Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 43. Drunk


__ADS_3

Raja siang mulai datang dan menduduki singgasana semesta, memerankan tugasnya untuk menerangi bumi.


Di sebuah kamar hotel, seorang wanita terbangun dalam keadaan setengah bu*gil. Seluruh pakaiannya berserakan di lantai, hanya tertinggal bra dan kain segitiga tipis yang masih membalut tubuhnya yang tertutup selimut tebal.


“Di mana ini?”


Wanita itu tidak lain adalah Tamara. Ia berusaha bangkit sambil memegang kepalanya yang terasa berat. Wanita itu mengedarkan pandangannya dan memperhatikan sekeliling. Dia menyadari jika kini dirinya berada di sebuah kamar hotel.


“Ah, kenapa aku bisa lupa?” Mengusap wajahnya sambil sedikit menggeleng.


Tiba-tiba Tamara mengingat satu hal dan dengan cepat dia menoleh ke sisi tempat tidur di sampingnya. Kosong.


“Di mana Lean?”


Tamara ingat betul bahwa semalam dia bersama dengan Lean. Harusnya ada Lean saat ini bersamanya. Tidak ingin dengan hanya menduga-duga saja, Tamara bergegas turun dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Awalnya dia berpikir jika Lean ada di dalam sana, hingga dia tidak ingin mengganggu dan hanya menempelkan telinga pada daun pintu. Namun, sunyi tidak terdengar apa pun dari dalam sana. Penasaran, Tamara membuka pintunya dan ternyata tidak terkunci.


“Lean!” panggil Tamara sambil melangkah masuk dan mencari di dalam sana, tetapi tidak ada sosok Lean di mana pun.


Tamara bergegas keluar dan mencari ponselnya untuk menghubungi Lean. Namun, gerakannya terhenti saat membaca sebuah pesan yang masuk dan itu dari nomor pria yang dicarinya itu.


💌 :


Maaf aku harus pergi tanpa menunggumu. Kita ketemu lagi nanti.


Senyum Tamara terbit setelah membaca pesan singkat dari Lean. Wanita itu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan bernafas lega.


“Akhirnya aku bisa memilikimu, baby.” Tamara berucap sembari mengecup layar ponselnya.


“Goodbye, wanita iblis. Semoga setelah ini kau benar-benar menghilang dari kehidupan Lean dan keluarga Sanjaya. Jika semesta tidak mampu menghilangkanmu, maka aku yang akan melakukannya.”


Tamara menatap kembali pada ponsel yang masih berada dalam genggamannya. Dia pun berpikir untuk membalas pesan dari Lean.


💌 :


Kita harus bertemu hari ini juga.

__ADS_1


Pesan singkat itu terkirim dan tampak centang dua di sana, tetapi belum terbaca. Beberapa saat Tamara bersabar menunggu, tetapi belum juga mendapat balasan.


“Jika kamu sibuk, biar aku saja yang mendatangimu, baby.” Terus saja bermonolog.


...***...


Pada waktu yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Lean juga baru terbangun dengan keadaan yang sama pening. Rasa-rasanya dia tidak mampu untuk membuka mata dan mengangkat kepalanya.


“Akh,” erangnya. Di mencoba membuka mata secara perlahan dan melihat sekitar. “Kenapa aku ada di sini?” Mengenali tempat di mana dia berada saat itu.


Begitu tahu jika dia berada di rumah keluarganya, Lean langsung menutup matanya kembali dan hendak melanjutkan tidur. Kepala yang terasa berat membuatnya belum cukup mampu untuk bangkit.


Namun, baru beberapa detik menutup mata, Lean kembali terbangun dan tiba-tiba saja bangkit lalu berlari cepat menuju kamar mandi sambil kedua tangan menutup mulutnya. Akan tetapi, belum sempat masuk ke dalam, Lean sudah berhenti di depan pintu dan mengeluarkan sesuatu yang tertahan di mulutnya.


“Sh*it!” umpat Lean yang merasa jijik dengan muntahnya sendiri.


“Lean?”


Setelah merasa jauh lebih baik, Lean berbalik dan mendapati ayahnya di sana. Tidak ingin memperdulikan sang ayah, Lean melangkah masuk ke walk in closet lalu mengganti pakaiannya. Dia pun kembali ke ranjang besar di dalam kamar dan merebahkan tubuhnya lagi.


Tidak lama kemudian, terlihat dua orang pelayan mengetuk pintu lalu masuk. Lean hanya melirik itu dan dia tahu sang ayah yang memangg mereka.


Kedua pelayan itu mengangguk dan langsung melaksanakan tugas masing-masing. Sementara itu, Hadya sendiri mendekat dan menghampiri putranya.


