Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 12. Meet Nathan


__ADS_3

Caitlyn terdiam bahkan tertegun mendengar ucapan Lean di ujung telepon. Entah mengapa lutut Caitlyn mendadak lemas seolah tidak sanggup untuk berpijak di atas kakinya sendiri. Mulutnya ingin terbuka dan menjawab perkataan Lean, tetapi dia tidak bisa melakukan itu.


Wanita itu masih setia terdiam, bahkan sambungan telepon telah diakhiri pun dia tidak menyadarinya. Caitlyn baru ingin memberitahukan soal Nenek Sanju, tetapi yang dia lihat di layar ponsel, panggilan telah berakhir.


Caitlyn segera berlari ke kamar dan menutup pintu. Dia langsung menyandarkan tubuhnya pada pintu itu dan menangis dalam diam dengan mata yang terpejam. Baru saja pulang ke rumah, tetapi drama-drama sejak dulu belum juga berakhir. Nenek Sanju yang tiba-tiba sakit, Sania yang masih saja merendahkannya, dan perceraian kini sudah di depan mata.


Wanita itu bingung dengan dirinya sendiri. Bukankah jawaban ini yang dia tunggu-tunggu dari Lean? Lalu kenapa dia harus menghadapinya dengan air mata? Caitlyn berperang dengan akal sehat dan juga batinnya.


Perlahan dia membuka mata dan menatap sekelilingnya. Kamar itu masih tetap sama seperti terakhir kali dia tinggalkan seminggu lalu. Ah, dia merindukan tempat ini, tetapi dia juga akan segera meninggalkannya. Caitlyn semakin menangis, tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.


Tangannya terangkat untuk menghapus air mata, kemudian dia melangkah cepat menuju ranjang besar yang tampak kosong dan rapi. Dia kemudian menjatuhkan tas yang sementara dia pegang di atas ranjang tersebut dan langsung membongkar semua isi tasnya. Matanya tertuju pada dompet yang kini tergelak dan berserakan di atas ranjang.


Caitlyn mulai membukanya dan mengeluarkan semua kartu-kartu yang pernah diberikan Lean padanya. Selanjutnya Caitlyn melangkah menuju walk in closet dan meletakkan kartu-kartu itu bersamaan dengan berbagai jenis perhiasan mahal yang dibelikan Lean untuknya. Semuanya dia masukan ke dalam satu kotak dan dia simpan di lemari pakaian miliknya.


Barang-barang branded yang dia beli menggunakan uang Lean selama ini, tidak ingin diambilnya sedikit pun. Caitlyn merasa tidak pantas untuk menggunakannya setelah ini, bahkan masih menjadi istri Lean sekali pun, rasanya sama tak pantas karena mereka menikah hanya sebuah drama jebakan yang dibuat Caitlyn.


“Mari bersiap menghadapi ini, Ly. Ini bukan akhir kehidupan, tetapi justru akan menjadi awal yang baru bagimu.” Menyemangati diri sendiri, itulah yang sedang dilakukan oleh Caitlyn.


Secepat kilat dia berganti pakaian dan juga menyiapkan berkas-berkas penting yang akan dia butuhkan di pengadilan agama nanti. Saat akan melangkah keluar, sekali lagi Caitlyn menyapu ruangan kamar itu dengan pandangan kerinduan. Menyematkan setiap sudut ruangan itu dalam hati dan ingatannya agar selalu bisa dia kenang.


Dia sudah bertekad bahwa ini adalah moment kali terakhir dia memijakkan kaki di rumah itu. Tidak perlu menunggu sampai ketuk palu. Bukankah Nenek Sanju dan Hadya juga sudah tahu? Mengesampingkan nurani terhadap nenek yang sedang sakit, Caitlyn memantapkan langkah keluar dari rumah. Dia bahkan tidak menggunakan mobil yang ada di garasi. Oleh sebab itu dia telah memesan taksi yang menunggu di depan gerbang.


“Maaf, Nona, kenapa tidak menggunakan mobil? Perlu saya panggilkan supir, Nona?” tanya seorang penjaga begitu melihat Caitlyn di dekat gerbang.


Wanita itu tersenyum dan menggeleng. “Terima kasih, Pak. Tapi tidak perlu. Aku mau naik taksi saja hari ini,” jawab Caitlyn.


Selanjutnya dia meminta penjaga itu membukakan gerbang dan ternyata taksi yang dipesannya pun tiba. Caitlyn berpamitan pada para penjaga di sana dan dia pun masuk ke dalam taksi dan segera berlalu dari sana.


“Ke mana, Neng?” tanya sang sopir.


“Ke … sebentar, yah, Pak.” Caitlyn tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena dering ponsel yang mengganggu.


📲 “Napa, Ki?”

