Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 30. Visitor


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Caitlyn terasa begitu membosankan. Bagaimana tidak? Setiap hari dia hanya bersantai dari pagi hingga malam. Tidak ada aktivitas membuat pesanan cake seperti awal dia memilih pergi dari rumah. Caitlyn sudah mencoba berbicara dengan pemilik toko untuk mengizinkan dirinya membuat cake lagi sekedar mengisi waktu luang yang begitu banyak. Namun, permintaannya selalu ditolak, bahkan beberapa toko lainnya pun sama.


Caitlyn kesal karena dia tahu ini pasti kerjaan ayah mertuanya lagi. Berkali-kali dia menelepon Hadya seraya mengajukan protes, tetapi protesnya selalu direspon dengan tawa dari Hadya. Pria paruh baya itu selalu berpesan agar Caitlyn tidak boleh banyak beraktivitas dan menjaga kandungannya. Komunikasi keduanya pun tidak pernah terputus karena Hadya yang selalu mengkhawatirkan putri dan calon cucunya.


Pagi itu Caitlyn bangun lalu mulai beres-beres membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri. Hanya itu yang dia lakukan setiap harinya.


“Selesai! Saatnya kita sarapan, little Ale.”


Segelas susu hangat bersama dengan omelet bayam dan nasi merah menjadi pilihan Caitlyn pagi itu. Wanita cantik itu mulai menikmati sarapannya sambil menonton edukasi seputar kehamilan dan dunia parenting melalui ponsel.


Caitlyn benar-benar ingin menjalani kehamilannya dengan sebaik mungkin, serta mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua yang baik pula untuk anaknya jika sudah lahir nanti. Asik sendiri dengan dunianya, Caitlyn sampai tidak sadar jika di depan sana ada yang mengetuk pintu rumah.


”Alamatnya sudah benar, kok, ini. Mungkin orangnya lagi pergi kali, yah.”


Seseorang yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya terlihat bingung dan bertanya-tanya. Tak urung raut lelah karena menunggu terlihat jelas di wajahnya. Sekali lagi dia mencoba mengetuk pintu dengan sedikit lebih kuat dari yang tadi. Beberapa kali mencoba, tetap sama tak ada jawaban. Orang itu lalu merogoh ponsel dan mencoba menelepon.


Panggilan pertama meskipun terhubung, tetapi tidak ada yang menjawab juga. Namun, bunyi dering ponsel di dalam sana terdengar sampai ke luar.


“Loh, itu ada suara ponsel. Berarti orangnya ada di dalam. Ngapain dia gak ngangkat telepon coba?”


Dia pun kemudian mencoba untuk menelpon sekali lagi.


📲 “Halo, selamat pagi.”


Akhirnya dia yang di dalam sana menjawab telepon.


📲 “Selamat pagi. bisa bicara dengan nona Caitlyn?”


📲 “Iya, saya sendiri. Dengan siapa ini?”


📲 “Kami dari pihak bank ingin menyita rumah ini dan segala isinya, nona. Bisa tolong bukakan pintu dan permudah jalan kami?”


📲 “A-apa? Dari ba-bank? Tapi kenapa? Ada apa dengan rumah saya?”


📲 “Baiknya buka dulu pintunya, nona. Kita perlu bicara soal ini.”


📲 “Oh ya. Maaf, sebentar.”

__ADS_1


Satu menit berikutnya tiba-tiba pintu terbuka dan pemilik rumah itu kaget mendapati seseorang orang berdiri di depannya dengan wajah dan bagian tubuh depan tertutup buket bunga berukuran besar.


“Hm, maaf. Apakah … Anda yang tadi menelepon saya?” tanya Caitlyn penasaran sekaligus kebingungan.


Tidak langsung menjawab, tetapi orang itu langsung memiringkan buket bunga dan memperlihatkan wajahnya pada pemilik rumah dan ….


“Hai, Cantik.”


Sapaan lembut dan senyum hangat itu serta-merta membuat Caitlyn hampir saja melompat kegirangan. Namun, dihentikan dia yang datang saat itu.


“Nathan!” pekik Caitlyn kegirangan. Ya, orang yang datang saat itu adalah Nathan.


“Eh, eh, mau ngapain? Gak ingat yang lagi ada di perut emang?” Sebelah tangan Nathan memegang erat pundak Caitlyn menghentikan laju tingkahnya dan sebelah lagi masih memegang buket bunga.


“Opss, maaf,” cicit Caitlyn. “Habis lu, sih, pake acara bilang orang dari bank mau nyita rumah. ‘kan bikin gue ketar-ketir tadi. Pas liat ternyata lu, yah, seneng banget dong!” omel Caitlyn sambil memukul-mukul lengan serta pundak Nathan.


