Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 28. Stop Working


__ADS_3

Sejak semalam, Lean tidak bisa memejamkan matanya hingga sepagi ini dia sudah kembali berdiri di depan pintu kamar ayah dan ibu tirinya. Tidak mendapatkan alamat Caitlyn dari sang ayah, Lean tidak juga menyerah.


Semalam dia berusaha menyuruh orang-orang ayahnya untuk memberitahu, tetapi mereka juga tidak bisa memberikan Lean jawaban atas perintah Hadya.


Dua jam sudah dia berdiri di depan pintu kamar sang ayah, justru yang keluar adalah ibu tirinya. Wanita itu sedikit kaget melihat Lean yang berdiri di sana bagai penjaga.


“Pagi, Lean. Kenapa pagi-pagi berdiri di sini, Nak?” tanya Sania.


“Pagi, Ma. Ah, Lean ada perlu sama papa. Apa papa udah bangun, Ma?” jawab Lean.


“Sepertinya papamu sangat kelelahan. Tuh, masih lelap banget. Mau bilang sama mama nanti mama sampaikan atau–”


“Tidak usah, Ma. Lean tunggu papa aja kalo gitu,” ucapnya seraya menggeleng kepala.


Selesai berucap demikian, pria berparas tampan itu langsung berbalik pergi berlalu dari sana. Kepergiannya menghadirkan tanda tanya bagi Sania.


Sepenting apa keperluan dia sampai harus menghampiri ayahnya di kamar segala?


Sania mengedikan bahunya dan berlalu hendak ke kamar Cecilia. Hari ini dia berencana memaksa putri bungsunya itu untuk mendatangi SW-Entertainment.


Sania membuka pintu kamar anaknya dan menyelonong masuk begitu saja.


“Cecil, Cecilia, bangunlah!” seru Sania.


Dia tidak tega mengganggu tidur putrinya seperti ini. Namun, tidak untuk kali ini. Sania harus bersikap tegas agar usahanya berhasil. Keputusan Caitlyn untuk pergi, membuat wanita paruh baya itu seolah kehilangan kartu as. Di samping itu juga, dia ingin membuktikan pada Hadya jika putrinya memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri tanpa embel-embel nama Sanjaya yang dia sandang.


“Nanti aja, Ma. Sedikit lagi,” ucap Cecil dengan mata tertutup dan suara yang terdengar serak serta malas.


“Gak bisa! Kamu harus mulai terbiasa untuk bangun pagi mulai sekarang! Tunjukkan pada papamu jika kamu sudah benar-benar berubah tidak seperti dulu lagi. Tunjukkan jika kamu layak menjadi seorang model terkenal karena usaha kamu sendiri tanpa nama Sanjaya.” Sania berbicara dengan menggebu-gebu.


Cecilia tidak ambil pusing, bahkan mungkin dia tidak mendengar ocehan ibunya. Wanita itu menarik guling lalu menutup kedua telinganya.

__ADS_1


“Cecilia!” pekik Sania tak lagi sabar. Wanita itu bahkan menarik selimut yang menutupi tubuh sek*si sang putri.


“Apa, sih, Ma? Cecil masih ngantuk tau. Bisa nanti aja gak ngomel-ngomelnya?” Cecilia langsung bangun dan duduk dengan penampilan yang acak-acakan khas baru bangun tidur.


“Oke. Nanti aja sampai ayahmu mempekerjakan kamu sebagai karyawan Sanjaya Grup.” Satu kalimat telak yang sukses membuat Cecilia terbangun dengan mata membola tidak percaya.


“Apa, Ma? Karyawan Sanjaya Grup? Memangnya papa setega itu?” Ekspresi mengantuk wanita itu seketika lenyap tertelan oleh keterkejutan.


“Papamu mungkin memaafkan kamu, tapi dia tidak akan pernah lupa dengan kesalahan yang dulu kamu buat. Karena itu dia lebih senang jika kamu diam di rumah seperti ini. Tapi tentu saja mama gak mau. Kamu harus jadi wanita karier yang sukses dan buktikan pada papamu jika kamu sudah berubah,” jawab Sania panjang lebar membuat Cecilia sedikit mengerti. “Kalau tidak, selamat bergabung di Sanjaya Grup dengan jabatan karyawan. Mau?” imbuh Sania.


“Big no! Gak, gak! Ih, amit-amit jadi karyawan di perusahaan keluarga sendiri. Ogah, Ma.” Cecilia menyilangkan tangannya di dada sambil menggeleng kuat.


