
Lean begitu geram mendengar yang dikatakan oleh istrinya. Cecilia ternyata lebih kejam dan tidak berhati dari Sania–ibunya. Caitlyn lalu menceritakan semua yang terjadi pada hari itu tanpa ditutupi lagi.
Pikirnya, mungkin sudah saatnya keluarganya tahu akan hal ini. Sepandai-pandainya dia menutupi, suatu hari akan terbongkar juga. Persis seperti yang terjadi hari ini. Dia yang selalu berusaha tidak ingin mengingat dan mengungkit hal itu, akhirnya ketahuan juga oleh dokter.
“Jadi karena itu dia lari ke luar negeri selain kasus skandal waktu itu?” tanya Lean dan lagi-lagi Caitlyn mengangguk.
“Benar, Al. Kasus skandal saat itu terjadi sehari sebelum dia mencelakai aku,” aku Caitlyn.
Lean membuang napasnya kasar. Pria tampan itu sudah tidak dapat menahan agar pagi segera tiba dan dia bisa memberi hukuman pada Cecilia.
“Al,” panggil Caitlyn begitu pelan.
Lean yang tengah kacau karena ketidaksabaran dan rasa marah yang tertahan, membuatnya berulang kali membuang napas dengan begitu kasar.
“Ya?” sahutnya dengan sedikit desa*han kesal. Bukan kesal terhadap istrinya, tetapi kesal pada dirinya yang tidak pernah bisa menjaga Caitlyn dengan baik.
“Lagi mikirin apa, hm? Sudahlah, lupakan semua itu. Menyesal juga gada gunanya, gak bisa balikin bayiku dulu, ‘kan?” ucap Caitlyn yang memahami perasaan Lean kala itu.
Mendengar itu Lean yang sedari tadi menundukkan kepalanya, seketika menoleh pada Caitlyn dan langsung merengkuh wanita itu.
“Maafkan aku. Ini semua salahku, maafkan aku,” ucap Lean begitu pelan bahkan hampir tak terdengar.
Caitlyn membalas pelukan suaminya itu saat dirasakannya pelukan Lean semakin mengerat. Sedetik kemudian pundak wanita itu terasa basah.
“Al, kamu menangis?” tanya Caitlyn tetapi tidak ada jawaban. Dia mengelus lembut punggung lebar Lean yang tampak sedikit bergetar. “Aku bilang lupakan, Al. Tidak ada yang perlu disesali. Sekarang kita diberi kepercayaan lagi, dan tugas kita hanya fokus jagain calon bayi ini. Okay?” Beberapa tepukan lembut dia berikan di pundak suaminya.
Lean cepat-cepat melepaskan pelukannya, lalu menunduk menurunkan wajahnya sejajar dengan perut Caitlyn. Tangannya bergerak kilat menyibak selimut dan mengangkat sedikit baju pasien yang dikenakan Caitlyn, hingga menampakkan perut putih dan mulus yang mulai tampak sedikit menonjol.
Dikecupnya bagian itu berulang kali dengan penuh sayang. Setelah puas, dia lalu menegakkan punggung kembali dan kini mencium seluruh wajah Caitlyn sama seperti mencium perutnya tadi.
__ADS_1
Dia lalu meraih kedua tangan Caitlyn dan menggenggam dengan erat, membawanya menempelkan ke bibirnya dan dikecup dengan mata terpejam.
“Aku berjanji tidak akan ada lagi hal buruk atau kesakitan yang akan kamu rasakan. Aku akan membayar tiga tahun yang penuh luka itu dengan kebahagiaan. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kalian dari segala bahaya apapun. Aku janji, Caitlyn. Aku janji,” ucapnya dengan masih mencium tangan istrinya.
Wanita itu tersenyum. “Aku tahu, Al. Tanpa kamu janjikan pun aku tau kamu akan selalu jagain aku dan calon anak kita.” Menarik satu tangannya dari genggaman Lean, lalu mengusap kepala pria itu dengan sayang.
“Makasih, Sayang. Makasih udah mau maafin aku, udah mau terima aku lagi. Makasih, Cait.” Mengangkat wajahnya dan memberi kecupan kecil di bibir Caitlyn. “Sekarang tidur, yah. Udah mau pagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Lean pun langsung merebahkan tubuh Caitlyn, kemudian dia pun menyusul dan berbaring di samping istrinya. Tidak lupa dia menyelimuti tubuh sang istri dan memberinya kecupan selamat tidur.
Beberapa menit berlalu, Lean pikir istrinya telah tertidur, nyatanya dia masih mendengar panggilan lembut dari bibir tipis itu lagi.
“Al,” panggil Caitlyn lagi.
“Hm?” Matanya sudah tertutup sambil memeluk tubuh sang istri.
