
Saat ini Caitlyn dan Lean tengah melakukan perjalan menuju rumah Rendi di sebuah lokasi kumuh yang tidak jauh dari kota. Hanya butuh lima belas menit, mereka pun tiba dan hanya mereka berdua disertai beberapa bodyguard.
Hadya sendiri tidak ikut karena dia memiliki urusan lain. Pria paruh baya itu tengah menyibukkan diri dengan hal-hal menyangkut perceraiannya dengan Sania. Alhasil, dia hanya membiarkan anak serta menantunya pergi dengan pengawalan yang ketat.
Sebenarnya Lean sendiri tidak ingin ke sana. Dia tidak suka dengan tempat yang kotor seperti itu. Namun, bagaimana lagi jika Caitlyn sangat menginginkan ke sana. Mau tidak mau, suka tidak suka, Lean terpaksa harus ke sana. Baginya kini, kebahagiaan Caitlyn adalah prioritasnya.
“Kenapa mukanya gitu?” tanya Caitlyn pada suaminya.
Saat ini mobil tengah memasuki setapak-setepak sempit yang berlubang dan dipenuhi genangan-genangan kecil sepanjang jalan. Lean terus saja merutuk dalam hati karena tidak ingin membuat Caitlyn kecewa.
“Tidak apa-apa, Sayang.” Lean menjawab dengan memaksakan senyum.
Caitlyn tahu jika pria itu tidak suka dengan tempat-tempat seperti yang mereka kunjungi saat ini. Apalagi mobil mereka menjadi pusat perhatian seperti ini, hal yang tidak disukai Lean sama sekali. Akan tetapi, Caitlyn membiarkan saja seolah ingin menyiksa dan mengerjai suaminya.
Namun, saat mobil semakin masuk ke dalam melewati setapak di sana, Lean tiba-tiba memerintahkan supir untuk menghentikan mobilnya.
“Kenapa lagi, sih, Al?” tanya Caitlyn sekali lagi.
Lean tidak menjawab. Pria itu langsung membuka pintu dan keluar, mengabaikan banyak pasang mata yang menatapnya saat itu. Caitlyn merasa heran dan bingung setengah mati saat Lean mengitari mobil dan membukakan pintu untuknya.
Begitu Caitlyn keluar, semua pengawal yang ikut dengan mobil di belakang pun lantas bergegas keluar dan melakukan tugas utama mereka, menjaga dan melindungi nona muda keluarga Sanjaya.
Lean langung menggenggam tangan Caitlyn dengan erat dan hendak menuntunnya untuk berjalan, tetapi Caitlyn mencegah.
“Jelasin dulu kenapa kita harus jalan? Bukannya kamu tidak suka diliatin orang-orang seperti ini?” Berucap sambil matanya melirik kiri dan kanan.
“Jalanan di sini tidak bagus, Sayang. Kamu lupa kalo lagi hamil?” Ucapan Lean serta-merta menyadarkan Caitlyn.
“Maaf, Sayang,” cicitnya dan diikuti cengiran.
Lean hanya menggeleng kecil lalu kembali menarik lembut tangan istrinya dan menyusuri jalan sempit itu. Sepanjang jalan mereka jadi pusat perhatian tentu saja.
“Kamu tidak apa-apa dengan kondisi di sini?” tanya Caitlyn setengah berbisik.
“Asal kamu senang, semua itu bisa diatur dan dibicarakan nanti,” ucap Lean tanpa menoleh.
Pria itu terlalu fokus dengan jalanan di depannya. Dalam hati dia tidak habis berpikir bagaimana bisa orang-orang di sana bertahan hidup dengan keadaan seperti itu?
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang. Kamu semakin manis jika seperti ini,” canda Caitlyn tetapi sungguh Lean tidak ingin bercanda kali ini.
Mereka terus melangkah ditemani sapaan beberapa orang tua maupun anak muda yang mengenali Caitlyn. Wanita hamil itu pun menyempatkan diri untuk menyapa balik tetapi Lean tidak mau berhenti barang sejenak pun.
“Lewat sini, Sayang!” tunjuk Caitlyn karena Lean belum pernah ke sana dan dia tidak tahu dengan medan di sana.
Lean mengikut dan tidak mau menghentikan langkahnya. Dia tidak ingin memberikan ruang bagi sang istri untuk bertegur sapa dengan lebih banyak orang lagi. Dia terus saja melangkah hingga mereka tiba juga di rumah kecil milik ayah angkat Caitlyn yang sudah tak lagi ada.
Sampai di sana, Rendi sudah menunggu mereka karena sebelumnya Caitlyn sendiri sudah mengabari jika mereka akan ke sana. Dia tidak ingin Lean tiba dengan keadaan rumah yang kotor. Meskipun Caitlyn tahu jika Lean tetap saja tidak akan nyaman melihat kondisi rumahnya, tetapi dia ingin agar setidaknya terlihat bersih dan rapi.