“Makanya itu bangun sekarang dan siap-siap ke SW-Entertainment dan daftarkan diri di sana hari ini juga!” perintah Sania dengan tegas.


Namun, Sania mendadak emosi karena bukannya bangkit berdiri dan bergerak melakukan yang dia katakan, Cecilia justru menjatuhkan tubuhnya dan kembali tidur.


“Cecilia!” pekik Sania. Suaranya menggema hingga ke langit-langit kamar dan memenuhi seluruh ruangan kamar Cecilia yang begitu besar.


“Baiklah, Sayang. Mama tunggu usaha dan kabar baik dari kamu.”


Setelah mengucapkan itu, Sania akhirnya kembali ke kamarnya. Di disambut Hadya yang ternyata sudah bangun juga. Pria itu tampaknya baru selesai melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


“Dari mana, Ma?” tanya Hadya.


“Liat Cecil bentar tadi, Pa.” Sania mendekatinya dan mengajaknya untuk sarapan. “Ayo, sarapan dulu, Pa.” Hadya mengangguk. “Oh, iya, Pa. Tadi dicariin Lean pagi-pagi sekali. Ada perlu katanya, tapi papanya masih tidur.” Sania melanjutkan ucapannya.


Hadya mengembuskan nafasnya lalu bergerak turun dari tempat tidur.


“Biarkan saja dia.”


...***...

__ADS_1


Di tempat Caitlyn, wanita itu bangun pagi-pagi sekali dan hendak bergelut lagi dengan pekerjaan barunya yaitu membuat pesanan cake. Akan tetapi, dia bingung karena bahan-bahan yang kemarin dibelinya sudah tidak lagi ada di sana. Caitlyn sibuk mencari ke sana kemar, tetapi tak kunjung ditemukan.


“Astaga, taruh di mana, sih, mereka?” Dia menggerutu kesal dengan perubahan yang dilakukan anak buah Hadya. “Papa juga, sih, pake acara beli barang sebanyak ini jadinya yang lain pada hilang gak tau ke mana.”


Mengomel sendiri akhirnya Caitlyn menyerah dan hendak mandi untuk bersiap membeli bahan baru ke pasar. Namun, dia teringat untuk menelpon dan meminta maaf kepada pemilik toko terlebih dulu karena telah absen mengerjakan tugasnya kemarin.


Begitu telepon tersambung, Caitlyn dibuat heran karena pemilik toko itu mengatakan jika dia tidak marah dan meminta Caitlyn agar tidak perlu repot-repot lagi. Mulai hari itu dia tidak boleh lagi membuat berkerja.


📲 “Loh, tapi kenapa, Ci? Saya ada salah? Saya minta maaf. Saya akan–”


📲 “Tidak apa-apa. Kemarin ada seseorang yang datang ke sini dan mengatakan untuk kami tidak boleh lagi memesan cake padamu. Dia juga sudah ganti rugi kemarin. Lagian kamu orang kaya hidup enak gak mau, maunya yang susah. Heran.”


📲 “...???...”


Caitlyn speechless, tidak tahu apa yang harus dia katakan.


📲 “Halo, nona. Kamu masih di sana?”


📲 “Ah, iya, Ci. Makasih, ya, Ci. Selamat pagi.”


Panggilan telepon itu berakhir dengan Caitlyn yang langsung terduduk seperti orang bodoh di dapur.


“Papa lagi, papa lagi. Maksudnya biar apa coba? Kebutuhan yang dia belikan gak mungkin bertambah, kan? Lah, aku harus kerja untuk kehidupanku ke depannya. Kenapa malah diberhentikan sepihak gini? Ok, dia bulan ini aku bisa berpaku tangan karena semua tersedia. Bagaimana dengan tiga empat bulan dan seterusnya? Makan angin? Ada-ada saja, sih, papa,” omel Caitlyn.


Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Caitlyn mengintip dengan malas. Ada sebuah notifikasi yang masuk di sana. Dengan tidak berhasrat dia membuka pesan tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat notifikasi dari Bank. Sederet nominal angka yang luar biasa fantastis berjejer rapi membentuk satu barisan cantik. Mata Caitlyn membola tak percaya melihat jumlah dana yang masuk pada rekeningnya. Sedetik kemudian wanita itu menangis membaca nama pengirim di sana.


“Papa … baru aja Caitlyn mikirin hidup ke depannya, lagi-lagi papa udah peka aja dan nyiapin semuanya. Papa kenapa seperti ini? Caitlyn harus balas dengan apa nanti, pa?”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2