kami sudah bercerai? Kenapa masih begitu peduli padanya sampai bela-belain menyembunyikan tentang dia?
Berbicara tentang perceraian, Lean tiba-tiba teringat dengan proses perceraian mereka sudah sampai mana. Dia kemudian menyuruh Jerry untuk menghubungi pengacaranya dan menanyakan tentang hal tersebut.
“Ini sudah lebih dari sebulan, tapi kenapa belum ada kabar tentang perkembangan prosesnya sama sekali? Apa begitu sulit?” Sungguh mengherankan.
Jerry menatap tuannya setelah gagal menghubungi Pak Arga–sang pengacara. Lean balas menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Namun, Jerry menggeleng pelan sebagai respon.
“Nomornya tidak bisa dihubungi, Tuan.”
“Apa-apaan lagi ini? Oh, sh*it!”
Benar dia merindukan Caitlyn, tetapi dia tidak ingin perceraian itu sampai gagal karena hanya akan mempertaruhkan harga dirinya. Berulang kali Caitlyn menantangnya untuk bercerai dan meskipun dengan berat, dia telah mengabulkannya. Jika sampai gagal, Lean tidak ingin Caitlyn berpikiran macam-macam tentangnya yang seolah sengaja menunda-nunda atau bahkan mengemis cinta padanya. Mengemis dia untuk tetap tinggal. Tidak, tidak! Lean tidak sudi Caitlyn menjadi besar kepala dengan semua keterlambatan proses perceraian itu.
Lean ingin supaya bisa menunjukkan pada Caitlyn jika dia terlalu bahagia tanpa wanita itu. Dia ingin melihat Caitlyn yang menderita tanpa status sebagai Nyonya Sanjaya. Di kepala Lean hanya ingin membalas semua yang telah Caitlyn lakukan padanya baik dulu maupun sekarang. Benar-benar dia tidak menyadari perasaannya.
Dalam kekesalannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Lean segera melihat dan dia mendapati sebuah notifikasi pesan di sana. Entah ekspresi aneh seperti apa yang tercetak di wajahnya saat itu. Dia lalu menghubungi salah satu kontak yang tersimpan di ponselnya.
📲 “Lakukan sekarang juga!”
Hanya satu kalimat singkat itu, Lean pun langsung mematikan ponselnya.
“Dan kau Jerry, cari pengacara si*alan itu sampai ketemu. Oh, ya, jangan lupa kembalikan berkas-berkas ini ke kantor! Lalu sampaikan pada ayah jika aku akan kembali jika sudah menemukan Caitlyn.”
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...