
Hari yang dinantikan Lean pun tiba. Sejak pagi dia sudah bangun dan bersiap-siap ke kediaman utama. Semalam juga dia sudah menghubungi ayahnya dan mendapat izin agar bisa ke sana. Ya, meskipun dengan sederet peraturan.
Namun, apa peduli Lean? Dia tidak mengindahkan hal-hal yang lain. Baginya hanya bisa bertemu dengan wanita cantik yang tengah mengandung itu saja sudah cukup. Akan tetapi, karena semangatnya dia lupa menggunakan masker. Alhasil ketika Jerry tiba di tempatnya, Lean menjadi mual dan muntah lagi.
“Jerry, kep*arat! Kau sengaja ingin mengerjaiku?” maki Lean pada asistennya.
Jerry langsung bergerak mundur dengan jarak aman. Dia sangat bingung kenapa Lean begitu sensitif di deketnya tetapi tidak dengan yang lain?” Apalagi jika berdekatan dengan Hadya dan Caitlyn, pria itu akan merasa nyaman sekali.
Jangan-jangan anak tuan lahir nanti, dia bakal tidak suka sama aku, yah ...? Ck, terserahlah, asalkan ayahnya tidak mengurangi gajiku saja ....
Jerry berpindah dari tempatnya lalu menyediakan keperluan Lean dan juga sarapannya. Tidak lupa, obat yang harus diminum oleh atasannya itu. Sesudah itu dia bergegas keluar dari kamar Lean, menunggunya di bawah saja.
Saat ini Lean tinggal di apartemennya. Hadya menyarankan agar dia tinggal di kediaman lain milik keluarganya, tetapi Lean tidak mau. Dia lebih memilih tempat tinggalnya di luxury landing. Rumah mewah yang pernah dia gunakan untuk menyekap sahabat istrinya itu, terlalu besar untuk ditinggali satu orang saja. Ya, meskipun ada para pelayan.
Selesai dengan drama muntah pagi itu bukannya mandi dan bersiap, Lean justru kembali naik ke tempat tidur dan bermalas-malasan di sana. Dua jam Jerry menunggu, tidak tampak rupa sang atasan.
“Apa tuan sudah selesai bersiap? Lama sekali.” Dia melihat jam di pergelangannya. “Sudah jam 10 pagi. Apa masih muntah lagi?”
Tidak ingin berspekulasi, Jerry lantas kembali menaiki tangga menuju ke kamar Lean. Pria itu lalu mengetuk pintu.
“Masuk!”
Jerry membuka sedikit membuka pintu dan menengok ke dalam. Dia kaget mendapati Lean yang justru kembali tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Apa Anda sakit?” tanya Jerry yang masih tetap di depan pintu.
“Tidak. Hanya saja aku sedikit lemas dan itu gara-gara kau. Cepat hubungi istriku,” titah Lean.
“Baik, Tuan!”
Jerry segera menghubungi Caitlyn dan memberikan ponsel pada atasannya. Namun, sebelum itu dia sudah memastikan jika itu itu telah menggunakan masker terlebih dahulu.
📲 “Al? Kamu kenapa masih tidur jam segini? Gak jadi datang memangnya?”
📲 “Jadi, sayang. Tapi aku lemas habis muntah lagi.”
Melirik Jerry dengan tatapan kesal. Dalam hati dia mengutuki asistennya itu karena sudah mengacaukan harinya.
Lean mengangguk lemah. Melihat itu, Caitlyn memaksanya untuk segera bangun dan sarapan, setelah itu minum obat dan bersiap ke kediaman utama.
📲 “Semangat, dong. ‘Kan, mau ketemu istri sama anak. Cepatlah ke sini. Aku merindukanmu.”
Ya, dewa! Ucapan itu membuat Lean rasanya ingin terbang menerjang semua dinding yang menghalangi, menembus jalanan sepanjang apapun untuk segera tiba di rumah dan mencum*bu wanitanya itu.
Lean langsung mematikan teleponnya dan bergegas ke kamar mandi. Sarapannya belum juga habis tetapi Lean tidak lagi peduli. Suara Jerry yang memanggil-manggil mengingatkan untuk minum obat, pun tidak dia hiraukan.
Tidak tidak sampai satu jam, Lean telah bersiap. Sesudah itu baru dia meminum obatnya.
__ADS_1
“Keadaan sia*lan ini kapan berakhirnya, Jerry? Kenapa tidak kau saja yang merasakan mual dan muntah?” Lean menggerutu setelah selesai menelan obatnya.
“Kan, Anda suami Nona, Tuan. Jadi sudah pasti Anda yang merasakannya.” Jerry ingin sekali tertawa tetapi dia tidak berani melakukan itu.
“Diam! Jaga pikiranmu. Awas saja kau memikirkan yang tidak-tidak tentang istriku! Cepatlah kau menikah sana biar kau rasakan juga yang sama sepertiku," seru Lean sambil melangkah keluar kamar.
Jerry menyusul di belakang sambil garuk-garuk kepala. Dia merasa terciduk sedang memikirkan istri atasannya itu. Mana pikirannya aneh-aneh lagi.
Tuan bisa menerawang pikiran ternyata. Maafkan saya, tuan dan nona!
Keduanya lalu berkendara menuju kediaman utama Sanjaya dengan Jerry yang mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Lean sangat merasa senang dan tidak sabar untuk segera bertemu Caitlyn.
Waktu kini menunjukkan pukul 11.40 AM. Berkendara selama 20 menit, mereka pun akhirnya tiba di rumah utama. Begitu mobil terparkir dengan sempurna, Lean langsung keluar tanpa menunggu Jerry membukakan pintu.
Pria itu bahkan tidak bisa dengan hanya berjalan. Dia berlari capat memasuki rumah dan mencari istrinya. Jerry sampai dibuat bingung dengan tingkah tuannya itu.
“Tadi katanya lemas. Sekarang malah bersemangat.” Asisten setia itu hanya bisa geleng-geleng.
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1