Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 119. She‘s Our Caca


__ADS_3

Lean menggandeng tangan istrinya dan berjalan beriringan menuju stage. Dari jauh pria itu dapat melihat dengan jelas wajah bingung bercampur gelisah yang tercetak pada wajah Tuan Vargas.


Calon ayah muda itu tentu memahami benar apa yang tengah menganggu pikiran pria setengah baya di sana.


Di samping itu, matanya berpindah ke arah sosok wanita yang tengah memerankan peran pengganti sebagai duplikat istrinya. Di atas sana, Cecilia tengah tersenyum dan menangis pada waktu bersamaan dengan begitu dramatis.


“Sh*it! Benar-benar drama queen,” gumam Caitlyn sedikit kesal. Rupanya dia pun sedang memperhatikan hal yang sama dengan sang suami.


Lean tersenyum mendengar umpatan yang lolos dari bibir ranum istrinya.


“Sejak kapan bibir indah dan sek*si itu dipakai mengatakan hal-hal kotor, Sayang?” bisik Lean saat hampir mencapai undakan pada stage.


Caitlyn menoleh sejenak menatap suaminya sebelum menaiki undakan di depannya.


“Mungkin saja sejak malam ini, dan akan berhenti seiring drama manis ini berakhir, Sayang.” Bumil cantik itu berucap dengan sangat pelan dilengkapi senyuman tak biasa yang belum pernah Lean lihat sebelumnya.


Pria itu tercekat. Pikirannya mendadak blank saking tidak mampu untuk memahami perubahan drastis istrinya. Padahal, Lean sebelumnya membayangkan jika istrinya itu akan shock dan dirinya sendiri akan sedikit kerepotan. Oleh karena itu sebelum memasuki ballroom, dia sudah mewanti-wanti pada Caitlyn sebelumnya.


Namun, kenyataan berbanding terbalik. Wanita cantik itu mendadak tegar dengan kepala tegak terangkat. Sungguh di luar dugaan Lean. Namun, apapun itu, kenyataannya dia senang dengan apa yang ditunjukkan oleh Caitlyn dan inilah yang dia inginkan.


Aku rasa malam ini akan jauh lebih menyenangkan stelah ini.


Lean membatin seraya menyeret langkahnya mengikut gerak langkah Caitlyn yang mulai menaiki tangga stage.


Satu-satunya anggota keluarga Vargas yang mengetahui keberadaan Caitlyn dan Lean di atas sana adalah Tuan Vargas. Melihat pasangan suami-istri itu mendekat, kegelisahan pemimpin Vagz International itu semakin menjadi.


Lean baru akan tersenyum kala posisi mereka tiba di depan keluarga yang tengah diliputi haru biru itu. Namun, suara Caitlyn dan respon satu keluarga itu membuat Lean bukannya tersenyum, justru terseret dalam keterkejutan.


“Halo, Tuan Vargas. Kita bertemu lagi di sini.” Caitlyn tersenyum simpul. “Tepatnya aku ingin mengucapkan selamat atas kembalinya putri Anda yang hilang.” Kali ini Caitlyn mengulurkan tangannya terlebih dahulu. “Semoga keluarga Anda tetap utuh dan bahagia selalu, Tuan Vargas,” imbuh bumil cantik itu.

__ADS_1


Beberapa detik tangan halus nun lembut itu terjulur cantik di depannya, tetapi siapa sangka jika Tuan Vargas justru dengan gerakan gemetar dan terkesan bimbang menyambut itu.


Caitlyn berpura-pura kaget kala tangan yang bergetar hebat itu menyentuh telapak tangannya.


“Anda baik-baik saja, Tuan Vargas? Sepertinya Anda dalam keadaan kurang sehat.” Caitlyn sedikit memiringkan kepalanya dengan mata memicing.


“Oh, ti-tidak. Saya baik-baik saja, Nyonya Sanjaya.” Ucapannya sedikit bergetar dan terasa kacau. Jika tadi saat awal berkenalan dia menggenggam tangan Caitlyn sedikit lama, kali ini justru dia cepat-cepat melepaskannya dan langsung berlalu dari sana tanpa sepatah kata lagi.


Caitlyn melongo dengan hati yang mencelos melihat langkah Tuan Vargas yang menjauh. Gejolak hatinya seolah memerintah untuk mengikuti sosok yang dia rindukan seumur hidup itu, tetapi tangan Lean sigap menahannya. Caitlyn tersadar dan menoleh ke arah suaminya dan mendapat gelengan dari pria itu.


“Al, aku ingin–”


“Hai, selamat malam, Nona Muda. Anda di sini?”


Sebuah suara yang tiba-tiba datang dan menginterupsi ucapan serta perhatian Caitlyn dan juga Lean.