“Kau terlalu banyak minum, Lean.” Tidak ada respon. “Papa sangat kecewa dengan sikap kamu yang menghadapi masalah memilih lari ke tempat seperti itu. Bahaya, Nak.” Hadya melanjutkan ucapannya tetapi Lean tidak peduli sama sekali.


Pria tampan itu mengubah posisi tidurnya menjadi memunggungi sang ayah. Tak hanya itu, dia bahkan mengambil bantal lalu menutup telinga serta wajahnya. Hadya menarik nafas dalam dan memaklumi sikap sang putra kesayangannya. Dia tahu bahwa Lean masih marah pasca pertengkaran mereka semalam.


“Baiklah, jika kau masih marah sama papa. Papa akan pergi, tapi papa minta untuk jangan pernah kembali ke tempat terkutuk seperti itu lagi, Lean!”


Entah sang putra mendengarnya atau tidak, Hadya tetap saja ingin mengatakannya. Dia baru berbalik dan melangkah beberapa kaki saja, Lean sudah terbangun lagi dan kembali berlari cepat menuju kamar mandi.


“Lean!” panggil Hadya tidak jadi pergi.


Ingin sekali dia menyusul ke kamar mandi memastikan keadaan putranya itu, tetapi Hadya tidak mau membuat Lean semakin marah padanya. Dia pun memilih menunggu di tempatnya sampai Lean kembali.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Hadya yang langsung mendekat.

__ADS_1


“Kenapa masih ada di sini? Sana urusi saja putrimu yang membanggakan itu, jangan pedulikan hidupku!” ucap Lean dengan ketus.


Hadya harus mengelus dada mendengar penolakan sang putra. Tidak lama setelah itu, pelayan datang dan membawakan teh jahe sesuai pesanan Hadya. Melihat minuman itu, mengingatkan Lean akan sosok Caitlyn.


“Minum ini agar rasa mualmu berkurang dan mabukmu segera hilang.”


“Minum saja, bukan aku yang membuatnya. Aku meminta tolong pelayan yang buatkan.”


Lean memang sering mengkonsumsi alkohol, tetapi tidak sampai mabuk parah seperti semalam. Pria itu hanya sekedar mencicipi jika ditawari oleh klien ataukah sedang penat dengan banyaknya pekerjaan. Itu pun tidak selalu dia lakukan di setiap waktu. Setiap pulang ke rumah dalam keadaan berbau alkohol, Caitlyn langsung meminta pelayan membuatkan teh jahe untuk suaminya.


Lean memejamkan mata kuat-kuat, mengusir bayang Caitlyn dari kepalanya.


“Minumlah. Papa akan pergi,” ucap Hadya, tetapi masih juga berdiri di sana.


“Bawa ini keluar. Aku tidak membutuhkannya.” Lean berbicara dengan pelayan.


“Loh, kenapa? Ini baik untuk mualmu, Nak!” protes Hadya.


Tidak peduli dengan proses sang ayah, Lean meminta sekali lagi pada pelayan untuk membawa kembali minuman itu ke dapur. Tidak ingin lebih pusing mengahadapi sikap sang putra, Hadya pun melangkah pergi.


Namun, sekali lagi langkah Hadya harus tertahan dan berbalik melihat keadaan putranya yang lagi-lagi berlari ke kamar mandi.


“Ada apa dengannya? Cuman mabuk kok sampai muntah berkali-kali?”


Hadya langsung melangkah cepat menahan tubuh Lean yang baru saja keluar kamar mandi dan hampir ambruk.


“Lean. Jangan keras kepala lagi, papa mohon, Nak!” Hadya cemas melihat wajah putranya yang tampak pucat dan lemas. “Papa panggilkan dokter, yah.”


“Gak usah. Lean cuman pusing dan mau tidur aja,” jawabnya dengan lamah. Dia pun menepis tangan sang ayah dan tertatih menuju ranjang.


“Kalau begitu ayah akan tetap di sini dan menjagamu. Tidurlah, Nak.”


Hadya memilih duduk pada sofa besar yang terdapat dalam kamar tersebut, sambil matanya tidak pernah lepas memandangi wajah tampan pria muda yang meng-copy sebagian besar wajah serta karakternya. Hadya khawatir jika banyak minum dan membuat Lean sakit. Dia pun langsung menghubungi dokter Andra untuk memeriksa sang putra.


Beberapa menit menunggu, terdengar dengkuran halus yang memberitahukan Hadya jika purta kesayangannya itu sudah terlelap.


“Malah tidur. Sebenarnya dia kenapa?”

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2