Pria itu terkekeh mendengar omelan sahabat yang diam-diam dia cintai.


“Tambah cantik kalo lagi ngomel-ngomel gini,” ucap Nathan masih dengan tawa kecilnya. “Nih, untuk kamu yang cantik biar makin cantik terus.” Nathan memberikan bunga untuknya.


“Makasih, Nath. BTW, kok bisa ke sini?” tanya Caitlyn sembari mencium harum yang menempel pada bunga di tangannya.


“Ah, beruntung banget, sih, lu bunga.” Bukannya menjawab pertanyaan Caitlyn, Nathan justru sibuk memperhatikan gerak-gerik wanita itu.


Caitlyn menaikan sebelah alisnya. “Bunga ini? Beruntung? Kenapa memangnya?” Bingung.


“Ya, itu. Bisa dipeluk, bisa dicium sama calon ibu muda yang cantik ini. ‘kan, gue juga mau,” ucap Nathan jujur, tetapi berbalut canda.


Caitlyn berdecak seraya memberikan tinju kecil di pundak sahabatnya. “Sirik aja. Masuk yuk!” ajaknya kemudian.


Lagi-lagi Nathan terkekeh dan mengikuti langkah Caitlyn. Namun, dalam hati dia membenarkan yang diucapkan wanita itu. Ya, Nathan mengaku iri dan sangat iri pada buket bunga itu.


“Ly …” panggil Nathan begitu pelan.


Caitlyn berbalik dan melihatnya. “Ada apa?”


“Bagus banget sih tempat lu. Mana furniture serba elite lagi.” Nathan mengedarkan pandangannya dengan tatapan kagum.

__ADS_1


Entah kenapa pria itu melihat sekaligus merasa seolah kekuasan keluarga Sanjaya masih terus mengikuti dan menempel pada wanita yang sudah dia taksir sejak dulu itu. Aura sebagai nyonya muda dalam keluarga Sanjaya masih melekat kuat dalam dirinya. Entah Caitlyn sendiri menyadari hal itu atau tidak.


Apa ini karena efek dia sedang mengandung darah daging Sanjaya?


Nathan menggeleng. Jauh di dalam hatinya, dia merasa bayang-bayang seorang Aleandro Sanjaya masih terus mengikuti setiap langkah Caitlyn. Dia teringat akan perkataan Saskia kemarin. Meskipun sedikit insecure, tetapi Nathan ingin mencobanya.


Dalam lamunan dan pergolakan batinnya, Nathan dikagetkan dengan pukulan kecil pada lengannya.


“Ngelamun apa, sih?” tanya Caitlyn.


“Eh, gak. Ini lagi kagum aja sama lu. Maksudnya sama seisi rumah lu ini. Cantik seperti pemiliknya.” Menatap Caitlyn dengan senyum penuh arti.


“Dari tadi lebay mulu.” Caitlyn menarik tangannya menuju dapur. “Tadi gue lagi sarapan dan ini belum habis. Temenin yah,” ucapnya.


Nathan tersenyum dan mengangguk. “Apa, sih, yang gak buat lu.”


Caitlyn menyiapkan minuman dan mengambil piring buat Nathan. Keduanya lalu sarapan bersama dengan Nathan yang tidak pernah lepas memandangi wajah cantik Caitlyn.


Bodoh banget dia karena melepas wanita secantik lu, Ly. Dan gue akan sangat bersyukur seumur hidup jika sudah memiliki lu.


“Lu belum jawab pertanyaan gue, Nath. Kok bisa ke sini?” tanya Lily yang kini tengah menghabiskan susunya yang tak lagi hangat.


“Bisa, dong. Maaf, dapat alamat dan nomor lu dari Kia. Jangan marah sama dia, yah. Gue yang maksa.” Nathan menjawab apa adanya.


Lily berdecak. “Kalo itu udah gue duga, sih. Tadinya mau marah tapi gak jadi deh. Gue kesepian di sini, yah, kalo udah ada yang nemenin gini seneng dong.”


Lagi-lagi Nathan tersenyum. “Temenin seumur hidup juga boleh.”


...***...


Sementara itu di luxury landing tempat tinggal Lean saat ini, pria itu baru saja selesai menghubungi seseorang. Wajah tampannya tampak begitu frustasi dihiasi seringai kecil yang begitu berbeda.


“Jika dengan cara yang benar tidak membuatku menemukanmu, maka aku akan melakukan cara yang berbeda dengan sedikit nekat. Sedikit saja ….”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2