Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 105. Memilih Percaya


__ADS_3

Hadya dan Lean kini bersiap hendak menemui Sania. Namun, kepergian mereka secara bersamaan hari itu, menimbulkan kecurigaan bagi Caitlyn. Tidak seperti biasanya ayah dan anak itu pergi bareng pagi-pagi begini.


Masing-masing mereka mempunyai kesibukan yang berbeda dan bepergian pun kadang tak sejalan. Jika mereka bertemu di luar atau terkadang pulang berbarengan, itu karena mereka tidak sengaja bertemu atau memang sedang janjian di luar.


Namun, tidak kali ini. Mereka tampak kompak dan pergi bersama. Tidak itu saja, mereka pergi menggunakan satu mobil yang dikendarai oleh Aidam–asisten Hadya. Sementara itu Jerry tidak ke mana-mana dan malah ditugaskan untuk di rumah saja.


Oh, tidak bisa. Ini membuat Caitlyn begitu gelisah. Apalagi ayah dan anak itu telah mengarahkan puluhan penjaga sejak pagi buta. Ini mencurigakan. Caitlyn bergegas ke kamar sang nenek.


“Apa Caitlyn mengganggu, Nenek?” tanya wanita itu setelah mengetuk pintu kamar sang nenek dan dipersilahkan masuk.


“Sama sekali tidak, Sayang. Kemarilah,” panggil sang nenek. “Ada apa, hm?” tanya wanita lanjut usia itu setelah Caitlyn mendekat dan duduk di sampingnya.


“Caitlyn hanya ingin bertanya sama Nenek,” ucap bumil cantik itu.


“Tentang apa itu? Tanyakanlah, jika nenek bisa menjawab, nenek akan menjawab. Ayo, tanyakan!” desak Nenek Sanju.


Sejenak Caitlyn menatap ragu pada bola mata sant nenek yang terlihat siap menjawab pertanyaannya.


“Nenek tau gak, itu ... papa sama Al mau ke mana?” tanya Caitlyn ragu-ragu.


Nenek Sanju menaikan sebelah alisnya. “Ada apa denganmu, Sayang? Mertua dan suamimu pergi ke kantor. Apalagi memangnya, hm?”


Caitlyn membuang napasnya kasar. “Nek, sikap papa sama Al itu dari kemarin aneh banget. Sepertinya ada masalah tapi mereka menyembunyikan dari Caitlyn. Kenapa apa-apa yang terjadi, Caitlyn gak boleh tau, Nek?” Caitlyn sedikit emosi.


Nenek Sanju bergerak mendekat dan merangkul pundak cucu mantunya itu dengan sayang.


“Dengarkan nenek, Sayang. Apapun yang dilakukan papamu dan suamimu, itu semata-mata hanya untuk kebaikan dan keselamatan kamu. Anggap saja nenek juga tidak tahu, tapi nenek memilih percaya sama mereka,” jelas Nenek Sanju.

__ADS_1


Caitlyn menatap neneknya dalam diam semalam beberapa detik. “Jadi maksudnya Nenek tahu, ‘kan, apa yang terjadi tapi nenek tidak mau ambil pusing karena nenek percaya dengan mereka?” tanya Caitlyn lagi.


Sang nenek mengangguk. “Benar sayang. Satu hal penting yang membuat mereka tidak ingin sampai kamu tahu, karena mereka tidak mau semua itu membebani pikiranmu. Kamu sedang hamil, Caitlyn. Kesehatan mental dan pikiranmu harus selalu terjaga. Jadi jangan pikirkan apapun, dan percayakan saja semuanya pada mereka. Kamu mengerti?” Nenek Sanju berkata dengan tegas.


Itu bukan tugasmu. Ada aku dan papa yang akan memikirkan segalanya. Tugas kamu hanya banyak istirahat dan jaga anak kita dengan baik.


Caitlyn mengingat perkataan suaminya semalam saat hendak menemui Papa Hadya.


Segitunya dia dan keluarganya sayang sama aku? Ok. Aku gak akan pernah cari tahu lagi.


Caitlyn sempat menitikkan air mata karena terharu dangan semua hal yang dilakukan suaminya dan seluruh keluarga Sanjaya kepadanya.


“Eh ... kok, nangis? Kenapa, Sayang? Nenek salah bicara?” tanya Nenek Sanju sambil menghapus air mata Caitlyn.


Wanita cantik itu menggeleng, kemudian tersenyum manis pada sang nenek.


