Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 14. Quarrel Part 1


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Lean baru saja memasuki area apartemen, tetapi tiba-tiba saja dia langsung berhenti sembarang arah begitu saja, tanpa memperdulikan kendaraan lain yang berada di belakangnya. Bagaimana tidak, pemandangan di depan sana membuat tubuh Lean menegang saking emosinya.


Emosi yang sudah dipupuk sejak dari rumah tadi, kini justru disirami dan semakin meluap-luap. Dicengkeramnya kemudi itu dengan sangat kuat dan erat, hingga memperlihatkan otot-otot tangan yang mengeras seiring dengan rahang yang juga mulai mengetat.


“Breng*sek!”


Tidak ingin membuang waktu lebih lama dengan hanya jadi penonton untuk tontonan yang bikin sakit hati itu, Lean segera keluar dari mobil dengan tidak peduli pada sekitarnya. Salah seorang satpam yang berusaha memanggilnya pun tidak dia gubris. Entah dia mendengar itu atau tidak, Lean tetap berjalan dan mengabaikan segalanya. Dikuasai oleh amarah, membuat Lean kehilangan akal sehatnya.


Lean mendekat tepat pada saat Caitlyn sudah duduk dengan aman dan Nathan hendak berbalik. Namun, sejurus kemudian pria itu meringsek mundur dan langsung terbentur pada pintu mobil sambil menahan sebelah rahangnya yang tiba-tiba saja terasa kram, disusul erangan kecil.


Dia baru saja hendak mengangkat pandangan, bersamaan dengan itu juga satu tinju lagi mendarat tetap di rahang yang sama. Insiden secepat kilat itu serta-merta membuat Caitlyn dan Saskia memekik histeris saking kagetnya.


“Nathan!”


Caitlyn sedikit melongok keluar dan lebih terkejut begitu melihat Lean di sana.


“Bangun lu, Bareng*sek!” maki Lean sambil menarik kerah Nathan.


“Maksudnya ada apa, Bang? Salah gue apa ngomong dulu. Jangan main datang-datang langsung nyerang aja dong!” ucap Nathan yang bingung bercampur sakit dan emosi.


Lean berdecih dan menatap Nathan penuh amarah. Tangannya belum juga melepaskan kerah Nathan.


“Gosah pura-pura bodoh lu, An*jir!” maki Lean seraya bergerak untuk memberi bogem lagi pada Nathan, tetapi suara Caitlyn menahannya.


“Lean, kamu apa-apaan, sih? Lepasin!” Caitlyn turun dari mobil dan langsung melepas tangan Lean dari kerja baju Nathan. Pada saat dalam keadaan marah besar, Caitlyn akan memanggilnya dengan nama ‘Lean’. Berbeda saat dia hanya kesal atau obrolan bisa, dia akan memanggilnya dengan nama ‘Al’.


Mendengar perkataan Caitlyn, Lean beralih menatapnya dengan sinis. “Apa? Mau ngebela pacar kamu ini, iya?” Lean tertawa keras.


“Nathan bukan pacar aku!” Caitlyn menggeram kesal.


“Oh, kalo bukan pacar apa, dong? Selingkuhan?” Wajahnya sungguh sangat mengesalkan dengan fuc*king question seperti itu membuat Caitlyn naik pitam.

__ADS_1


“Lean!” seru Caitlyn mulai tersulut emosi.


“Apa? Benar, ‘kan, kataku?”


Kali ini bukan Caitlyn yang menjawab tetapi Nathan. “Lu salah, Bang. Gue sama Caitlyn itu cuman–”


Satu tinju yang cukup keras mendarat mulus di pipi Nathan menghentikan ucapannya, bahkan menghasilkan darah segar di ujung bibirnya.


“Aleandro! Kau gila!” maki Caitlyn saking tidak bisa lagi menahan emosi melihat sikap laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


Lean tidak menggubris makian itu, dia justru mencengkram rahang Nathan dengan sangar.


“Gue ngomong sama istri gue, bukan sama lu. So, shut up!” teriaknya di depan wajah Nathan. “Dan satu lagi, jangan berani-berani sebut nama istri gua dengan mulut sampah lu ini. Ngerti?” imbuhnya dengan nada bicara yang mulai rendah tetapi penuh ancaman.


Selanjutnya dia mendorong tubuh Nathan dan kembali membentur pintu mobil.


“Kau gila, Lean. Maksud kamu datang-datang dan buat keributan di sini itu apa? Apa kau sudah kehilangan akal, hah?” Caitlyn ingin sekali menjerit tetapi dia sadar sedang berada di mana.


“Harusnya aku yang tanya seperti itu ke kamu!” sahut Lean dengan nada meninggi.