“Hai, Kak,” sapa Caitlyn saat melihat Rendi yang berdiri di depan pintu.
“Hai, Ly. Kayaknya bahagia sekali pagi ini?” Rendi balas menyapa. Pria itu melangkah keluar dan bersalaman dengan Lean.
“Bahagia dong, Kak. Bisa menginjakan kaki di rumah ini lagi ... aku sudah sangat bahagia,” balas Caitlyn.
Wanita itu melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya menatap seisi rumah kecil itu dengan perasaan rindu. Tiba-tiba saja dia menangis karena tidak ada yang berubah sejak tiga tahun lalu. Rumah itu masih tetap sama. Sofa usang yang sudah sobek, dinding-dinding yang kotor, cat yang mulai pudar dan terkelupas, meja dari kayu yang mulai rapuh dimakan rayap.
Ah, Caitlyn terlalu rindu suasana ini. Dia memandang sudut sofa tua di sana. Setiap malam dia akan duduk di sana. Belajar sambil menunggu ayahnya pulang berjualan dan membawakan sekotak martabak manis untuknya. Di sofa itu pula, Caitlyn bahkan sering tertidur di sana dan ayahnya akan membawa dia masuk ke kamar.
Lean yang tadinya enggan masuk dan hanya berdiri di luar saja, tiba-tiba menerobos masuk kala dia dan juga Rendi mendengar isakan kecil dari dalam sana.
“Sayang, ada apa? Kenapa menangis? Ada yang sakit?” Lean tampak panik sekali.
Istrinya itu menggeleng. “Aku kangen sama ayah.”
Lean memeluk dan menenangkannya. Butuh beberapa menit barulah wanita hamil itu merasa tenang. Pengawal pun sigap memberikan aqua karena Lean sudah mengantisipasi ini sebelumnya. Oh, siaga sekali dia sekarang. Lean merasa lega karena istrinya tidak lagi bersedih.
Kini giliran Rendi yang merasa tidak enak hati karena Lean jelas-jelas menolak untuk sekedar duduk dan bercerita. Laki-laki itu benar-benar tidak nyaman berekspresi di tempat sempit dan kotor itu.
Jadi dulu istriku tinggal di tempat seperti ini?
“Ren,” panggil Lean.
“Iya, Tuan?” sahut Rendi cepat.
“Kau serius tidak ingin pindah dari sini?” tanya Lean sambil mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
“Tidak sama sekali, Tuan!” jawab Rendi tegas.
Lean mengangguk. “Kalau direnov, mau gak?” Lagi pria tampan itu bertanya sekaligus menawari.
Rendi masih tampak berpikir, tetapi tidak lama kemudian dia pun menjawab dengan mantap.
“Mau saja, Tuan. Tapi tidak untuk sekarang, biar nanti saja. Untuk saat ini saya malah ingin menikmati suasana yang membuat saya teringat akan ayah. Suasana kumuh inilah yang menghadirkan sosok ayah bagi saya.” Jawaban yang membuat Lean tidak dapat berkata-kata lagi.
Sebenarnya saya juga mempertahankan ini agar harapan tuan besar bisa suatu hari terwujud. Mudah-mudahan hari itu akan segera tiba.
Batin Rendi. Ya, selain alasan di atas, dia pun mempunyai alasan lain untuk itu. Tidak lama setelah itu, beberapa pengawal membawakan kotak makan dan cake yang dibuatkan istrinya untuk Rendi.
Selain itu juga ada beberapa bahan makanan dan keperluan Rendi yang lainnya.
“Kenapa repot-repot segala, Tuan?” Rendi jadi merasa semakin tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Kak. Itu bukan suamiku yang menyiapkannya tapi aku sendiri. Dimakan sampai habis, yah. Jangan dibuang! Dan keperluan yang lain juga harus diterima!” ancam Caitlyn dengan candaan.
Kenapa dulu aku membenci gadis sebaik dia? Pantas saja ayah begitu menyayanginya ....
“Kak,” tegur Caitlyn melihat Rendi yang melamun.
“Ah, iya. Pasti saya terima dan akan saya habiskan dengan senang hati, Nona muda Sanjaya.” Rendi mengikuti Caitlyn yang bercanda.
“Kak Ren ....” rengek Caitlyn yang tidak suka dipanggil demikian.
Rendi dan Lean jadi tertawa bersama melihat sikap Caitlyn yang demikian. Tidak lama setelah itu, pasangan suami-istri itu pun kembali pulang karena Lean yang tidak lagi nyaman.
Rendi ikut mengantarkan mereka sampai di mobil. Setelah kepergian pasangan itu, Rendi kembali lagi ke rumah dengan perasaan bahagia. Namun, kebahagiaan itu seketika lenyap kala dia memasuki rumah dan ternyata seseorang sudah ada di dalam sana, menanti dirinya.
“Halo, Rendi ....”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1