__ADS_1


📲 “Bisa balik ke tempat gue gak? Seseorang nungguin lu di sini.”


📲 “Siapa emang? Nanti aja kalo aku udah balik dari pengadilan agama. Lean nunggu gue di sana.”


📲 “Oh, udah balik dia? Okay, kalo gitu selesaikan dulu masalah lu. Semoga berjalan lancar, beb.”


📲 “Tinkyu, Ki. See you.”


Sambungan telepon berakhir dengan pikiran Caitlyn yang kini bertanya-tanya tentang siapa di apartemen Saskia.


“Jadi ini kita ke pengadilan agama, yah, Neng?” tanya sopir taksi sekali lagi.


“Ah, Bapak nguping yah?” Caitlyn bertanya sambil terkekeh. “Iya, Pak. Ke pengadilan agama,” jawabnya.


Pak supir ikut terkekeh. “Maaf, Neng. Bapak gak sengaja.”


“Gak papah, Pak.”


Sampai di sana, Caitlyn memasang kacamata hitam sebelum keluar dari mobil, menutupi mata sembabnya. Dia berjalan sedikit menunduk dan ketika hampir memasuki gedung, keduanya saling berpapasan.


“Oh, maaf, Pak Arga.” Lean berbicara pada pria yang adalah pengacaranya. Dia kemudian berbalik pada Caitlyn. “Berikan saja berkas-berkasmu nanti pengacaraku yang akan mengurusnya. Kau membawanya, ‘kan?” tanya Lean.


Caitlyn mengangguk dan langsung menyerahkan berkas-berkas yang sudah dia siapkan dari rumah dengan tangan sedikit bergetar.


“Ok, kau tinggal tunggu panggilan saja.” Entah benar atau tidak, tetapi Caitlyn menangkap raut wajah Lean yang seolah menghindarinya. “Pulanglah lebih dulu.”


Lean mengira jika Caitlyn masih akan pulang ke rumah sampai putusan dari pengadilan. Oleh karena itu, setelah berucap dia pun hendak melangkah masuk ke dalam gedung tetapi suara Caitlyn menahannya.


“Lean! Nenek–”


“Nanti saja di rumah, yah. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya karena ada meeting 3 jam lagi.”


Lean pun berlalu dari sana tanpa bisa dicegah oleh Caitlyn. Mau tak mau, dia pun berbalik dan pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke apartemen Saskia.

__ADS_1


Tiga puluh menit menempuh perjalanan, Caitlyn pun tiba di tempat tujuan. Betapa kagetnya dia begitu melihat siapa orang yang dimaksud Saskia saat di telepon tadi.


“Nathan!” pekik Caitlyn dengan girang.


Secepat kilat dia hendak melangkah menghampiri pria itu tetapi tiba-tiba saja kepalanya pusing dan berat, kemudian pandangannya menjadi menggelap.


“Lily!”


Saskia tiba-tiba memekik keras memanggil nama Caitlyn begitu tubuh wanita itu hampir limbung. Namun, Nathan reflek berdiri dan bergerak cepat menangkap tubuh Caitlyn.


“Dia kenapa, Nath?” Saskia bertanya dengan wajah panik.


“Pingsan, Ki,” jawab Nathan sambil membawa Caitlyn menuju sofa dan membaringkannya di sana.


“Duh, gimana ini, Nath? Gue … gue harus lakuin apa?” Saskia begitu heboh dan panik.


Nathan tersenyum menenangkannya. “Tenang dulu, Ki. Lu lupa kalo ada gue?”


Saskia menepuk jidatnya sendiri. “Ah, bodoh banget sih gue. Kok bisa-bisanya gua lupa kalo ada Dokter Nathan di sini.” Gadis bertubuh semok itu menyengir lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Nathan terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Saskia. Dia lalu membuka tas dan mengambil stetoskop yang selalu setia berada dalam tasnya.


Pria dengan profesi sebagai dokter itu meminta izin dari Saskia untuk memeriksakan sahabatnya. Dia pun menempelkan alat tersebut ke bagian dada, lalu berpindah ke bagian perut.


Wajah pria tampan itu mulai berubah dari yang tadinya tenang, mulai berganti serius dengan kening yang sedikit mengerut. Pemeriksaan itu bahkan dia lakukan sekali lagi demi menguatkan diagnosis sementara yang dia yakini.


“Nath, Lily gak kenapa-kenapa, ‘kan?” Saskia mendadak khawatir.


Nathan melepas stetoskop dan menyimpan kembali. “Dia baik, kok. Gak ada hal yang serius. Hanya saja ….”


“Hanya saja apa, Nath? Lu jangan bikin gue mati khawatir,” desak Saskia.


“Dia ….”

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2