
Seluruh keluarga Sanjaya kini berdiri di depan pintu rumah utama kediaman super mewah tersebut. Hadya, Nenek Sanju, Caitlyn, dan beberapa para pelayan lainnya sedang mengantarkan Lean yang akan pindah rumah untuk sementara waktu.
Lean sendiri sangat tidak bersemangat melakukan semua ini. Baginya, ini siksaan paling kejam. Di saat dia baru menyadari cintanya dan baru ingin menikmati masa indah itu bersama sang istri, sang ayah malah tega memberinya hukuman seperti ini.
Meskipun tidak menginginkan ini, tetapi Lean dengan sangat terpaksa melakukannya. Jika dengan ini dapat membuat orang-orang yang dia sayangi terutama Caitlyn bahagia dan bisa untuk percaya lagi padanya, Lean akan tetap melakukan meski dendam berat.
“Hati-hati, Lean. Nenek akan merindukanmu,” ucap Nenek Sanju sambil memeluk Lean sejenak.
“Ck, Lean cuman sebentar gak sampai setengah tahun juga, Nenek.” Pria tampan itu menggerutu.
Kini dia berdiri di depan istrinya dan menatap wajah cantik itu penuh memohon. Caitlyn hanya tersenyum melihat tingkah laku sang suami yang tidak bersemangat sama sekali.
“Semangat, dong. Kita masih bisa video call-an kapan pun. Iya, ‘kan, Pa?” tanya Caitlyn pada ayah mertuanya tetapi tatapannya tetap tertuju pada sang suami.
“Iya, itu benar. Tapi ingat, tidak boleh ketemuan kecuali akhir bulan. Jadi selama berpisah, kalian hanya boleh bertemu dia kali dengan rentan waktu sebulan sekali.” Hadya mengiyakan pertanyaan menantunya sekaligus memperjelas lagi persyaratannya.
“Berat, Sayang. Tetap saja gak sama dengan liat langsung kayak gini.” Lean langsung merapatkan tubuhnya dan memeluk Caitlyn dengan erat.
Caitlyn tertawa kecil kegelian karena pria tampan itu melabuhkan wajahnya di ceruk leher Caitlyn. Dengan nakal dan tidak tahu tempatnya, Lean bahkan menempelkan bibirnya dan memberikan kecupan-kecupan di sekitar leher Caitlyn.
“Lean, lihat tempatnya. Ini bukan di kamar,” tegur Nenek Sanju, sedangkan Hadya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu.
__ADS_1
“Kalo gitu aku bawa ke kamar sebentar saja, yah, Nek. Ya, Pa. Boleh?” Bukannya sadar dan bersiap untuk pergi, Lean malah semakin menjadi.
Hadya berdecak. “Jangan cari-cari kesempatan dan banyak alasan. Sana cepat pergi.”
Wajah tampannya yang tadi memohon, kini berganti cemberut. Dia lalu dengan terpaksa melepaskan tubuh istrinya.
“Sayang ...,” panggil Lean dengan nada merengek.
“Apa? Sana jalan.” Caitlyn menjawab dibarengi kekehan kecil dia gema
“Kamu gak takut aku keluyuran ke blue garden karena stress gak bisa ketemu kamu?” tanya Lean yang sontak membuat Caitlyn terbelalak.
Baru hendak melayangkan protes, Hadya sudah lebih selangkah di depan menantunya itu.
Seketika Lean ketar-ketir. “Tidak, Pa. Cuman bercanda. Jangan lakukan itu. Ini saja sudah menyiksa, Pa. Ini aja rasanya gak sanggup.” Dia tahu bahwa ayahnya tidak pernah main-main.
“Makanya, belajar jadi laki-laki yang baik dan bijaksana, Sayang,” timpal Nenek Sanju. “Jika sudah selesai dengan masa hukumanmu, nenek akan kasih tau satu rahasia untuk kamu,” lanjut sang nenek.
“Baiklah, aku pergi.”
Lean segera berbalik dan melangkah menuju mobil. Saat sudah sampai di depan pintu mobil, Lean berhenti dan menatap istrinya sekali lagi. Belum apa-apa dia sudah rindu setengah mati.
__ADS_1
Tidak dapat menahan, dia kembali berjalan cepat ke arah Caitlyn dan langsung memberikan ciuman begitu dalam pada bibir sang istri. Tidak peduli dengan keberadaan siapapun di sana, Lean tetap melakukan apapun yang dia mau.
“Hadya, lihat anakmu. Astaga, apa dia sudah tidak tahu malu?” keluh Nenek Sanju.
Pria paruh baya itu justru tersenyum bangga. “Dia, ‘kan, memang putraku, Ibu.”
Nenek Sanju justru ikut tersenyum mendengar ucapan putranya. Wanita tua itu merasa Dejavu melihat Hadya dan Jeanice dalam versi Lean dan Caitlyn. Dulunya Hadya seperti itu, selalu menujukkan keromantisannya dendam istri pertamanya tanpa melihat situasi dan kondisi.
Sayangnya, kehadiran Sania merusak keharmonisan itu. Semuanya menjadi hancur dan nenek Sanju berharap hal itu tidak akan terjadi lagi pada hubungan Lean dan Caitlyn.
“Ehem.” Hadya pura-pura batuk dan itu sukses menghentikan aksi tidak tahu malu putranya. “Papa rasa sudah cukup,” ucap Hadya tegas.
Lean pura-pura tidak mendengar dan tetap bersikap biasa saja. Berbeda dengan Caitlyn yang malu setengah mati ditunjukkan dengan rona merah di kedua pipinya.
“Aku pergi, yah. Jaga diri baik-baik dan jaga anakku juga. Kalau sudah sampai aku langsung telepon. Bye," ucap Lean.
Lagi-lagi dia mengecup singkat bibir Caitlyn sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana tanpa berpamitan lagi dengan sang Syah dan Nenek Sanju.
“Anak itu ....” Hadya hanya bisa geleng-geleng.
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...