Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 72. Want To Meet


__ADS_3

Caitlyn menatap dua orang pria berbeda generasi di hadapannya saling bergantian menunggu jawaban. Namun, hingga beberapa menit berlalu, tak satu pun dari mereka mampu menjawabnya.


“Papa sama Al kenapa? Kok diem? Ada yang disembunyikan dari Caitlyn, yah?” tanyanya to the point.


Melihat gerak-gerik dua pria itu, Caitlyn merasakan memang ada yang disembunyikan. Lean menatap Hadya dan memberi isyarat agar ayahnya berkata jujur saja, daripada Caitlyn terus berharap buta pada lelaki itu.


“Hm ... begini, Sayang. Papa ... papa tidak mau menutupi atau menyembunyikan apa pun dari kamu. Karena itu papa minta tolong sama kamu. Setelah mendengar yang papa katakan ini, berjanjilah untuk tidak akan melakukan hal-hal aneh yang hanya akan membahayakan kehamilan kamu. Mau janji sama papa?” Hadya mengulurkan tangannya lalu menengadahkan pada Caitlyn.


Caitlyn terdiam beberapa detik memikirkan apa sebenarnya yang ingin dikatakan sang papa hingga dia harus berjanji terlebih dahulu.


“Memangnya Caitlyn tidak boleh menolak dan harus tetap berjanji?” tanyanya.


Hadya mengangguk. “Tentu saja. Ini bukan pilihan untukmu, Sayang,” jawabnya.


Bumil itu masih tampak ragu. Dia lalu menatap Lean seolah meminta pendapat. Lean pun mengerti dan mengangguk beberapa kali memintanya untuk mengikuti apa yang dikatakan sang papa.


Meskipun masih tampak ragu, Caitlyn mengulurkan tangannya lalu menaruh di atas telapak tenang Hadya yang masih setia terbuka menunggunya.


“Apa sekarang papa sudah bisa katakan sesuatu? Caitlyn penasaran dan susah tidak sabar, Pa.” Dia mendesak.


Hadya tersenyum lalu menggenggam sebelah tangan menantunya itu dengan lembut. Sebelahnya lagi dia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung tangan Caitlyn.


“Baiklah, kita mulai. Tapi ... mulai dari mana, yah?” kelakar Hadya mencairkan suasana yang agak tegang.


Keempat orang dalam ruangan itu pun tertawa dengan tingkah konyol pria paruh baya itu. Setelah tawa mereka mereda, Hadya pun menarik napasnya dalam-dalam lalu mulai memasang wajah serius.

__ADS_1


“Pasien itu sudah sembuh total.” Jawaban itu serta-merta membuat Caitlyn tersenyum tampak bahagia sekali.


Hadya maupun Lean yang melihat itu sudah lebih dulu terluka. Tidak tega rasanya Hadya meneruskan kalimatnya, tetapi dia tetap harus mengatakan. Pikir Hadya, terluka sekarang jauh lebih baik daripada terluka nanti dengan harapan yang semakin besar.


“Papa juga baru tahu sejak kamu hendak pergi dan lari dari kehidupan kami. Orang-orang papa menyelidiki semuanya. Sejak hari itu, semua biaya pengobatan dan pembayaran tenaga medis papa yang menanganinya,” Lanjut Hadya dan Caitlyn masih dengan senyum.


“Makasih, Pa.” Ucapannya terasa begitu ringan dan tampak sangat bersyukur.


“Tapi ....” Hadya sangat berat meneruskan kalimatnya.


Caitlyn mengerutkan keningnya. “Tapi apa, Pa?”


“Sayang, maafkan papa. Tapi pria itu ... pria itu pembohong. Dia hanya mempermainkan kamu, Nak. Yang sebenarnya dia tidak tahu apa pun tentang orang tua kamu,” ucap Hadya dengan berat hati.


“Are you ok?” bisik Lean dan tidak mendapat jawaban.


Pria itu segera bangkit dari duduknya dan langsung menarik Caitlyn ke dalam dekapannya. Untuk sesaat bumil itu terlihat tenang dan tidak ada respon. Namun, Lean, Hadya, dan juga Saskia memahami betul jika Caitlyn sedang terguncang.


Detik berikutnya terdengar isakan dari balik dada Lean. Caitlyn menangis. Jangankan dia, Saskia yang menderanya pun ikutan merasa sesak. Bagaimana bisa orang sebaik sahabatnya itu selalu disakiti.


“Kenapa dia membohongi aku? Apa salahku? Dia ... dia gak tau sebesar apa aku mengharapkan dan selalu mendoakan kesembuhan dia?” Caitlyn menangis dan meracau dalam dekapan Lean.


“Menangislah sampai kau merasa tenang.” Lean berkata dengan lembut sambil mengusap kepala Caitlyn.


Bumil itu melepaskan pelukan Lean dan menatap kedua pria di hadapannya.

__ADS_1


“Jawab aku! Kenapa dia membohongi aku? Punya dendam apa dia sama aku? Kenapa orang-orang paling senang membuat aku tersiksa? Kenapa hidupku selalu dipermainkan? Kenapa tidak ada kebahagiaan dalam hidupku? Kenapa?” cecar Caitlyn pada tiga orang yang berdiri di hadapannya.


Melihat air mata di wajah cantik itu membuat Lean dan Hadya, maupun Saskia tidak tahan rasanya. Lagi-lagi Lean memeluk dan menenangkannya.


“Kamu gak salah apa-apa. Mereka saja yang tidak tahu diri dan serakah. Laki-laki bo*doh itu juga diperalat Sania. Dia juga korban seperti kamu. Laki-laki itu adalah anak kandung dari ayah angkat kamu,” terang Lean dengan pelan.


Kembali Caitlyn melepaskan diri dari dekapan Lean. Dia menatap wajah tampan di hadapannya dengan kening mengkerut.


“Anak angkat ayah? Tahu dari mana?” tanya Caitlyn sambil sesenggukan.


Tangan Lean terangkat menghapus air mata di wajah cantik Caitlyn.


“Dia sendiri yang mengakuinya. Dia itu penjudi, pemabuk, lalu diusir ayah angkatmu dari rumah. Waktu bertemu denganmu dan mengaku jika dia tahu keberadaan orang tuamu, itu dia baru saja dihajar habis-habisan oleh para preman yang ditugaskan untuk menagih hutang. Dia kemudian disuruh Sania untuk menemuimu dan berbohong untuk mendapat pertolongan.” Lean bercerita sambil menepikan anak-anak rambut Caitlyn yang berserakan menutupi wajah cantiknya.


Caitlyn menahan tangan Lean yang masih sibuk beraktivitas di sekitar wajahnya. Lean berhenti dan menatap mata indahnya.


“Di mana dia sekarang? Aku ingin menemuinya?”


Pertanyaan itu membuat Lean tersentak. Begitu juga dengan Hadya.


“Why?” tanya Lean bingung.


“Bawa dia ke sini, Al. Aku mau bertemu dengannya.”


Sungguh di luar ekspektasi .... batin Lean.

__ADS_1


__ADS_2