
Pagi itu Nathan tiba di perusahaan dan mendapat sambutan dengan baik. Hari itu juga dilakukan pergantian direktur baru dan disaksikan oleh dewan komisaris yang didasarkan oleh rapat umum pemegang saham. Setelah rapat umum bersama dewan komisaris selesai, Nathan kemudian memperkenalkan diri pada semua karyawan sebagai direktur baru, menggantikan Pak Dika Gunawan.
Pak Dika adalah salah satu orang kepercayaan Hadya yang mengurus perusahaan cabang di kota tersebut. Beliau sendiri awalnya menjabat sebagai manajer pemasaran sembari sekaligus menduduki jabatan sementara sebagai dirut. Kini setelah kehadiran Nathan, beliau kembali lagi ke posisi semula.
“Mari, Tuan Sanjaya. Sekertaris saya akan menujukkan ruangan Anda,” ucap Pak Dika.
“Ah, terima kasih, Pak Dika. Tapi Bapak tidak perlu memanggil saya dengan sebutan itu. Panggil Nathan saja, Pak.” Nathan meralat panggilan pria paruh baya itu.
Sejujurnya, hingga kini dia begitu tidak nyaman menggunakan nama Sanjaya.
“Ah, kalau begitu saya panggil saja Nak Nathan.” Pria paruh baya itu tentu saja merasa sungkan. Meskipun tahu Nathan hanyalah anak tiri di keluarga Sanjaya, tetap saja dia adalah anak dari Hadya.
Nathan tersenyum dan mengangguk. “Lebih bagus seperti itu, Pak.”
Mereka lalu meneruskan langkah menuju ruangan yang akan ditempati Nathan. Sesudah itu, tidak lupa Pak Dika menjelaskan serta menunjukkan beberapa hal penting terkait perusahaan dan pengembangannya pada Nathan.
“Dan satu lagi, Nak Nathan. Ini sekretaris saya. Jika Nak Nathan ingin memakai jasanya atau pun mengganti dengan sekretaris yang baru, tidak masalah. Senyaman Nak Nathan saja,” tawar pria paruh baya itu di akhir penjelasannya.
“Ah, karena belum sempat mencari, boleh dia bersama saya dulu, Pak?” tanya Nathan sedikit sungkan.
“Tentu saja, Nak. Semoga dia dapat membantu dan dapat diandalkan,” ucap Pak Dika.
Mereka lalu melanjutkan pembahasan seputar pekerjaan.
...***...
Di ibu kota, tepatnya di gedung utama Sanjaya Grup, Lean merasa tidak bersemangat sekali. Selesai memimpin rapat siang itu, dia lantas merebahkan tubuhnya dengan malas di sofa yang terdapat dalam ruang kerjanya.
Kali ini, dia sudah bisa berdekatan dengan asistennya–Jerry, berkat masker yang tidak pernah lepas dari mulut dan hidungnya. Meskipun begitu, Jerry masih selalu menjaga jarak dengan atasannya itu karena tidak ingin membuatnya mabuk dengan bau tubuhnya.
__ADS_1
“Anda ingin makan apa, Tuan? Biar saya pesankan,” tanya Jerry.
Ini sudah jam makan siang dan dia juga harus selalu mengingatkan jam makan atasannya sesuai yang diperintahkan Hadya. Jika tidak demikian, hari Lean akan kacau-balau dengan drama mual dan muntah-muntah.
“Saya sedang tidak ingin apa pun, Jerry. Tolong ambilkan saja ponselku dan hubungi istriku,” pinta Lean begitu malas.
“Baik, Tuan.”
Jerry langsung bergerak melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Dengan cepat dia menyerahkan ponsel pada Lean begitu nada sambung pertama terdengar. Lean baru saja menerima benda pipih tersebut, telepon sudah terhubung.
📲 “Halo, Al.”
Suara lembut itu serta-merta membuat Lean tersenyum. Tidak puas dengan hanya mendengar suara, Lean lantas mengalihkannya ke panggilan video.
Dia baru merasa puas dan tenang setelah melihat raut cantik Caitlyn.
📲 “Halo, sayang. Sedang apa?”
📲 “Baca apa?”
📲 “Baca buku, dong, Al. Buku seputar kehamilan.”
Caitlyn terlihat bergerak menutup buku di tangannya. Dia sudah tahu bahwa teleponan seperti ini, Lean tidak ingin perhatiannya terbagi.
📲 “Baiklah, aku sudah menutup bukunya. Kamu sudah makan?”
Lean menggeleng membuat Caitlyn mengembuskan napasnya dendam kasar dan berat.
📲 “Kenapa lagi? Tidak berselera atau apa?”
__ADS_1
📲 “Gak mau apa-apa, cuman mau kamu.”
Caitlyn tersenyum kecil melihat Lean yang memasang wajah manja. Dia begitu gemas melihatnya. Tiada hari tanpa ungkapan rindu dari Lean.
📲 “Aku juga merindukanmu, Al. Nah, sudah liat aku, ‘kan? Sekarang juga makan. Kalo gak–”
📲 “Iya, ini baru mau pesan makan, sayang.”
Lean pun meminta Jerry memesan beberapa menu makan yang sesuai dengan seleranya siang itu. Sementara dia lanjut mengobrol dengan sang istri.
Selama seminggu ini, kebiasaan baru Lean adalah melakukan panggilan telepon dengan Caitlyn. Mulai dari bangun pagi sampai ke kantor, sampai mau tidur pun dia harus mendengar dan melihat wajah cantik Caitlyn. Tidak ada batas waktu untuk itu.
Setiap detik Lean merindukan Caitlyn. Jika bukan karena pekerjaan, dia akan melakukan panggilan telepon sepanjang hari tanpa spasi. Setiap malam Lean bahkan melakukan sleep call dengan wanita cantik yang tengah mangandung itu.
📲 “Oh, ya, sayang. Tadi aku dapat telepon dari Rendi. Katanya besok dia mau ke rumah. Tapi gimana? Masa aku gak ada di sana?”
Lean berbicara sambil menikmati makan siangnya yang sudah dipesan oleh Jerry.
📲 “Astaga, aku hampir lupa. Al. Gimana kalo ditunda sampai masa hukuman kamu selesai?”
📲 “Jangan ditunda lah, sayang! Biar saja dia ke rumah. Aku nanti bicarakan sama papa biar bisa ke rumah sebentar saja.”
Ini namanya kesempatan dalam kesempitan ....
Lean dapat bernafas lega karena ada cela untuk menemui istrinya besok.
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1