
Hadya seolah terjebak dalam pilihan yang sulit. Pria paruh baya itu tidak ada niatan sedikit pun untuk mengabulkan permintaan Nathan. Namun, itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa menantunya.
Sementara itu di lain sisi, dia juga tidak bisa bertindak lebih karena anak buahnya yang lain masih mengurusi banyaknya pasukan yang sudah dipersiapkan Sania dan Nathan sebelumnya. Satu saja harapan Hadya saat itu adalah Lean. Dia berharap, putranya itu dengan mudah menemukan alamat yang sudah dia bagikan.
“Bagaimana, Tuan Sanjaya? Apa Anda sudah bisa mengabulkan yang menjadi permintaanku?” tanya Nathan dengan wajah iblis.
“Itu tidak akan pernah terjadi. Papa sudah memberikan sebagian hakmu, Nathan. Apa lagi yang masih kurang? Menjadi pemilik rumah sakit tersebar di kota ini, satu anak cabang Sanjaya Grup di luar kota juga menjadi milikmu. Beberapa aset keluarga Sanjaya juga atas namamu. Lantas apalagi yang kau inginkan? Apakah itu tidak cukup? Jangan serakah kamu, Nathan!” berang Hadya.
“Jelas itu semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan yang dimiliki anak kesayanganmu itu. Ibaratnya, aku hanya serpihan debu di mata keluarga terhormat seperti kalian. Aku hanya mendapatkan sisa-sisa dari milik putramu. Kau selalu menomorsatukan dia dan aku tidak pernah dianggap dan tidak pernah terlihat di matamu. Apa itu yang kau bilang hak? Yang sebenarnya kau hanya iba padaku. Iya, ‘kan?” teriak Nathan dengan emosi.
Hadya menggelengkan kepala, menyayangkan cara berpikir putra keduanya dari istri kedua pula–Sania.
“Papa tidak pernah membanding-bandingkan dirimu dan kakakmu, Nathan. Kau sendiri yang berpikiran begitu. Lagian yang dimiliki kakakmu, ya, memang itu adalah haknya. Hak yang juga bukan papa yang berikan tetapi itu warisan dari neneknya. Papa tidak punya kuasa sampai di sana, Nathan,” desis Hadya.
Pria itu berbicara sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan-lahan. Sayangnya, Nathan membaca itu dengan baik dan dia lebih berhati-hati.
__ADS_1
Pria berprofesi dokter itu tergelak mendengar omongan lelaki paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya.
“Oh, apa telingaku bermasalah, Tuan? Kau mengatakan itu adalah haknya yang diberikan neneknya begitu?” Nathan masih tertawa. “Lalu aku ini siapa memangnya? Bukankah jika dia cucunya, maka aku pun sama? Bedanya apa memang? Apa karena aku anak dari istri yang tidak dicintai?”
“Tidak seperti itu juga, Nathan,” sanggah Hadya. Jawaban itu membuat Sania yang mati kutu sedari tadi, kini dengan berani menatap suaminya. “Ada hal lain yang tidak perlu kamu ketahui, tidak juga yang lain bahkan kakakmu sendiri. Jadi papa mohon, buang pikiranmu yang tidak-tidak itu, Nath.” Hadya tidak ingin membuka rahasia keluarganya.
Sania menatap suaminya dengan tajam karena merasa dibohongi. Dia pikir, wanita iblis sepertinya sudah dengan pandai mengetahui segalanya serta memperdaya kehidupan seorang Hadya Sanjaya. Nyatanya tidak. Masih saja ada hal yang pria itu sembunyikan darinya.
“Jadi kau juga membohongiku, Suamiku?” tanya Sania dengan sinis.
“Tidak sebanding dengan kebohongan demi kebohongan yang kau lakukan terhadap aku dan keluargaku, Sani. Rumah ini contohnya,” ucap Hadya pelan, tetapi mampu membungkam Sania.
“Sania!” bentak Hadya dengan keras.
“Cukup! Jangan pernah kau berpikir untuk membentak mamaku seperti itu lagi, Tu–”
__ADS_1
Ucapan Nathan mendadak terhenti bersamaan dengan suara tembakan yang memekikan telinga semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Tidak hanya itu, tubuh tegap Nathan pun meringsek mundur seketika kala sebuah tembakan terlepas ke arahnya dan untung saja meleset.
Oh, dia yang sedang berulah seolah hanya memberikan peringatan.
“Dan baji*ngan sepertimu jangan pernah sekali-kali membentak ayahku!”
Semua yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut mendengar suara familiar itu. Sania terkejut dan panik pada waktu yang bersamaan, membuat cengkramannya pada rambut Caitlyn semakin kuat.
Hal tersebut tentu saja membuat Caitlyn ikut menjerit kesakitan dan jeritan itu membuat dia yang baru saja datang bertahan marah. Tidak lagi berpikir panjang, sebuah tembakan lagi dia lepaskan ke arah Sania dan meleset mengenai dinding di belakangnya wanita tua itu.
“What the fu*ck! Are you crazy?”
Nathan berteriak marah melihat siapa yang datang. Namun, Caitlyn dan Hadya justru tersenyum tenang melihat kehadirannya.
“Yes, yes i am!”
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...