
Uang memang bukanlah segalanya, tetapi uang mampu membeli segalanya, bahkan mengubah apapun sesuai keinginan manusia. Sama halnya dengan yang dilakukan Lean saat ini.
Melihat laporan keuangan yang masuk melalui sebuah notifikasi, senyum laki-laki tampan itu tercetak sempurna.
“Ini baru istriku,” ucapnya dengan perasaan senang dan puas.
Pasalnya, Caitlyn telah lama mengembalikan semua kartu yang pernah dia berikan pada wanita itu dulu, saat mereka masih menjalani rumah tangga dengan penuh drama yang menyakitkan. Sejak mereka kembali hidup bersama dengan bahagia dan penuh cinta, Caitlyn justru tidak pernah lagi menggunakan semua itu.
Kebiasaan wanita itu yang dulunya suka berburu barang branded dan menghambur-hamburkan uang Lean, kini berubah 180°. Jangankan berburu barang branded, sekedar jalan-jalan dan memesan hal-hal konyol lewat aplikasi jual beli online saja sudah tidak lagi.
Apa mungkin karena efek kehamilan membuat semua hal-hal yang disukainya menjadi berubah? Ataukah karena pasca berpisah beberapa waktu membuat kebiasaan itu terasa canggung dan berbeda? Atau ... yang dia lakukan dulu hanyalah kebohongan semata karena pada dasarnya dia bukanlah wanita materialistis seperti yang selalu Lean serukan?
Entahlah, meskipun sudah pernah mendapat jawaban ini dari ayahnya. Lean masih butuh jawaban langsung dari istrinya. Namun, apapun itu baik dulu maupun sekarang tidak pernah Lean perhitungkan atau sekedar membatasi. Hanya satu hal yang kini berbeda adalah kepedulian Lean. Jika dulu dia tampak tak acuh, sekarang dia sangat teramat peduli.
Pria yang baru saja selesai membicarakan pekerjaan bersama asistennya itu, tersenyum dan beranjak dari tempat pijakan mereka saat ini yaitu di teras bagian samping yang sering digunakan untuk tempat mendisiplinkan para pelayan.
Untuk ruang kerja Lean sendiri, tergabung langsung dengan kamarnya. Sangat tidak mungkin untuk mengajak siapapun masuk ke kamarnya, bukan? Tidak hanya itu, alasan lainnya adalah pria tampan itu menyukai hal-hal yang bersifat privasi.
Sejak masih sendiri dulu sebelum menikah dengan Caitlyn, pria itu suka menyendiri dan tidak ingin banyak diganggu. Tidak heran jika dia tidak memiliki banyak teman seperti lelaki pada umumnya. Temannya hanya satu dan terkahir mereka bertemu saat teman lelakinya itu berkerjasama dengan Sania untuk mengajaknya ke garden blue dan menjadi titik awal pertemuannya dengan Caitlyn.
Sejak hari itu, Lean memutuskan untuk tidak lagi berteman dengan siapapun. Pria itu tidak suka dengan pengkhianatan. Jangankan semua alasan di atas, bahkan hingga kini pun banyak rekan bisnis yang tidak mengenal wajah istri pria berparas tampan itu.
Ya, kenyamanannya akan segala hal berbau privasi, membuat kehidupan pria yang mendekati segala kesempurnaan itu sangat jarang terekspos di pemberitaan manapun.
“Lakukan semua dengan baik, Jer. Aku percaya padamu.” Menepuk bahu asistennya itu dan dia pun segera berlalu.
Dengan langkah sedikit cepat, Lean berjalan menuju kamarnya bersama Caitlyn. Senyum pria itu semakin merekah begitu mendapati istrinya masih berselancar dengan ponsel di tangannya.
Posisi Caitlyn yang tidur terbalik dengan kaki yang dinaikan ke atas headboard serta keseriusannya pada layar ponsel, membuat bumil itu tidak menyadari kehadiran sang suami.
Lean mendekat dengan perlahan dan mencium rambut istrinya yang terburai indah di atas tempat tidur. Gerakan itu membuat Caitlyn sedikit terkejut.
“Hih, bikin kaget saja, Sayang.” Dia langsung bangkit dan mengubah posisi tidurnya.
Lean terkekeh. “Maaf, Sayang. Serius banget, sih. Apa belum selesai?” tanya pria itu.
“Sudah, kok. Cuman liat-liat rancangan lainnya saja.” Menjawab dengan mata yang masih fokus pada layar.
__ADS_1
Tidak perlu untuk ke mana-mana, Caitlyn cukup menghubungi butik langganan mereka dan akan diantarkan beberapa desain untuk dicobanya di rumah. Kalaupun dia menyukai semuanya desainnya, mudah saja bagi wanita itu untuk membelinya. TrendyStore adalah salah satu butik terbaik dengan rancangan-rancangan dari desainer ternama. Dan pemilik butik serta beberapa karyawan di sana sudah mengenal Caitlyn karena terlalu sering berkunjung ke sana.
“Kalau begitu boleh aku lihat?” tanya Lean lagi.
“Nanti saja, ini kejutan, Sayang.” Caitlyn menjawab dengan kedipan menggoda yang membuat Lean ingin sekali menerjangnya di siang itu.
“Oh, hentikan ini, Sayang. Kalau tidak mengingat malam nanti ada acara, ingin sekali aku membuatmu kelelahan.” Lean berbicara dengan mata terpejam dan gigi yang saling bergesekan.
Tawa Caitlyn berderai melihat wajah merana suaminya itu.
“Cih, dipancing dikit aja langsung on. Dasar pria!” Mendorong pundak Lean lalu bangkit dan berlari kecil ke kamar mandi.
