
Hadya dan Lean kembali ke rumah dengan mobil yang dikendarai oleh Jerry. Tidak lupa Dokter Andra pun ikut bersama mereka saat itu. Jangan tanyakan mengapa karena itu merupakan permintaan Lean.
Begitu tiba di rumah, Lean langsung menanyakan tentang kehamilan Caitlyn. Sebenarnya Dokter Andra menyarankan untuk tanyakan langsung pada dokter obgyn, tetapi entahlah, Lean tidak berniat dan hanya ingin menanyakan pada Dokter Andra saja.
“Jadi waktu kau memeriksanya kira-kira berapa usia kandungannya?” tanya Lean dengan wajah datar.
“Sebenarnya saya tidak bisa memprediksi itu, Tuan. Saya hanya dokter umum. Jika Tuan mau, saya akan memanggil dokter obgyn ke sini, Tuan.” Dokter Andra memberikan pilihan.
“Tidak perlu, saya hanya ingin mengetahui sedikit saja. Bukan semua hal menyangkut kehamilan,” ucap Lean dengan tegas.
“Setahu saya, tanda-tanda kehamilan akan terasa pada minggu ke-4 usia kehamilan. Jadi bisa saja waktu itu Nona Caitlyn sudah memasuki usia minggu ke-4. Kalau dihitung hingga sekarang sudah sekitar 8 minggu atau 2 bulan,” jelas sang dokter.
Lean terdiam dan tampak berpikir. Sesat kemudian dia beranjak dari duduknya sambil berterima kasih pada sang dokter, lalu beranjak menuju kamar.
“Tuan, apa saya sudah boleh kembali bekerja?” tanya Dokter Andra pada Hadya.
“Ya, boleh, Dok. Silahkan,” jawab Hadya, lalu bangkit dari duduknya dan menyusul Lean ke kamar.
“Mari saya antarkan ke depan, Dokter.” Jerry selalu siap sedia dalam posisi yang cukup berjarak dengan sang atasan. Untuk saat ini, dia tidak bisa berdekatan dengan Lean. Atasan dan asisten itu harus LDR-an dalam jarak beberapa meter tidak sampai mil.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar, Lean tamkap tidak tenang dan kacau. Pria tampan itu sebentar-sebentar akan duduk di sofa. Tidak sampai beberapa detik, bangkit lagi dan berjalan mondar-mandir tak tentu arah. Begitu merasa lemas, dia pun memilih tidur, tetapi tidak bisa nyenyak. Dia berbalik ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Mengubah posisi tidur dari terlentang menjadi tengkurap, hingga berbagai gaya lainnya dia lakukan. Namun, tidak satu pun mampu membuatnya merasa tenang.
“Arrrghhh!” Bangun dan duduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Lean mengangkat pandangannya dan terkejut melihat sang ayah yang berdiri di depan pintu menatapnya dalam diam.
“Sejak kapan papa di situ?” tanya Lean. Sejujurnya dia ingin memastikan jika saja ayahnya sudah di sana dari tadi maka segala tingkah anehnya pasti terlihat sudah.
“Sudah cukup lama.” Meneruskan langkahnya masuk menuju sofa.
Oh, sh*it!
“Pa, apa yang Lean dapatkan dengan hanya mendengar penjelasan Dokter Andra? Itu tuh tidak bisa langsung mengubah apa yang sudah terjadi,” ucap Lean yang sebenarnya bingung.
Hadya mengembuskan napas beratnya. “Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Hadya.
“Yang terjadi, ya … dia hamil di saat kita sudah berpisah satu bulan dan pastinya hamil dengan si breng*sek itu.” Ucapan yang tidak masuk akal itu membuat Hadya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sebenarnya yang membuat kamu tidak ingin mengakui jika Caitlyn memang mengandung anak kamu itu apa, Lean? Apa alasanmu, hah?” Hadya mulai serius. Dia sudah bersiap untuk menyadarkan putranya itu.
__ADS_1
“Ya karena dia berhubungan dengan si breng*sek itu. Saat berpisah dan tinggal jauh dari kami, dia mulai bebas memasukan laki-laki manapun di rumahnya. Terutama si breng*sek itu,” jawab Lean dengan kesal.
“Apa kamu melihatnya atau kamu memantaunya? Apa kamu mengirimkan orang untuk memata-matai Caitlyn?” cecar Hadya.
“Tidak! Untuk apa memangnya?” jawab Lean cepat dan tegas.
Sebelah alisnya terkangkat ketika melihat sang ayah tertawa. “Disitulah letak kesalahanmu, Lean. Kau terlalu menjunjung tinggi gengsimu hingga bersikap masa bodoh pada wanita yang kau cintai–”
“Aku tidak mencintainya!” Lagi-lagi jawaban Lean membuat Hadya tertawa.
“Sungguh? Lalu kenapa kau harus marah saat laki-laki lain mendekatinya? Kenapa kau harus bersusah paya mencari alamatnya sampai menyekap sahabatnya? Kenapa juga waktu itu kau berpura-pura ke Jepang padahal kau hanya berdiam di luxury landing selama seminggu lebih? Kenapa? Untuk menghindari permintaan cerai darinya, bukan?” Hadya membombardir putranya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Lean cukup shock.
“Papa?” Dia tidak percaya jika ayahnya diam-diam memantau segala pergerakannya. “Jadi papa …?”
“Benar papa melakukan itu. Kau tau kenapa? Karena kau terlalu naif, Lean. Kau terlalu tunduk pada gengsi dan harga dirimu. Papa tau semuanya. Jadi sekarang papa minta, duduk diam dan dengarkan papa!”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1