“Oh, hai, Dokter Vargas.” Secepat kilat Caitlyn berusaha menguasai hatinya. Dirinya yang hampir saja menangis, mati-matian harus menahan air mata. “Jadi ini keluarga Anda, Dokter?” Sengaja bertanya.


Siapa sangka kelurga yang dia cari dan dia perjuangkan selama setahun lebih, justru yang membantunya selama ini. Satu kata yang mewakilkan seluruh rasa dalam benak Caitlyn saat ini yaitu ‘menyesal’.


Right. Dia menyesal karena tidak pernah menyadari semua itu, bahkan ikatan darah di antara mereka pun tidak mampu memberi sedikit saja rasa familiar itu pada Caitlyn.


“Benar, Nona.” Pria berwajah blasteran itu mengangguk dengan senyuman. Dia lalu menatap pria tampan yang setia berdiri di samping bumil cantik itu. “Selamat malam, Tuan Muda. Terima kasih sudah menyempatkan waktu datang ke mari.” Dokter Vargas sedikit membungkuk.


Lean tersenyum dan sedikit mengangguk. “Sama-sama, Dokter.”


Pria tampan berprofesi sebagai dokter itu lalu menoleh ke arah samping tidak jauh dari tempatnya berpijak. Di sana sang mommy dan adik perempuan yang baru saja kembali, terlihat tengah berbincang dengan beberapa kolega yang ikut larut dalam suasana haru, hingga tidak menyadari kehadiran pasangan Lean dan Caitlyn.


“Em, sebentar, Tuan dan Nona.” Dia berpamitan dan sedikit bergeser dari sana.

__ADS_1


Pria itu rupanya menghampiri wanita setengah baya yang tampak cantik, yang sudah pasti adalah ibunya. Entah apa yang dia bisikan di telinga wanita itu hingga detik berikutnya, wanita itu menoleh dengan tatapan berbinar pada Caitlyn.


Tiba-tiba wanita itu melangkah menghampiri Caitlyn. Namun, tinggal selangkah lagi dia malah berhenti dan menatap wajah cantik Caitlyn dengan kening mengerut. Detik berikutnya wajah cantik itu kembali berubah dengan ekspresi terkejut yang luar biasa tergambar di sana.


Selanjutnya yang terjadi adalah Nyonya Vargas menggeleng berulang kali sambil terus menatap Caitlyn. Manik matanya bahkan telah tergenang. Dia menoleh ke belakang melihat Cecilia di sana, setelah itu menoleh lagi pada Caitlyn. Gerakan itu terus dia ulangi hingga beberapa kali seolah mencari jawaban atas rasa terkejutnya saat ini.


“Caitlyn?” ucap Nyonya Vargas antara menyapa ataukah bertanya.


“Mommy, ini istrinya Tuan Sanj–”


“No, she‘s our Caca!” Nada itu terdengar rendah, tetapi tegas.


Dokter Vargas mengangkat keningnya membentuk kerutan-kerutan halus di dahinya. Pria tampan itu bingung dengan sikap sang ibu.


“Excuse me, Mrs Vargas. Did you call me? Anda sudah tahu nama saya?” tanya Caitlyn memastikan. Namun, tak kunjung ada jawaban. Wanita di hadapannya sungguh terpaku dan tergugu mendengar suara lembut Caitlyn.


Suasana bingung dan kaku itu berganti tegang, kala Cecilia tiba-tiba muncul di tengah mereka. Mendengar Nyonya Vargas menyebut nama Caitlyn, dia pikir jika wanita itu memanggilnya.


“Mom, kau memanggilku?” tanyanya begitu dirinya berada tepat di belakang Nyonya Vargas.


Tidak ada sahutan dari wanita yang dipanggilnya mommy. Sejurus kemudian saat berdiri tepat di samping Nyonya Vargas, tubuh Cecilia menegang kala melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.


“Ka-kau?” Cecilia tergagap.


Tidak hanya dia, tetapi Caitlyn pun menujukkan gestur yang sama. Merasakan itu, Lean cepat menggenggam dan mere*mas lembut tangan istrinya sekedar menenangkan.


Wajah cantik Caitlyn tiba-tiba saja memerah dan menghujam Cecilia dengan tatapan tajam menghunus. Namun, sekali lagi dia berusaha tenang.


“Oh, hai, Nona Cecilia.” Caitlyn berpura-pura kaget dan langsung menutup mulutnya. “Ah, maaf. Maksud saya Nona Caitlyn. Kenapa nama kita sama, yah? Apa mungkin kita kembaran?” gurau Caitlyn membuat Cecilia mati kutu.

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2