Kali ini Lean mengerang bukan karena hasrat melainkan kesal pada istrinya yang tengah berlari.
“Caitlyn, stop! Aku tidak sedang mengejarmu, Sayang. Jalan saja!” teriak Lean.
...***...
Di tempat lain, Nyonya Vargas beserta Cecilia dan juga Bu Prita, baru saja tiba di sebuah butik. Hendak memilihkan beberapa gaun untuk digunakan Cecilia nanti malam. Kehadiran mereka disambut baik karena Nyonya Vargas juga sudah cukup dikenal di tempat tersebut.
“Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?” sapa salah satu karyawan di sana.
Karyawan wanita itu mengangguk, kemudian mengantarkan ketiga tamunya siang itu untuk melihat beberapa rancangan terbaik butik tersebut yang dipajang pada sebuah ruangan khusus.
Mata Cecilia langsung berbinar melihat keindahan setiap desain gaun-gaun di sana. Jiwa shoping wanita itu yang telah lama terkubur, seketika meronta-ronta ingin memborong beberapa sekaligus.
Tiba-tiba matanya jatuh pada dua buah gaun indah yang dipajang tampak sedikit menjauh dari gaun-gaun lainnya. Cecilia sungguh jatuh hati pada kedua mahakarya tersebut.
“Waow, ini sangat mengagumkan. Mom, bolehkah aku memilih yang ini?” tanya Cecilia dengan pandangan penuh puja.
“Boleh, Sayang. Pilih apa saja yang kau mau.” Nyonya Vargas mengangguk dan mengiyakan permintaan putrinya yang baru ditemukan kembali.
Cecilia langsung bersorak kegirangan. Namun, kebahagiaan yang baru saja dirasakan wanita itu tiba-tiba saja menguap. Keinginannya seketika terpatahkan oleh ucapan karyawan yang mengekorinya.
“Maaf, Nona gaun itu sudah dipesan lebih dulu oleh pelanggan kami,” ucap karyawan tadi.
“Batalkan saja bisa, ‘kan?” ucap Cecilia dengan enteng.
__ADS_1
Karyawan wanita itu menunduk hormat dan sekali lagi mengatakan tidak bisa. Sementara desain tersebut hanya ada satu-satunya.
“Aku akan membayar lebih. Jadi berikan saja padaku.” Sekali lagi Cecilia memaksa.
“Mohon maaf, Nona. Tetap saja kami tidak bisa memberikannya.” Entah ini sudah penolakan ke berapa.
Cecilia mendengus kesal. “Kalau begitu yang disebelahnya. Aku mau yang itu saja.” Dia pun menunjuk gaun yang di sebelahnya.
“Maafkan saya, Nona. Tapi itu juga tidak bisa. Dua gaun yang sudah digeser terpisah itu karena sudah dipesan. Silahkan liat yang lain saja, Nona.” Menjawab apa adanya.
Pernyataan itu membuat Cecilia sungguh geram. “Kau sengaja, yah? Kau pikir aku tidak bisa membayarnya, Sia*lan? Siapa dia yang memesan? Katakan padanya aku bisa membayar di atas harga yang dia beli.”
Suara ribut-ribut itu mengundang perhatian karyawan dan beberapa pengunjung yang ada di sana. Nyonya Vargas yang juga sedang sibuk memilih beberapa gaun yang akan dia pakai dan juga Bu Prita, menjadi terkejut dengan sikap putrinya.
Dia pun langsung menghampiri Cecilia. “Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan lembut.
“Gaun itu, Mom. Katanya sudah ada yang pesan. Aku mau yang di sebelahnya lagi, juga tidak bisa. Katanya dua-duanya sudah dipesan. Aku yakin dia hanya membual karena dia kira aku tidak bisa membelinya,” seloroh Cecilia dengan ketus.
Karyawan tadi menggeleng cepat kala mata indah Nyonya Vargas menatapnya meminta penjelasan. Baru saja dia ingin membuka mulut untuk memberi pembelaan, sang pemilik butik datang dan menengahi.
“Selamat datang, Nyonya Vargas. Senang Anda berkunjung lagi di bukit kami. Tapi saya meminta maaf karena yang diinginkan Nona ini sudah lebih dulu dipesan oleh pelanggan VIP kami. Dan barangnya baru saja akan diantar siang ini juga. Sekali lagi atas nama karyawan saya, saya minta maaf, Nyonya Vargas!” ucap pemilik butik dengan begitu tidak enak hati.
Nyonya Vargas mengangguk, lalu membuang napasnya sedikit kasar. “Sabar, Sayang. Jika tidak bisa, kita akan cari di tempat lain dengan model yang sama, yah.” Menengkan putrinya.
Cecilia dengan sangat terpaksa mengangguk meski hatinya sangat tidak rela gaun indah itu dipakai oleh orang lain.
Nyonya Vargas lalu berpamitan dan mengajak Cecilia untuk ke butik lainnya yang tidak kalah bagus dari yang mereka kunjungi saat ini. Namun, sebelumnya dia sudah meminta karyawan di sana untuk mengantarkan beberapa gaun yang dia pilihkan untuk dirinya dan Bu Prita.
“Terima kasih untuk kunjungan Anda, Nyonya. Sekali lagi maafkan ketidaknyamanan ini.” Pemilik butik sungguh tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Bu. Maafkan sikap putri saya juga, yah.”
Mereka kemudian benar-benar pergi dari sana dan mencari butik lainnya lagi. Tetapi raut cemberut Cecilia tak jua lenyap.
Karyawan, sia*lan ...! Siapa pula sia*lan yang sudah memesan gaun itu, sih? Ini lagi, bukannya langsung bayar saja dengan harga tinggi, malah mengalah saja kayak orang susah. Hih, breng*sek semuanya ....
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...