Jemari Lean menempel di bibirnya, membuat Caitlyn berhenti bicara. Mata pria itu kembali terbuka dan memandangi sang istri dengan tatapan teduh.
“Kamu gak salah, Sayang. Semuanya memang salahku, aku yang salah di sini, okay?” Tidak suka dengan ucapan istrinya.
Caitlyn bergerak menyingkirkan jari Lean dari mulutnya. “Gak, Al. Aku yang salah karena maksa buat nikah sama kamu. Aku yang salah karena sudah ngejebak kamu waktu itu. Aku–”
Dengan gerakan lembut Lean membungkam mulut Caitlyn menggunakan bibirnya, mema*gut dan memberikan lu*matan kecil di sana.
“Maka aku bersyukur karena dijebak sama kamu, bukan wanita lain. Aku berterima kasih karena kamu mau mengikuti permainan Sania dan memaksaku untuk menikah. Jika bukan kamu wanita itu, aku tidak akan sebahagia sekarang.” Lean menatap tulus ke dalam manik indah milik Caitlyn, menenggelamkan semua rasa cinta yang dia miliki untuk wanita itu. “Terima kasih sudah menjebakku, Sayang.” Lean berbisik penuh cinta sembari tersenyum dan melanjutkan ciuman mereka.
Caitlyn tersenyum disela-sela ciuman mereka saat itu. Entahlah, bumil cantik itu berpikir mungkin suaminya mulai kehilangan akal, tetapi tetap saja dia bahagia dengan semua yang Lean lakukan sekarang.
Sepanjang hidup baru pernah aku temui orang yang malah berterima kasih karena sudah dijebak. Ah, dia memang berbeda. 1 dari 1000 pria unik yang pernah aku kenal. Dia suamiku, Aleandro Vernon Sanjaya, dan aku mencintainya.
__ADS_1
Waktu kini menujukkan pukul 04.30 pagi. Lean baru menyusul untuk tidur setelah memastikan Caitlyn benar-benar sudah terlelap.
...***...
Pagi harinya di kediaman Sanjaya, Hadya sudah lebih dulu bangun dan memberi tugas bagi para pelayan untuk menyiapkan makanan kesukaan menantunya, serta menyiapkan beberapa hidangan lainnya karena dia yakin keluarga Vargas akan ikut berkunjung ke sana.
“Hady.” Terdengar suara parau dan sedikit bergetar memanggil dari arah belakang.
“Iya, Bu? Ibu butuh sesuatu?” tanya Hadya lalu mendekat pada kursi roda milik sang ibu.
“Di mana Lean dan Caitlyn? Kau menyembunyikan sesuatu dari ibu, ‘kan? Ibu tahu mereka tidak pulang semalam, dan kau sendiri pergi entah ke mana? Jawab pertanyaan ibu, Hady!” seru Nenek Sanju.
“Ah, ibu tenanglah. Sebentar lagi Lean dan Caitlyn sudah pulang, Bu. Mereka–”
“Kau mau membohongi ibu lagi? Kualat kau nanti, Hady,” ucap Nenek Sanju membuat Hadya tertawa paksa.
“Semalam Caitlyn pingsan di tempat acara itu, Bu. Lean membawanya ke rumah sakit dan mereka nginap di sana. Pagi ini sudah pulang kok, Bu. Jadi, ibu tidak perlu khawatir. Ada Lean yang menjaganya,” jelas Hadya dengan senyum.
“Ya, ampun, cucuku. Kenapa masalah selalu datang padanya? Bagaimana dengan calon cicit ibu, Hady? Apa mereka berdua baik-baik saja?” Nenek Sanju memberondong anaknya dengan sederet tanya.
Hadya terkekeh kecil membuat ibunya menjadi marah. “Ada apa kau ini, Hady? Itu menantu dan calon cucumu kena masalah, kau malah terlihat senang di sini. Apa kau mulai tidak waras, hah?” omel wanita lansia itu.
“Tenang, Bu. Caitlyn dan bayinya tidak kenapa-kenapa. Lean menjaga mereka berdua dengan sangat baik, Ibu. Cucu mantu ibu itu hanya sedikit syok makanya pingsan. Setelah ini Hadya mau jemput mereka ke rumah sakit, ibu siap-siap saja karena ada kejutan besar untuk ibu. Hadya jamin ibu pasti bahagia,” ucap pria itu lalu mengantarkan kembali ibunya ke kamar, setelah sebelumnya meminta pelayan untuk mengatakan sarapan sang ibu.
“Kalau begitu pergi sekarang saja, Hady. Ibu tidak sabar melihat mereka kembali dan kejutan apa yang kalian buat. Cepatlah!”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1