“Jangan ngaco kamu! Semua yang kamu liat itu gak sama dengan apa yang kamu pikirkan!” tempik Caitlyn dengan nada rendah namun tajam dan penuh emosi. Dia menyadari betul bahwa kini mereka jadi tontonan beberapa orang yang berlalu-lalang di sana.


Sementara itu, Nathan yang mendengar kata cerai dari Lean, menatap Caitlyn dan Saskia bergantian seolah meminta penjelasan. Saskia yang menyadari itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Jadi aku harus percaya saja begitu?” Lean menghujam manik Caitlyn dengan sorot tajam seolah ingin menyelam mencari kebenaran di sana.


“Terserah kamu mau percaya ataupun gak. Aku gak peduli! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya supaya kamu tau dan gak ngamuk-ngamuk sembarangan.” Ketus dan terkesan tak acuh ucapan Caitlyn kali ini.


“Jadi kau beneran gak peduli?” tanya Lean datar.


“Tentu … Lean, lepasin!” pekik Caitlyn tiba-tiba saja begitu Lean menariknya dan pergi dari sana.

__ADS_1


“Eh, eh, mau ke mana? Lean breng*sek! Lilynya jangan ditarik kayak gitu! Dia lagi sakit, Bo*doh!” Saskia baru bersuara begitu melihat Lean memperlakukan Caitlyn dengan kasar.


Dia berpikir jika keduanya sedang berdebat masalah rumah tangga seperti tadi, dia tidak ingin ikut campur. Tetapi mengingat kondisi sang sahabat, Saskia berpikir untuk tidak bisa diam kali ini.


Saskia dan Nathan sama-sama mengejar pasangan yang sebentar lagi akan berpisah itu.


“Bang, please. Lu boleh pukul gue sesuka lu. Tapi jangan kasarin istri lu kek gitu! Dia lagi sakit, Bang.” Ucapan Nathan sukses menghentikan langkah Lean.


“Apa tadi lu bilang? Sakit? Oh, wow. Romantis sekali kalian. Gue yang jadi suaminya aja gak tau istri lagi sakit, tapi selingkuhan dia tau. Segitu gak gunanya gue jadi suami.” Lean berbicara dengan nada-nada mengejek.


“Loh, baru sadar ternyata. Harusnya gak usah nyadar dulu biar gue yang nyadarin lu, Tuan arogan. Lu pikir hanya dengan uang istri lu udah bahagia? Lu pikir semua sakit hati dia selama jadi istri lu bisa diobatin pake duit lu, hah? Lu cuman ngasih dia duit, tapi fungsi lu sebagai suami yang sesungguhnya itu gak ada. Semua duit lu juga gak dia pa–”


“Udah, stop! Please, Ki, jangan diterusin! Udah, gue gak papah kok. Lu berdua balik aja dulu, yah.” Caitlyn mencegah jangan sampai Saskia membocorkan kelakuan Sania pada Lean. Mau sejahat apa pun itu si iblis tua, Caitlyn ingin agar Lean tetap menghormati ibu tirinya itu.


“Tapi, Ly–”


“Gue gak papah, Ki.” Caitlyn tersenyum meyakinkan kedua sahabatnya. “Maaf,” ucapnya tanpa suara tetapi dapat dimengerti oleh Saskia dan Nathan.


Caitlyn langsung berbalik dan masuk ke mobil. Sementara itu, Lean terlihat baru menyusul setelah berbicara dengan beberapa pria berseragam hitam di depan sana. Caitlyn mengenali siapa orang-orang itu. Mereka adalah anak buah Lean yang selalu mengikutinya ke mana pun.


Caitlyn mengedarkan pandangannya menatap sekeliling dan baru menyadari satu hal. Sepi tanpa seorang pun di sana, sedangkan dia ingat betul bahwa tadi ada beberapa orang yang sempat menyaksikan pertengkaran mereka. Dia juga baru sadar jika mobil Lean terparkir sembarangan tetapi tidak ditegur satpam. Rupanya anak buah pria tampan itu sudah membereskan semuanya.


Lean segera menjalankan mobilnya keluar dari area apartemen. Pria itu mendengus kala memergoki Caitlyn yang masih menatap dua orang di sana dari kaca spion.


“Apa kau begitu sudah tidak sabar untuk terus bersama pria itu? Tidak bisakah menunggu sebentar lagi sampai proses perceraian ini selesai?” Pertanyaan Lean kembali menjadi tanda pengibaran bendera perang sesi kedua di hari itu.


Caitlyn memilih memejamkan matanya daripada menanggapi ucapan Lean yang hanya menguras emosi.


“Aku jadi penasaran berapa banyak uang yang sudah dia berikan untuk membayarmu–”


“Aleandro, kau keterlaluan!” teriak Caitlyn dengan kencangnya.

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2