“Tidak, Nek. Caitlyn tidak mau bertanya apapun lagi. Mulai sekarang, Caitlyn akan mempercayai Lean dan juga papa. Terima kasih sudah menyadarkan Caitlyn, Nek.” Dia langsung memeluk tubuh renta sang nenek.


Sementara itu pada waktu yang bersamaan, Lean dan Hadya tiba di rumah baru milik Sania. Rumah berukuran minimalis itu tampak sepi dan sangat terlihat jelas jika tidak ada aktivitas di sana. Benar-benar sesuai dengan yang laporkan oleh anak buah Hadya.


Aidam pun memarkirkan mobil agak jauh dari rumah Sania sesuai perintah Hadya. Mereka lalu berjalan capat dan akhirnya tiba di tempat Sania tepat pukul 9 pagi waktu setempat. Kali ini Hadya dan Lean benar-benar mempersiapkan segala sesuatu dengan matang.


Pintu rumah Sania dapat terbuka dengan mudah, hingga ayah serta anak itu bisa masuk dan duduk tanpa perlu persetujuan dari Sania. Sementara di luar sana juga terlihat sepi, tetapi anak buah Hadya telah siap di setiap sudut.


Hampir tiga puluh menit ayah dan anak itu menunggu dengan sabar dan santai saja. Lean bahkan sengaja memutar telivisi agar sedikit dapat membunuh waktu. Tidak lama setelah itu, Sania pun tiba di rumahnya.


Betapa kaget wanita itu ketika dia masuk dan mendapati sosok Hadya serta Lean tengah duduk manis di dalam sana.

__ADS_1


“Oh, hai! Mimpi apa aku kedatangan tamu spesial pagi ini?” ucap Sania berlagak excited, meskipun sebenarnya dia sendiri sendang was-was dengan kehadiran mendadak ayah dan anak itu.


Hadya berdecak. “Begini caramu menyambut tamu?" Pria paruh baya itu tersenyum remeh.


Sania tertawa pelan lalu memilih duduk berseberangan dengan dua pria tampan, tetapi berbeda generasi.


“Katakan padaku, di negara mana diberikan aturan untuk menyambut penyusup di setiap rumah?” seloroh Sania membuat Lean tertawa keras.


“Memang tidak ada dalam aturan manapun, Nyonya Wiguna. Tetapi dalam dunia bisnis, jangankan penyusup, pencuri pun diberi tempat, kedudukan, bahkan pujian. Bukan hanya sambutan semata,” balas Lean membuat Sania bungkam dalam senyuman.


Bukan senyuman kekalahan, tetapi senyuman penuh siasat. Ingatlah bahwa dia Sania yang mempunyai 1001 cara untuk melawan musuh-musuhnya, meskipun dia kerap terjatuh.


“Baiklah, baiklah. Selamat pagi, selamat datang, Tuan-tuan penyusup!” ucapnya dengan nada ramah yang sangat dramatis. “Jadi, urusan bisnis apa yang membawa kalian hingga kemari?” lanjut Sania dengan pertanyaan yang dia anggap sebagai intinya.


“Pelan-pelan saja, Nyonya Wiguna. Pertama Anda harus memilih terlebih dahulu. Ingin mendengar tawaran bisnis dari papaku lebih dulu, atau dari aku saja?” Lean memberi pilihan.


“Oho, apa tidak bisa dua-duanya sekalian saja?” Sania mulai was-was. Dia tidak tahu apa tujuan mereka, tetapi dia tahu mereka punya rencana.


“Pilih sekarang ... atau tidak sama sekali. Nyonya Wiguna. Karena sesungguhnya ini menguntungkan bagi Anda.” Lean berkata tegas.


Sania mulai serius dan memperbaiki duduknya dengan benar. Dia menatap ayah dan anak itu secara bergantian.


“Kau saja lebih dulu karena aku yakin jika tawaran ayahmu pasti tentang hubungan kami. Bukan begitu, Suamiku?” tanya Sania pada Hadya membuat pria itu merasa jijik.


Dalam hati Hadya dia tidak ingin dan tidak tahan untuk melihat wajah iblis Sanai lagi, tetapi drama ini harus diakhiri sekarang juga. Inilah waktunya pikir Hadya.


“Ok, aku tidak suka berbasa-basi karena itu langsung saja.” Lean pun mengeluarkan selembar cek kosong dan disodorkan pada Sania. “Tulislah berapa pun yang kau inginkan, dan katakan dengan jujur mengenai informasi keberadaan orang tua kandung istriku.”

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2